• Selasa, 5 Juli 2022

Spiderman dan Lapang Merdeka Kota Sukabumi

- Senin, 24 Januari 2022 | 13:45 WIB
Lapang Merdeka Kota Sukabumi, sumber gambar: Dokumentasi dan Pimpinan Setda Kota Sukabumi
Lapang Merdeka Kota Sukabumi, sumber gambar: Dokumentasi dan Pimpinan Setda Kota Sukabumi

Kang Warsa

Gemar Baca Tulis

Film-film bergenre fiksi ilmiah telah menjadi tontonan menarik  berbagai kalangan, apalagi jika di dalamnya memuat  pergolakan dan pertempuran antara para superhero  pelaku kebaikan dengan tokoh-tokoh protagonis kemudian dilengkapi dengan kemunculan piranti-piranti canggih. Bagaimanapun, film tetap film, hasil imajinasi dan kreasi manusia, pemindahan alam realita ke dunia ide atau sebaliknya pemindahan alam ide ke dunia mayapada. Kendati demikian, tidak sedikit kehadiran film bergenre fiksi ilmiah telah mendorong manusia untuk mewujudkan piranti-piranti canggih agar benar-benar mejadi barang yang dapat dipakai oleh manusia di alam marcapada, dunia realita. 

Jauh sebelum gawai-gawai canggih, misalnya ponsel cerdas digunakan oleh manusia, ide tentang kehadiran gawai-gawai canggih ini telah muncul dalam film bergenre fiksi ilmiah empat hingga dua dekade lalu. Dalam film kartun Flash Gordon ditampilkan komputer maha canggih milik Kaisar Ming, selain dapat dikendalikan dari jarak jauh juga merupakan komputer cerdas dengan layar sentuh. Senjata-senjata yang digunakan oleh tokoh-tokoh dalam film ini juga merupakan laser-laser canggih seolah penggunanya tidak perlu susah payah melakukan pengisian ulang. 

Film-film superhero bergenre fiksi ilmiah mulai dipindahruangkan dari kartun ke dalam film-film dengan tokoh dan karakter manusia sejalan dengan perkembangan di bidang infotech. Enam sampai empat dekade lalu, manusia hanya dapat menyaksikan aksi heroik para superhero dengan membaca komik atau film kartun seperti dijelaskan sebelumnya. 

Sekarang, adegan para pemberani ini dapat kita saksikan di bioskop hingga ponsel-ponsel cerdas dalam genggaman. Seolah menjadi hal yang tampak nyata. Kehadiran para superhero benar-benar seperti dekat dengan diri kita. Hormon Dopamin dalam diri  manusia meningkat ketika menyaksikan aksi para superhero, dalam diri kita juga muncul keinginan mencontoh mereka memberantas kejahatan, meminimalisasi teror para pelaku makar. Kenapa demikian? Karena film-film ini dibuat selaras dengan cita-cita ideal manusia, menginginkan kemapanan, kerapihan, kebaikan, dan keselaran mewujud di dalam kehidupan nyata. 

Mewujudkan aksi para superhero di dalam film ke dunia nyata secara gamblang memang  tidak semudah imajinasi kita. Bagaimana mengimitasi kehebatan seorang Spiderman menciptakan jaring perekat agar kita dapat berayun-ayun  di antara kerapatan gedung-gedung beton. Hal nyata yang terjadi justru, kehebatan Spiderman itulah yang telah mencontoh sistem kerja laba-laba dalam membuat sarang dan memproduksi jaring melalui spinneret pada bagian tubuh belakang satwa dari kelas Arachnida ini. 

Dalam film Spiderman muncul satu konklusi, pemaduan antara manusia dengan laba-laba telah melahirkan sosok baru, mahluk  kuat namun baik yang selalu menjaring para pelaku kejahatan dengan caranya sendiri. Spiderman tidak memerlukan alasan penangkapan para pelaku kejahatan harus dilengkapi oleh surat perintah dari atasan, dilengkapi oleh seperangkat aturan dalam bentuk undang-undang atau peraturan lainnya karena naluri kebaikan setiap manusia dapat dengan jernih menjadi pemindai bahwa kejahatan harus dihentikan. 

Itulah alasan, sikap para superhero akan sulit diwujudkan dalam kehidupan nyata yang dipenuhi oleh beragam kesepakatan. Adakalanya, seperti pernah saya contohkan dalam artikel Menyoal Jejak Langkah Manusia yang dimuat oleh media ini, di dalam kehidupan nyata, justru para buto glundung pelaku onarlah yang selalu tampil sebagai pemenang dan mengalahkan para superhero pelaku kebaikan. 

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Tambang Kehancuran

Jumat, 11 Februari 2022 | 07:00 WIB

BRI Kendari Kucurkan KUR Usaha Ikan Asap

Rabu, 9 Februari 2022 | 18:15 WIB

Siapa Pasangan Ideal Anies?

Rabu, 9 Februari 2022 | 10:30 WIB

Dari Demokrasi Elite ke Demokrasi Akar Rumput

Senin, 7 Februari 2022 | 17:35 WIB

Berebut Anies Baswedan

Kamis, 3 Februari 2022 | 11:10 WIB

Terlempar Dari PBNU, Akankah Suara PKB Gembos?

Rabu, 2 Februari 2022 | 09:30 WIB

Anies Menguat, Semua Merapat

Senin, 31 Januari 2022 | 21:00 WIB

Indonesia Akan Dikepung Relawan Anies

Kamis, 27 Januari 2022 | 13:10 WIB

Mampukah PKS Menjadi Partai Papan Atas?

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:05 WIB

Spiderman dan Lapang Merdeka Kota Sukabumi

Senin, 24 Januari 2022 | 13:45 WIB

Gravitasi Versus Gratifikasi

Senin, 24 Januari 2022 | 10:15 WIB

Manuver Cawapres Tak Kalah Gesit Dengan Capres

Selasa, 18 Januari 2022 | 09:15 WIB

Prabowo Gagal Nyapres, Gerindra Nyungsep

Senin, 17 Januari 2022 | 10:15 WIB

Penyesuaian Tarif KRL Jabodetabek Untuk Keadilan

Minggu, 16 Januari 2022 | 19:50 WIB

Terima Kasih Presiden Jokowi

Sabtu, 15 Januari 2022 | 10:00 WIB

Merawat dan Meruwat Alun-Alun Kota Sukabumi

Kamis, 13 Januari 2022 | 13:20 WIB

Sasaran PSI Bukan Anies, Tapi Konstituen PDIP

Senin, 10 Januari 2022 | 11:30 WIB

Anies Paling Berpeluang Jadi Presiden 2024-2029

Sabtu, 8 Januari 2022 | 10:00 WIB
X