• Minggu, 2 Oktober 2022

Anies Menguat, Semua Merapat

- Senin, 31 Januari 2022 | 21:00 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Foto : gatra.com/Adi Wijaya
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Foto : gatra.com/Adi Wijaya

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Ada dua macam pendukung. Pertama, pendukung emosional. Publik mengenal dengan istilah "Die Hard". Mereka adalah para pendukung fanatik. Pokoknya suka dia, maka pilih si dia. Gak peduli orang mau ngomong apa.

Para pendukung ini cinta mati kepada calon. Sulit dibelokkan, dan kecil kemungkinan pindah ke lain hati.

Mungkin lihat performennya menarik, cara bicaranya lembut, apa adanya dan tidak banyak drama, tidak marah ketika dihujat dan dicaci maki, tetap santun setiap menerima kritikan, gak ada kesan sombong dan bersikap kasar, peduli dan membela wong cilik, terutama mereka yang tempat tinggalnya tergusur. Calon yang dianggap berbeda dari yang lain. 

Banyak faktor yang membuat para pemilih jatuh hati, lalu kekeh memilih calon itu. Pemilih Indonesia umumnya pemilih semacam ini, yaitu pemilih emosional. Kalau sudah "jatuh cinta", susah berpindah ke lain hati. 

Kedua, pemilih rasional. Jumlahnya kalah banyak dengan pemilih emosional. Meski sedikit, para pemilih rasional punya pengaruh besar. Sebab, ini kaum otak cerdas yang mengerti bagaimana bicara, menciptakan opini dan memengaruhi orang lain. 

Nah, kita bisa saksikan para penulis, wartawan dan kaum akademisi yang terus menerus menyuarakan Anies Baswedan for presiden di ruang publik. Mungkin hanya puluhan hingga ratusan jumlah orangnya, tapi kahadirannya luar biasa dalam memengaruhi para pemilih Indonesia yang emosional tersebut. Para pemilih rasional dan emosional bertemu di sini. 

Pemilih rasional ada dua. Pertama, pemilih yang idealis. Para pemilih idealis ini adalah orang-orang yang mau mikir. Selalu bertanya: calon ini bisa memimpin gak kalau nanti terpilih? Lalu mereka melihat track recordnya. Melihat apa prestasi si calon itu. Bagaimana hasil kerjanya yang terlihat dan dirasakan rakyat. Dalam konteks ini, Anies Baswedan secara umum memang punya keunggulan. Ini bagian dari modal tersendiri. 

Kedua, pemilih rasional yang pragmatis. Mereka hanya akan bergabung dengan calon yang diprediksi peluang menangnya lebih besar. 

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Lukas Enembe Mangkir, Meski Diperiksa Di Papua

Rabu, 21 September 2022 | 07:00 WIB

Kenaikan Harga BBM, Kebijakan Blunder Nan Fatal

Minggu, 18 September 2022 | 22:00 WIB

Pilpres 2024, Presiden Harus Netral

Minggu, 18 September 2022 | 10:45 WIB

Bjorka Menjelang RUU PDP Disahkan

Sabtu, 17 September 2022 | 11:30 WIB

Pembebasan Bersyarat Melanggar Hukuman Bersyarat?

Jumat, 16 September 2022 | 08:50 WIB

Jokowi Semakin Lemah

Kamis, 15 September 2022 | 12:00 WIB

Gaji Pensiun Seumur Hidup Anggota DPR

Kamis, 15 September 2022 | 06:00 WIB

Tidak Hafal Pancasila, Ketua DPRD Lumajang Mundur

Rabu, 14 September 2022 | 06:00 WIB

Kebocoran Data, Apa Solusinya Pak Menteri?

Selasa, 13 September 2022 | 06:00 WIB

Kandidat 2024, Sekadar Etalase Figur

Senin, 12 September 2022 | 06:00 WIB

BBM Bersubsidi Naik, Apapun Alasannya, Rakyat Keberatan

Sabtu, 10 September 2022 | 10:00 WIB

Mbak Puan, Safari Politik atau Safari Kerakyatan, Nih?!

Sabtu, 10 September 2022 | 06:00 WIB

Tiga Langkah Jegal Anies

Jumat, 2 September 2022 | 15:30 WIB

Peluang Anies Jadi Capres

Jumat, 19 Agustus 2022 | 14:00 WIB
X