• Selasa, 16 Agustus 2022

Spiderman dan Lapang Merdeka Kota Sukabumi

- Senin, 24 Januari 2022 | 13:45 WIB
Lapangan Merdeka Sukabumi (Dokumentasi Pimpinan Kota Sukabumi)
Lapangan Merdeka Sukabumi (Dokumentasi Pimpinan Kota Sukabumi)

Kedua, setiap manusia sejak anak-anak membutuhkan kehadiran pelindung yang dapat menjaga dan merawat mereka. Ketiga, kepekaan seorang anak mampu menafsirkan bahwa kehidupan telah banyak diwarnai oleh hal tidak ideal. Bahkan, bukankah sejak bayi, setiap manusia telah menangis merengek-rengek demi alasan –secara transendental– merasakan perpindahan dari alam lama ke alam baru yang dipenuhi oleh tanggung jawab dan beban lainnya? Keempat, kehadiran sosok pahlawan selalu dirindukan oleh setiap anak. 

Spiderman Sukabumi Memungut Sampah 

Memang sulit menghadirkan atau menirukan eksistensi Spiderman dengan kehebatan dan kemampuan membuat jaring melalui tangannya di dalam kehidupan nyata. Walakin, mengimitiasi dan mentransformasi perilaku manusia laba-laba dapat diejawantahkan di dunia realitas. 

Sosok Spiderman tiba-tiba muncul di Lapang Merdeka Kota Sukabumi, mengambil peran dan menjadi bagian di antara hiruk-pikuk pengunjung, menjadi daya tarik bagi anak-anak. Kehadirannya juga menjadi sorotan media-media di Sukabumi bukan karena Spiderman Sukabumi melakukan aksi berayun-ayun di antara gedung bertingkat atau bergelantungan pada dahan pohon. Sosok Spiderman ini mentransformasikan perilaku superhero dengan memungut sampah yang berserakan di sekitar Lapang Merdeka. 

Spiderman Sukabumi tidak memerlukan jaring dan tali yang kuat untuk memungut sampah-sampah, bahkan tidak memerlukan perintah dari pihak manapun. Lebih dari itu, ia tidak mengharapkan puja dan puji setelah memungut sampah dan ikut andil menyamankan lingkungan di sekitar Lapang Merdeka. Dia merupakan superhero dan pahlawan yang telah mengimplementasikan ungkapan seorang Descartes: To live well, we must live unseen. I masked, and I advanced (untuk mendapatkan hidup yang lebih baik, kita harus hidup dengan tidak menampakkan diri. Saya pergunakan topeng, dan –kesadaran- saya pun menjadi meningkat). 

Seorang superhero jarang memperlihatkan wujud aslinya, ia bekerja di balik topeng agar kebaikan tidak menjadi persona bagi diri yang sebenarnya melainkan melekat dengan pelindung dirinya. Sikap ini sudah dapat dipastikan telah jarang ditemui di dalam kehidupan kita. Bukankah –saat ini- kita lebih sering menyaksikan upaya memoles persona tanpa pelingsung diri?

Sudah lumrah kalimat seperti: Oh, ini kan dibuat oleh aku. Jika tidak ada aku, wah.. tahu sendiri! Tidak jarang kita dengar entah itu diucapkan oleh pelaku atau dikampanyekan oleh para epigonnya. Aku dalam diri konotasi negatif tidak lagi meresap ke dalam diri sendiri, melainkan memancar keluar dalam bentuk citra diri. Maka, aku yang diliputi oleh kamuflase ini hadir dalam spanduk, baligho, pamplet, dan videotron yang menyesakkan lingkungan.

Superhero justru menyembunyikan sosok Aku dalam pelindung diri dengan kostum Spiderman. Tanpa saya tulis dalam artikel atau dipublikasikan oleh teman-teman jurnalis juga berbuat baik seperti memungut sampah akan tetap dilakukannya. Berbuat baik dikerjakan secara sederhana, ringan, dan mengalir begitu saja. Beberapa tahun lalu, seorang teman memberikan resep berbuat baik dengan kalimat singkat: tidak perlu banyak bicara, lakukan saja. 

Ibu kita memberikan perhatian dan kasih sayang kepada anak-anaknya tidak diiringi dengan omelan apalagi dengan cemoohan terlebih dahulu. Manusia dengan derajat sebagai manusia biasa seperti kita kemungkinan besar cenderung mencemooh, mengomel, dan mencerca kondisi terlebih dahulu sebelum berbuat kebaikan dan menjadi sumber jalan keluar suatu masalah. Dapat kita bayangkan, apa yang akan terjadi ketika seorang perampok melancarkan aksinya, lantas seorang Spiderman hanya mampu menggerutu: dasar perampok keparat, perampok kejam, keji, tidak manusiawi, begundal, dan puih! Lantas baru melancarkan aksinya setelah jatuh korban. 

Spiderman tidak menilai dan menimbang berapa bobot berbuat baik, apakah bersikap baik dengan memungut sampah dapat meningkatkan elektabilitas, citra diri, dan dapat menguntngkan secara politis hingga meraup kelebihan finansial. Atau sebaliknya, memungut sampah di sekitar Lapang Merdeka justru tidak memiliki nilai jual bombastis, dan sulit meningkatkan citra diri. 

Halaman:

Editor: Admin

Tags

Terkini

Pertumbuhan Negeri Khayal dan Ilusi Deflator

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 13:30 WIB

Tambang Kehancuran

Jumat, 11 Februari 2022 | 07:00 WIB

BRI Kendari Kucurkan KUR Usaha Ikan Asap

Rabu, 9 Februari 2022 | 18:15 WIB

Siapa Pasangan Ideal Anies?

Rabu, 9 Februari 2022 | 10:30 WIB

Dari Demokrasi Elite ke Demokrasi Akar Rumput

Senin, 7 Februari 2022 | 17:35 WIB

Berebut Anies Baswedan

Kamis, 3 Februari 2022 | 11:10 WIB

Terlempar Dari PBNU, Akankah Suara PKB Gembos?

Rabu, 2 Februari 2022 | 09:30 WIB

Anies Menguat, Semua Merapat

Senin, 31 Januari 2022 | 21:00 WIB

Indonesia Akan Dikepung Relawan Anies

Kamis, 27 Januari 2022 | 13:10 WIB

Mampukah PKS Menjadi Partai Papan Atas?

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:05 WIB

Spiderman dan Lapang Merdeka Kota Sukabumi

Senin, 24 Januari 2022 | 13:45 WIB

Gravitasi Versus Gratifikasi

Senin, 24 Januari 2022 | 10:15 WIB

Manuver Cawapres Tak Kalah Gesit Dengan Capres

Selasa, 18 Januari 2022 | 09:15 WIB
X