• Selasa, 16 Agustus 2022

Dari Demokrasi Elite ke Demokrasi Akar Rumput

- Senin, 7 Februari 2022 | 17:35 WIB

Pascapengusiran pasukan Soviet, para relawan atau veteran Afganistan terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu ; Pertama, mereka yang menetap di Afganistan. Kedua, mereka yang berpindah ke negara-negara yang mereka pandang darul harb seperti Filipina. Dan ketiga, mereka yang pulang ke negara masing-masing, mengisi kajian-kajian keagamaan sebagai narasumber dan memberikan pemaparan bagaimana mereka berjuang melawan kekuatan komunis di Afganistan. Tidak sedikit dari kelompok ini menjadi tutor langsung bagi kelompok yang memandang Orde Baru dengan asas tunggalnya telah mengamputasi Islam .  

Kelahiran Demokrasi Akar Rumput 

Prediksi tentang kelahiran demokrasi akar rumput, rakyat diberikan akses secara penuh untuk menentukan pilihan, kemerdekaan berekspresi dan berpendapat, dan dapat dengan suka rela menyalurkan aspirasi politiknya telah dikemukakan oleh Deutch pada tahun 1960. Kelahiran demokrasi jenis ini merupakan satu keniscayaan, karena begitulah bandul bentuk dan sistem pemerintahan akan terus bergulir dan silih berganti. Ciri utama kelahiran demokrasi akar rumput disebabkan oleh antara lain; kejenuhan rakyat semesta terhadap sistem lama, kebencian massal terhadap praktik-praktik jahat penguasa dalam melakukan tindakan KKN, semakin bertambahnya kelompok menengah secara ekonomi, dan keinginan untuk menentukan arah dan cita-cita bangsa secara mandiri. 

Dua tahun sebelum Soeharto mengundurkan diri, jenis demokrasi ini mulai menunjukkan tunas-tunasnya. Diawali oleh krisis moneter dan desakan terhadap pemerintah untuk menuntaskan krisis moneter yang mengarah ke krisis multidimensi namun tidak pernah dapat dituntaskan juga telah memantik aksi massa sampai di daerah. Para penggagas demokrasi akar rumput yang sebelumnya sering dikategorikan sebagai para pembuat subversif mendapat angin segar menumbangkan demokrasi elite yang - bukan hanya telah renta - namun benar-benar telah keropos dari dalam. 

Tahun 1998 merupakan tonggak awal kelahiran demokrasi akar rumput. Sejarah mencatat era Orde Baru telah selesai dan digantikan oleh Era Reformasi. Pemilihan kata reformasi ini semula dilakukan dengan membandingkan reformasi yang terjadi di Eropa pada abad ke-15 menjelang renaissance. Tentu saja dua reformasi ini, antara apa yang terjadi di Eropa abad ke-15 dengan di Indonesia di penghujung abad ke-20 begitu berbeda, namun dipandang memiliki kemiripan dalam tataran praktis. Jika sebelum era reformasi seluruh bidang kehidupan rakyat benar-benar dikendalikan secara penuh oleh negara, era reformasi menawarkan janji-janji manis dan kebaikan. Tak pelak, lima tahun setelah reformasi keran kebebasan dan kemerdekaan berekspresi sangat nyata dan berubah menjadi euforia.  

Setiap persoalan bangsa yang mengalami jalan buntu dan tidak dapat lagi diselesaikan melalui saluran lembaga kenegaraan sering didesak oleh rakyat dengan turun langsung ke jalanan. Ekpresi primordialis lahir di beberapa wilayah dan telah menjadi catatan sejarah kelam di awal reformasi, perang entis yang berkembang menjadi pertikaian atas nama agama terjadi di Maluku dan Poso. Ketertiban terganggu, sejumlah peraturan sudah tidak lagi diindahkan sepenuhnya di kelompok akar rumput. Di antara kita mungkin masih mengingat dengan baik, bagaimana para pengendara sepeda motor dengan santai mengemudikan motor tanpa memakai helm dan berlalu-lalang di hadapan polisi lalu lintas. 

