• Minggu, 2 Oktober 2022

Siapa yang Diharapkan Mampu Membawa Masa Depan Indonesia?

- Selasa, 9 Agustus 2022 | 12:00 WIB
Tony Rosyid
Tony Rosyid

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Pemimpin tidak hadir dengan sendirinya, tapi dihadirkan. Artinya, setiap pemimpin itu lahir dengan rekayasa. Ada pihak-pihak yang merekayasa untuk menyiapkan calon pemimpin itu.

Aktivis dan oligarki biasanya punya calon yang berbeda. Keduanya berkompetisi di dua kubu yang berseberangan. Aktivis calonkan tokoh idealis, sementara oligarki calonkan tokoh pragmatis. Biasanya, calon oligarki yang menang. Karena oligarki memiliki syarat (terutama) logistik untuk menang.

Kecuali jika terjadi kudeta. Kelompok idealis yang menang. Setelah itu, oligarki berkuasa lagi. Aktivis kalah pengalaman dan kalah logistik. Oligarki, dengan pengalaman, jaringan dan uangnya, seringkali berhasil membeli aktivis. Tidak sedikit aktivis yang melacurkan diri. Gak kuat miskin.

Banyak tokoh-tokoh besar di negeri ini yang dipandang mampu dan mumpuni untuk menjadi pemimpin. Tapi, mereka tidak memiliki kesempatan untuk menjadi pemimpin. Mengapa?

Pertama, mereka tidak populer dan elektabilitasnya rendah. Dalam sistem demokrasi, elektabilitas menjadi gerbang utama bagi seseorang untuk dicalonkan. Untuk mendapatkan elektabilitas tinggi, pinter dan bermoral tidak cukup. Malah, hal-hal sederhana seperti rajin jual senyum dan datang ke selokan itu efektif untuk menaikkan elektabilitas. Gak perlu pinter. Inilah demokrasi.

Kedua, faktor logistik. Siapa yqng punya duit bisa beli partai untuk nyapres. Banyak pengusaha menjadi ketua umum partai. Para pengusaha butuh partai, dan partai butuh pengusaha untuk menyiapkan dana operasional partai. Sebagian pengusaha turun langsung untuk memimpin partai, sebagian lainnya lebih suka mengendalikan partai dari belakang panggung.

Di sisi lain, orang-orang pintar, terutama yang punya latarbelakang akademik, umumnya miskin. Mana ada ilmuan dan dosen kaya? Kecuali bertimbun project dari pemerintah Maka, nyapres seringkali menjadi mimpi dan hayalan para akademisi.

2024, para tokoh yang punya peluang maju sebagai capres bukan ilmuwan dan akademisi. Mengecualikan Anies Baswesan, seorang mantan rektor Paramadina.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Lukas Enembe Mangkir, Meski Diperiksa Di Papua

Rabu, 21 September 2022 | 07:00 WIB

Kenaikan Harga BBM, Kebijakan Blunder Nan Fatal

Minggu, 18 September 2022 | 22:00 WIB

Pilpres 2024, Presiden Harus Netral

Minggu, 18 September 2022 | 10:45 WIB

Bjorka Menjelang RUU PDP Disahkan

Sabtu, 17 September 2022 | 11:30 WIB

Pembebasan Bersyarat Melanggar Hukuman Bersyarat?

Jumat, 16 September 2022 | 08:50 WIB

Jokowi Semakin Lemah

Kamis, 15 September 2022 | 12:00 WIB

Gaji Pensiun Seumur Hidup Anggota DPR

Kamis, 15 September 2022 | 06:00 WIB

Tidak Hafal Pancasila, Ketua DPRD Lumajang Mundur

Rabu, 14 September 2022 | 06:00 WIB

Kebocoran Data, Apa Solusinya Pak Menteri?

Selasa, 13 September 2022 | 06:00 WIB

Kandidat 2024, Sekadar Etalase Figur

Senin, 12 September 2022 | 06:00 WIB

BBM Bersubsidi Naik, Apapun Alasannya, Rakyat Keberatan

Sabtu, 10 September 2022 | 10:00 WIB

Mbak Puan, Safari Politik atau Safari Kerakyatan, Nih?!

Sabtu, 10 September 2022 | 06:00 WIB

Tiga Langkah Jegal Anies

Jumat, 2 September 2022 | 15:30 WIB

Peluang Anies Jadi Capres

Jumat, 19 Agustus 2022 | 14:00 WIB
X