• Selasa, 16 Agustus 2022

Merawat dan Meruwat Alun-Alun Kota Sukabumi

- Kamis, 13 Januari 2022 | 13:20 WIB
Kang Warsa - Penulis
Kang Warsa - Penulis

Selain penggunaan frasa Leubuh Ageung, Bujangga Manik juga menggunakan kata lain untuk menyebutkan tempat luas di areal terdekat dengan istana kerajaan yaitu Walang Sangha dan Buruan. Penggunaan kata yang berbeda dalam menyebutkan tempat luas oleh Bujangga Manik disertai pemaparan dan penyebutan posisi, letak, dan hal yang ada di sekitar tempat tersebut. Ketika menggunakan frasa Leubuh Ageung, penutur pantun mengawalinya dengan keberadaan ornamen dan tempat lain seperti: umbul-umbul, pakancilan, tempat terluar istana, windu cinta, pancawara atau areal transaksi seperti pasar, baru kemudian sampai di Leubuh Ageung tempat terluas di luar Istana.

Penggunaan frasa Walang Sangha diawali dengan menyebutkan tempat-tempat seperti: tempat pemakaman keluarga dan aula istana. Hal ini menyiratkan Walang Sangha merupakan tempat luas  setelah bagian pintu istana kerajaan yang berdekatan dengan tempat pemakaman keluarga kerajaan. Secara letterlijk, Walang Sangha memiliki arti, tempat paling depat sebuah istana yang biasa digunakaan penyelenggaraan sangha-an, dalam term Kasundaan disebut pasamoan atau perkumpulan orang-orang dari berbagai latar belakang.

Pemakaian kata Buruan digunakan oleh Bujangga Manik ketika dia memasuki istana Majapahit. Buruan merupakan tempat luas di bagian depan istana. Pada perkembangan berikutnya, buruan digunakan oleh masyarakat Sunda untuk menyebut halaman rumah, tempat luas tanpa bangunan di depan tempat tinggal mereka. Penutur modern di Tatar Sunda sudah mulai jarang menggunakan kata buruan kecuali di perkampungan, hal ini disebabkan oleh banyak hunian urban yang tidak dilengkapi oleh halaman rumah atau buruan tempat anak-anak bermain.

Setiap kerajaan dari berbagai peradaban melengkapi istana kerajaan dan areal terdekat darinya dengan ornamen dan tempat-tempat penting seperti halaman atau buruan yang luas untuk menciptakan marwah dan aura kekuasaan. Di era aristokrasi Eropa, halaman-halaman luas istana dan kastil ditanami  rerumputan, dirawat dan diurus sedemikian rupa, jangan sampai diinjak oleh kaki masyarakat dari kalangan papa dan jelata. Selain memunculkan marwah kekuasaan dan stratifikasi sosial juga menciptakan kemegahan dan kemewahan aristokrasi. Para aristokrat dan bangsawan Eropa karena berkelindan dengan penguasaa saat itu membuat konsensus, untuk masyarakat papa dan jelata disiapkan tempat luas (square), ruang publik yang selalu padat pengunjung.

Merawat dan Meruwat Alun-Alun

Konsep alun-alun modern tentu tidak memerhatikan apa yang terjadi di Eropa abad pertengahan hingga era revolusi industri. Tidak juga memerhatikan pertautan organik masa kini dengan kerajaan-kerajaan induk satu wilayah. Pembangunan, pengelolaan, dan perawatan alun-alun modern dilakukan sebagai sarat penting eksistensi sebuah kota, ketersediaan ruang publik memadai dan dapat dijadikan pertemuan oleh masyarakat. Konsensus yang terjadi di dalam ruang publik ini adalah kesepakatan bersama untuk merawatnya dengan penuh kesadaran.