Partai politik menjamur dengan harapan kehadiran partai-partai ini dapat menjadi wadah aspirasi dan mampu mengembalikan kembali marwah demokrasi paling bersih seperti pada tahun 1955. Kehadiran berbagai partai politik ini tentu berbanding lurus dengan ideologi-ideologi yang dibawa dan dianutnya. Meskipun Gus Dur telah mencabut salah satu Ketetapan MPR tentang pelarangan Partai Komunis Indonesia, namun para pengusung ideologi marxis ini masih malu-malu untuk mengekspresikan diri melalui politik praktis. Kelompok ini lebih memilih meramaikan tragedi tahun 65-an sebagai bentuk pelanggaran HAM oleh Soeharto. Mereka juga secara telaten menerbitkan buku-buku bermuatan pandangan Karl Marx dan mengenalkan kembali ideologi komunis dalam kajian-kajian tertentu bertajuk kebudayaan. 

Begitu berbeda dengan kelompok komunis, kubu Islam justru menjadikan awal reformasi sebagai momentum untuk mendirikan dan menghidupkan kembali partai-partai bernuansa keislaman, dari mulai partai berbasis Islam Tradisional, Modern, hingga Islam Transnasional yang dipengaruhi oleh pandangan-pandangan Al-Banna, Quthb, dan Maududi. Kelompok lain seperti Hizbut Tahrir memilih tidak mendirikan partai politik karena mereka memandang sistem demokrasi sebagai penyimpangan dari ajaran yang mereka terima dari An-Nabhani. Kelompok ini tidak pernah melakukan kekerasan secara fisik, namun secara simultan terus- menerus mempropagandakan kebobrokan rezim, memandang umat Islam sering didzolimi , kemudian menawarkan konsep Khilafah yang mereka pandang sebagai penawar dan solusi kehidupan.  

Apa yang terjadi pada seperempat abad lalu memang harus dibayar dengan harga mahal oleh sebuah bangsa. Demokrasi akar rumput tidak selamanya menjadi baik jika rakyat belum memahami kiprah hakiki keberadaan mereka bagi suatu negara. Kita dapat dengan mudah menyaksikan, di era demokrasi akar rumput ini hampir setiap hari perbincangan tidak pernah lepas dari tajuk politik. Arah kebijakan negara hingga daerah dikendalikan oleh siapa pemegang kekuatan politis paling besar. Bayangkan, meskipun pemilu akan diselenggarakan tahun 2024, tidak sedikit kita menyaksikan tindakan-tindakan yang seharusnya diperlihatkan oleh para pemimpin di setiap daerah mencerminkan "Bapak Masyarakat", justru lebih didominasi oleh kepentingan kelompok dan populeritas diri . 

 

Halaman:

Editor: Admin

Terkini

Pertumbuhan Negeri Khayal dan Ilusi Deflator

Sabtu, 6 Agustus 2022 | 13:30 WIB

Tambang Kehancuran

Jumat, 11 Februari 2022 | 07:00 WIB

BRI Kendari Kucurkan KUR Usaha Ikan Asap

Rabu, 9 Februari 2022 | 18:15 WIB

Siapa Pasangan Ideal Anies?

Rabu, 9 Februari 2022 | 10:30 WIB

Dari Demokrasi Elite ke Demokrasi Akar Rumput

Senin, 7 Februari 2022 | 17:35 WIB

Berebut Anies Baswedan

Kamis, 3 Februari 2022 | 11:10 WIB

Terlempar Dari PBNU, Akankah Suara PKB Gembos?

Rabu, 2 Februari 2022 | 09:30 WIB

Anies Menguat, Semua Merapat

Senin, 31 Januari 2022 | 21:00 WIB

Indonesia Akan Dikepung Relawan Anies

Kamis, 27 Januari 2022 | 13:10 WIB

Mampukah PKS Menjadi Partai Papan Atas?

Selasa, 25 Januari 2022 | 17:05 WIB

Spiderman dan Lapang Merdeka Kota Sukabumi

Senin, 24 Januari 2022 | 13:45 WIB

Gravitasi Versus Gratifikasi

Senin, 24 Januari 2022 | 10:15 WIB

Manuver Cawapres Tak Kalah Gesit Dengan Capres

Selasa, 18 Januari 2022 | 09:15 WIB
X