• Minggu, 2 Oktober 2022

Mampukah PKS Menjadi Partai Papan Atas?

- Selasa, 25 Januari 2022 | 17:05 WIB
Partai Keadilan Sejahtera (PKS). (sl/Ist/Ilustrasi/net)
Partai Keadilan Sejahtera (PKS). (sl/Ist/Ilustrasi/net)

Elektabilitas PKS merangkak naik. Trend kenaikan ini bisa dilihat di beberapa survei. Wajar! PKS partai oposisi. Bahkan oposisi tunggal, mengingat Demokrat, partai di luar pemerintah, masih terlihat lebih akomodatif terhadap kebijakan pemerintah. Sebagai partai oposisi, PKS lebih leluasa menyuarakan aspirasi rakyat.

Banyaknya benturan antara pemerintah dengan rakyat memberi ruang kepada PKS untuk mengambil peran: berpihak kepada rakyat.

Berbeda dengan tujuh partai koalisi, PKS mendapat banyak panggung untuk bersuara dan mengkritisi pemerintah. Dan ini hampir tak dilakukan oleh partai koalisi.

Seperti sudah watak PKS: selalu kritis terhadap kebijakan penguasa yang dianggap tidak aspiratif. Ini juga diperankan oleh PKS saat berada di dalam koalisi SBY. Sehingga ada yang bilang: PKS partai koalisi, tapi rasa opisisi.

Begitulah yang benar! Partai, terutama para anggota DPR-nya, meskipun berada dalam koalisi, tak boleh asal setuju dengan pemerintah. DPR bukan "paduan suara" seperti dalam lirik lagu Iwan Fals. DPR punya fungsi salah satunya untuk mengontrol kebijakan dan kinerja pemerintah. DPR dibayar diantaranya untuk itu. Inilah yang nampaknya dalam sejumlah kasus diperankan secara konsisten oleh PKS. Baik PKS saat di dalam koalisi, maupun sedang menjadi oposisi.

Memang, sikap kritis dan oposisional PKS sering kalah gaung dengan "stigma Islam kanan" yang terus disuarakan oleh pihak-pihak tertentu yang menganggap PKS sebagai ancaman untuk kepentingan politik mereka. Terutama saat pemilu. Sebagian karena faktor ketakutan yang tidak pernah jelas alasannya. Namanya juga stigma. Sebuah upaya untuk saling menjatuhkan dalam berebut konstituen. Begitulah tradisi yang hidup dalam dunia politik. Seringkali tidak rasional. 

Setiap pemilu hampir selalu muncul isu Wahabi. Ini sengaja terus dimunculkan agar sentimen anti Wahabi mampu menghadang laju PKS. Ini tantangan tersendiri buat PKS. 

Nampak PKS terus melawan stigma itu dengan berbagai strategi. Hampir semua tradisi keagamaan NU, organisasi terbesar di negeri ini, dijalankan oleh PKS. Secara ritual, boleh dibilang sudah sangat tipis perbedaan antara PKS dengan NU. 

Beberapa pekan lalu, Presiden PKS pun ikut membuat video lagu Sunda dengan pakaian khas budaya sunda. Ini bagian dari upaya PKS membangun "image Nusantara" dan masuk ke semua lapisan masyarakat.

Upaya menjadi partai paling depan dalam menyuarakan aspirasi rakyat dan hadir lebih kental dalam budaya nusantara, jika dilakukan secara konsisten dan masif, ini dapat membuka peluang PKS kedepan sebagai partai papan atas dengan perolehan suara di atas 10 persen. 

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Lukas Enembe Mangkir, Meski Diperiksa Di Papua

Rabu, 21 September 2022 | 07:00 WIB

Kenaikan Harga BBM, Kebijakan Blunder Nan Fatal

Minggu, 18 September 2022 | 22:00 WIB

Pilpres 2024, Presiden Harus Netral

Minggu, 18 September 2022 | 10:45 WIB

Bjorka Menjelang RUU PDP Disahkan

Sabtu, 17 September 2022 | 11:30 WIB

Pembebasan Bersyarat Melanggar Hukuman Bersyarat?

Jumat, 16 September 2022 | 08:50 WIB

Jokowi Semakin Lemah

Kamis, 15 September 2022 | 12:00 WIB

Gaji Pensiun Seumur Hidup Anggota DPR

Kamis, 15 September 2022 | 06:00 WIB

Tidak Hafal Pancasila, Ketua DPRD Lumajang Mundur

Rabu, 14 September 2022 | 06:00 WIB

Kebocoran Data, Apa Solusinya Pak Menteri?

Selasa, 13 September 2022 | 06:00 WIB

Kandidat 2024, Sekadar Etalase Figur

Senin, 12 September 2022 | 06:00 WIB

BBM Bersubsidi Naik, Apapun Alasannya, Rakyat Keberatan

Sabtu, 10 September 2022 | 10:00 WIB

Mbak Puan, Safari Politik atau Safari Kerakyatan, Nih?!

Sabtu, 10 September 2022 | 06:00 WIB

Tiga Langkah Jegal Anies

Jumat, 2 September 2022 | 15:30 WIB

Peluang Anies Jadi Capres

Jumat, 19 Agustus 2022 | 14:00 WIB
X