• Minggu, 25 September 2022

Jokowi Semakin Lemah

- Kamis, 15 September 2022 | 12:00 WIB
Tony Rosyid
Tony Rosyid

Oleh: Tony Rosyid
Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

Setiap kekuasaan akan berakhir. Itu sunatullah. Apakah kekuasaan berdiri di atas sistem demokrasi atau monarki, semua akan ada episodenya.

Masa jabatan Jokowi hanya tinggal dua tahun. 2024 berakhir. Tahun depan, 2023 itu tahun politik. Semua partai sibuk memikirkan nasib masa depannya. Dua hal yang dipikirkan. Pertama, bagaimana suara partai naik. Minimal tetap. Kedua, siapa capres yang potensial menang dan diusung. Hanya dua itu yang jadi pertimbangan.

Kedua hal ini punya kaitan satu sama lain. Sebab, dukungan kepada capres punya prngaruh terhadap suara partai. Akan sangat menguntungkan jika partai mengusung capres yang jadi pilihan konstituenya. Apalagi, yang diusung punya peluang besar untuk menang. Untuk ini, setiap partai punya survei internal.

Bagi partai politik, Jokowi akan segera menjadi masa lalu. Masa romantis di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) akan segera berakhir dan dilupakan. Pilpres 2024 akan menyedot perhatian partai-partai politik untuk menyiapkan masa depannya.

Sejak 2019, PKS dan Demokrat memilih berada di luar kekuasaan Jokowi. Otomatis pilihan politiknya berbeda, bahkan berseberangan dengan Jokowi. Tahun 2022, tampaknya Nasdem punya pilihan politik yang juga tidak sejalan dengan Jokowi. Nasdem dan Jokowi punya calon berbeda untuk 2024. Gak usah tanya siapa calon masing-masing. Publik paham.

Nasdem adalah partai yang selalu berani membuat keputusan paling awal untuk deklarasikan calon. Dengan langkah pro-aktif ini, Nasdem akan punya saham besar jika calon itu sukses dan jadi presiden.

Pilpres 2014 dan 2019 Nasdem ikut mengusung Jokowi. 2024, Jokowi selesai. Dipastikan tidak dicalonkan lagi. UUD membatasinya. Setiap presiden hanya boleh menjabat dua periode. Wacana pemilu mundur dan gagasan tiga periode tak lagi punya ruang. Mayoritas partai dan rakyat menolak. Pintu tertutup. The End.

Mungkinkah Jokowi jadi cawapres? Wacana itu ada. Mahkamah Konstitusi (MK) bahkan ikut-ikutan bicara soal peluang presiden yang sudah menjabat dua periode jadi cawapres. Meski oleh Dahlan Iskan dianggap sebagai "petir di musim kemarau". Memang aneh juga sih.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Lukas Enembe Mangkir, Meski Diperiksa Di Papua

Rabu, 21 September 2022 | 07:00 WIB

Kenaikan Harga BBM, Kebijakan Blunder Nan Fatal

Minggu, 18 September 2022 | 22:00 WIB

Pilpres 2024, Presiden Harus Netral

Minggu, 18 September 2022 | 10:45 WIB

Bjorka Menjelang RUU PDP Disahkan

Sabtu, 17 September 2022 | 11:30 WIB

Pembebasan Bersyarat Melanggar Hukuman Bersyarat?

Jumat, 16 September 2022 | 08:50 WIB

Jokowi Semakin Lemah

Kamis, 15 September 2022 | 12:00 WIB

Gaji Pensiun Seumur Hidup Anggota DPR

Kamis, 15 September 2022 | 06:00 WIB

Tidak Hafal Pancasila, Ketua DPRD Lumajang Mundur

Rabu, 14 September 2022 | 06:00 WIB

Kebocoran Data, Apa Solusinya Pak Menteri?

Selasa, 13 September 2022 | 06:00 WIB

Kandidat 2024, Sekadar Etalase Figur

Senin, 12 September 2022 | 06:00 WIB

BBM Bersubsidi Naik, Apapun Alasannya, Rakyat Keberatan

Sabtu, 10 September 2022 | 10:00 WIB

Mbak Puan, Safari Politik atau Safari Kerakyatan, Nih?!

Sabtu, 10 September 2022 | 06:00 WIB

Tiga Langkah Jegal Anies

Jumat, 2 September 2022 | 15:30 WIB

Peluang Anies Jadi Capres

Jumat, 19 Agustus 2022 | 14:00 WIB
X