Siapa yang Diharapkan Mampu Membawa Masa Depan Indonesia?

- Selasa, 9 Agustus 2022 | 12:00 WIB
Tony Rosyid
Tony Rosyid

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Pemimpin tidak hadir dengan sendirinya, tapi dihadirkan. Artinya, setiap pemimpin itu lahir dengan rekayasa. Ada pihak-pihak yang merekayasa untuk menyiapkan calon pemimpin itu.

Aktivis dan oligarki biasanya punya calon yang berbeda. Keduanya berkompetisi di dua kubu yang berseberangan. Aktivis calonkan tokoh idealis, sementara oligarki calonkan tokoh pragmatis. Biasanya, calon oligarki yang menang. Karena oligarki memiliki syarat (terutama) logistik untuk menang.

Kecuali jika terjadi kudeta. Kelompok idealis yang menang. Setelah itu, oligarki berkuasa lagi. Aktivis kalah pengalaman dan kalah logistik. Oligarki, dengan pengalaman, jaringan dan uangnya, seringkali berhasil membeli aktivis. Tidak sedikit aktivis yang melacurkan diri. Gak kuat miskin.

Banyak tokoh-tokoh besar di negeri ini yang dipandang mampu dan mumpuni untuk menjadi pemimpin. Tapi, mereka tidak memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin. Mengapa?

Pertama, mereka tidak populer dan elektabilitasnya rendah. Dalam sistem demokrasi, elektabilitas menjadi gerbang utama bagi seseorang untuk dicalonkan. Untuk mendapatkan elektabilitas tinggi, pinter dan bermoral tidak cukup. Malah, hal-hal sederhana seperti rajin jual senyum dan datang ke selokan itu efektif untuk menaikkan elektabilitas. Gak perlu pinter. Inilah demokrasi.

Kedua, faktor logistik. Siapa yqng punya duit bisa beli partai untuk nyapres. Banyak pengusaha menjadi ketua umum partai. Para pengusaha butuh partai, dan partai butuh pengusaha untuk menyiapkan dana operasional partai. Sebagian pengusaha turun langsung untuk memimpin partai, sebagian lainnya lebih suka mengendalikan partai dari belakang panggung.

Di sisi lain, orang-orang pintar, terutama yang punya latarbelakang akademik, umumnya miskin. Mana ada ilmuan dan dosen kaya? Kecuali bertimbun project dari pemerintah Maka, nyapres seringkali menjadi mimpi dan hayalan para akademisi.

2024, para tokoh yang punya peluang maju sebagai capres bukan ilmuwan dan akademisi. Mengecualikan Anies Baswesan, seorang mantan rektor Paramadina.

Secara urutan, yang berpeluang nyapres adalah Puan Maharani, Prabowo Subianto, Airlangga Hartarto, Anies Rasyid Baswedan dan Ganjar Pranowo. Tiga atau empat dari lima tokoh ini kemungkinan akan bersaing dalam pilpres 2024.

Puan Maharani bisa maju sendiri dengan tiket PDIP. Kemungkinan capres, dan boleh jadi cawapres. Untuk Puan, tiket sudah di tangan. PDIP punya 128 kursi.

Prabowo Subianto, Ketum Gerindra ini hanya butuh satu partai tambahan. Kemungkinan Gerindra-PKB akan mengusung Prabowo-Muhaimin Iskandar. Gerindra 12,57 persen dan PKB 9,69 persen. Cukup! Keduanya dihadapkan pada situasi saling membutuhkan. Tidak mudah bagi Gerindra untuk mendapatkan partner selain PKB. Pasangan Prabowo-Muhaimin kabarnya juga mendapatkan dukungan dari istana. Kemana arah permainan istana dengan dukung Prabowo-Muhaimin? Apakah untuk mencegah PKB agar tidak bergabung ke PDIP? Atau untuk bersaing dengan Anies Baswedan? Mengingat ceruk Prabowo dan Anies beririsan.

Sama dengan Prabowo, Airlangga sebagai ketum Golkar (12,31 persen) hanya butuh satu partai tambahan. Kabarnya, Airlangga akan berpasangan dengan Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN. Namun, Golkar-PAN belum cukup. Golkar 12,31 persen dan PAN 6,84 persen. Maka, butuh PPP untuk ikut mendukung. PPP punya 4,52 persen.

Majunya Zulkifli ini memang berisiko secara elektoral jika Anies Baswedan juga maju di Pilpres. Pasalnya, kader dan konstituen PAN cenderung mendukung Anies Baswedan.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Dukung Prabowo, Jokowi Pressure Megawati?

Minggu, 21 Mei 2023 | 13:15 WIB

7 Mei, Lahir Seorang Calon Presiden RI Ke-8

Minggu, 7 Mei 2023 | 19:10 WIB

Presiden Seharusnya Tidak Menjadi King Maker

Sabtu, 6 Mei 2023 | 08:00 WIB

Jokowi Tidak Akan Dukung Prabowo

Senin, 1 Mei 2023 | 13:30 WIB

Puan Makin Terancam?

Minggu, 30 April 2023 | 19:00 WIB

Takbiran

Kamis, 20 April 2023 | 21:15 WIB

Silaturahmi Ketum Partai Bersama Jokowi

Senin, 3 April 2023 | 14:45 WIB

Prabowo, Capres atau King Maker?

Kamis, 9 Maret 2023 | 08:30 WIB

Ekonomi Global Membaik, PERPPU Cipta Kerja Wajib Batal

Selasa, 31 Januari 2023 | 13:30 WIB

Setelah Koalisi Perubahan Terbentuk, What Next?

Selasa, 31 Januari 2023 | 12:30 WIB

Koalisi Perubahan, Koalisi Tak Tergoyahkan

Senin, 30 Januari 2023 | 12:00 WIB

Gelembung Utang dan Retorika Mampu Bayar: Menyesatkan?

Minggu, 29 Januari 2023 | 13:00 WIB

Koalisi Istana Pasti Akan Pecah

Sabtu, 21 Januari 2023 | 16:30 WIB

Erros Djarot: Lawan Mafia Tanah.!

Sabtu, 21 Januari 2023 | 15:00 WIB

Prihatin, Kompetensi BI Seperti Amatir

Sabtu, 21 Januari 2023 | 12:00 WIB

Pesta di Atas Adu Domba

Sabtu, 21 Januari 2023 | 10:15 WIB

Terpopuler

X