Tanpa kesadaran dari semua pihak dalam merawat ruang-ruang publik yang tersedia, sebagus dan seindah apapun sebuah tempat tidak akan bertahan lama. Harus diakui, salah satu mental kurang baik yang dimiliki oleh penduduk di negara dunia ketiga yaitu sikap egosentris. Vandalisme terjadi di ruang-ruang publik karena mereka memiliki anggapan itu hanyalah tempat umum. Toilet umum tidak terawat, pohon sepanjang trotoar dijadikan tempat menempelkan spanduk, dan taman pembatas jalan hingga bundaran masih semena-mena dijadikan tempat memasang bendera partai politik, kesemuanya merupakan contoh sikap egosentris yang sulit dihilangkan. Bandingkan jika mobil atau sepeda motor milik sendiri tergores tanpa sengaja oleh orang lain,  sudah dipastikan pemilik kendaraan akan marah besar karena merasa properti pribadinya telah dirusak oleh pihak lain. Begitulah seharusnya setiap orang memperlakukan fasilitas umum seperti halnya memperlakukan properti pribadi.

Keberadaan ruang publik seperti alun-alun telah termanifestasi sejak wilayah ini masih berbentuk kerajaan. Seperti dalam naskah Bujangga Manik, tempat luas dengan varian nama ini menjadi ruang pertemuan, tempat bersenda gurau,  dan tempat persamuan rakyat dengan pihak kerajaan. Sebagai ruang publik yang terikat erat oleh akar historis masa lalu,  manusia modern sudah seharusnya tidak perlu lagi diarahkan atau diberi peringatan bagaimana seharusnya mereka memperlakukan ruang-ruang publik.

Sehari setelah Lapang Merdeka dan Alun-Alun Kota Sukabumi diresmikan, warganet beramai-ramai mengunggah potret sampah berserakan, video anak-anak berenang di kolam Mesjid Agung, dan penggunaan lintasan lari oleh seorang pesepeda. Beberapa media memberi judul hiperbolik menggunakan pilihan kata seperti: Wali Kota Sukabumi Geram Terhadap Perilaku Masyarakat. Sudah tentu pengambilan judul ini sekadar untuk menarik perhatian pembaca karena Wali Kota Sukabumi, H. Achmad Fahmi hanya mengimbau melalui akun media sosial agar masyarakat menghindari perilaku tidak beradab dalam memperlakukan ruang publik yang baru saja ditata.

Selama beberapa bulan ke depan, warga Sukabumi akan tetap larut dalam kebahagiaan. Meskipun banyak disuarakan, sikap ini sebagai sebuah euforia, sebenarnya tidak tepat disebut euforia kondisi mental melangit hingga lupa daratan, namun kebahagiaan sebenarnya disebabkan oleh rasa bebas berekspresi di ruang publik setelah hampir dua tahun ini kita dihinggapi rasa was-was untuk berkerumun akibat pandemi.

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Pertumbuhan Negeri Khayal dan Ilusi Deflator

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 13:30 WIB

Tambang Kehancuran

Jumat, 11 Februari 2022 | 07:00 WIB

BRI Kendari Kucurkan KUR Usaha Ikan Asap

Rabu, 9 Februari 2022 | 18:15 WIB

Siapa Pasangan Ideal Anies?

Rabu, 9 Februari 2022 | 10:30 WIB

Dari Demokrasi Elite ke Demokrasi Akar Rumput

Senin, 7 Februari 2022 | 17:35 WIB

Berebut Anies Baswedan

Kamis, 3 Februari 2022 | 11:10 WIB

Terlempar Dari PBNU, Akankah Suara PKB Gembos?

Rabu, 2 Februari 2022 | 09:30 WIB

Anies Menguat, Semua Merapat

Senin, 31 Januari 2022 | 21:00 WIB

Indonesia Akan Dikepung Relawan Anies

Kamis, 27 Januari 2022 | 13:10 WIB

Mampukah PKS Menjadi Partai Papan Atas?

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:05 WIB

Spiderman dan Lapang Merdeka Kota Sukabumi

Senin, 24 Januari 2022 | 13:45 WIB

Gravitasi Versus Gratifikasi

Senin, 24 Januari 2022 | 10:15 WIB

Manuver Cawapres Tak Kalah Gesit Dengan Capres

Selasa, 18 Januari 2022 | 09:15 WIB
X