• Selasa, 5 Juli 2022

Anies Menguat, Semua Merapat

- Senin, 31 Januari 2022 | 21:00 WIB
Anies Baswedan/ Net
Anies Baswedan/ Net

Ada dua macam pendukung. Pertama, pendukung emosional. Publik mengenal dengan istilah "Die Hard". Mereka adalah para pendukung fanatik. Pokoknya suka dia, maka pilih si dia. Gak peduli orang mau ngomong apa.

Para pendukung ini cinta mati kepada calon. Sulit dibelokkan, dan kecil kemungkinan pindah ke lain hati.

Mungkin lihat performennya menarik, cara bicaranya lembut, apa adanya dan tidak banyak drama, tidak marah ketika dihujat dan dicaci maki, tetap santun setiap menerima kritikan, gak ada kesan sombong dan bersikap kasar, peduli dan membela wong cilik, terutama mereka yang tempat tinggalnya tergusur. Calon yang dianggap berbeda dari yang lain. 

Banyak faktor yang membuat para pemilih jatuh hati, lalu kekeh memilih calon itu. Pemilih Indonesia umumnya pemilih semacam ini, yaitu pemilih emosional. Kalau sudah "jatuh cinta", susah berpindah ke lain hati. 

Kedua, pemilih rasional. Jumlahnya kalah banyak dengan pemilih emosional. Meski sedikit, para pemilih rasional punya pengaruh besar. Sebab, ini kaum otak cerdas yang mengerti bagaimana bicara, menciptakan opini dan memengaruhi orang lain. 

Nah, kita bisa saksikan para penulis, wartawan dan kaum akademisi yang terus menerus menyuarakan Anies Baswedan for presiden di ruang publik. Mungkin hanya puluhan hingga ratusan jumlah orangnya, tapi kahadirannya luar biasa dalam memengaruhi para pemilih Indonesia yang emosional tersebut. Para pemilih rasional dan emosional bertemu di sini. 

Pemilih rasional ada dua. Pertama, pemilih yang idealis. Para pemilih idealis ini adalah orang-orang yang mau mikir. Selalu bertanya: calon ini bisa memimpin gak kalau nanti terpilih? Lalu mereka melihat track recordnya. Melihat apa prestasi si calon itu. Bagaimana hasil kerjanya yang terlihat dan dirasakan rakyat. Dalam konteks ini, Anies Baswedan secara umum memang punya keunggulan. Ini bagian dari modal tersendiri. 

Kedua, pemilih rasional yang pragmatis. Mereka hanya akan bergabung dengan calon yang diprediksi peluang menangnya lebih besar. 

Siapa mereka? Pimpinan partai dan pemilik modal. Bagi mereka, integritas dan kapasitas bukan yang utama. Yang terpenting itu adalah kemenangan.

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Tambang Kehancuran

Jumat, 11 Februari 2022 | 07:00 WIB

BRI Kendari Kucurkan KUR Usaha Ikan Asap

Rabu, 9 Februari 2022 | 18:15 WIB

Siapa Pasangan Ideal Anies?

Rabu, 9 Februari 2022 | 10:30 WIB

Dari Demokrasi Elite ke Demokrasi Akar Rumput

Senin, 7 Februari 2022 | 17:35 WIB

Berebut Anies Baswedan

Kamis, 3 Februari 2022 | 11:10 WIB

Terlempar Dari PBNU, Akankah Suara PKB Gembos?

Rabu, 2 Februari 2022 | 09:30 WIB

Anies Menguat, Semua Merapat

Senin, 31 Januari 2022 | 21:00 WIB

Indonesia Akan Dikepung Relawan Anies

Kamis, 27 Januari 2022 | 13:10 WIB

Mampukah PKS Menjadi Partai Papan Atas?

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:05 WIB

Spiderman dan Lapang Merdeka Kota Sukabumi

Senin, 24 Januari 2022 | 13:45 WIB

Gravitasi Versus Gratifikasi

Senin, 24 Januari 2022 | 10:15 WIB

Manuver Cawapres Tak Kalah Gesit Dengan Capres

Selasa, 18 Januari 2022 | 09:15 WIB

Prabowo Gagal Nyapres, Gerindra Nyungsep

Senin, 17 Januari 2022 | 10:15 WIB

Penyesuaian Tarif KRL Jabodetabek Untuk Keadilan

Minggu, 16 Januari 2022 | 19:50 WIB

Terima Kasih Presiden Jokowi

Sabtu, 15 Januari 2022 | 10:00 WIB

Merawat dan Meruwat Alun-Alun Kota Sukabumi

Kamis, 13 Januari 2022 | 13:20 WIB

Sasaran PSI Bukan Anies, Tapi Konstituen PDIP

Senin, 10 Januari 2022 | 11:30 WIB

Anies Paling Berpeluang Jadi Presiden 2024-2029

Sabtu, 8 Januari 2022 | 10:00 WIB
X