• Selasa, 16 Agustus 2022

Industri Ritel dan Geliat Transformasi Bisnis Era 4.0

- Kamis, 21 Februari 2019 | 19:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Bisnis ritel di Indonesia sampai Januari 2019 lalu masih menghadapi turbulensi. Setelah digoyang oleh tumbangnya beberapa ritel besar seperti Matahari Department Store, Seven Eleven, Debenhams, Lotus, dan beberapa merk lain, pertumbuhan bisnis ritel sampai awal 2019 belum menunjukkan kemajuan berarti. Sampai akhir 2018 pertumbuhan ritel hanya kurang dari 10 persen. Padahal, pada saat normal, bisnis ritel seharusnya bisa tumbuh 3 - 4 kali pertumbuhan ekonomi (Aprindo, 2018).

Anjloknya penjualan bisnis ritel mulai dirasakan sejak periode 2016-2017. Sempat tumbuh pada kuartal I/2016 sebesar 11,3 persen, namun pada periode yang sama tahun berikutnya (2017) bisnis ritel anjlok 3,9 persen. Kondisi menurunnya bisnis ritel terus berlanjut sampai 2018 ditandai dengan berjatuhannya toko-toko ritel konvensional seperti tersebut di atas.

Akibatnya, selain hengkangnya beberapa merk dagang terkenal seperti sepatu “Clarks’, tren penurunan industri ritel juga berdampak pada banyaknya terjadi PHK para pekerja ritel. Sepanjang 2018 saja, tercatat 3,362 pekerja yang di PHK.

Akankah tren penurunan bisnis ritel akan berlanjut pada 2019 ini? Risiko menurunnya tren bisnis akibat perhelatan politik Pemilihan Presiden 2019, disadari akan membawa pengaruh pada melambatnya bisnis secara umum. Hal tersebut sebagai dampak pilihan sikap wait and see investor dan pelaku bisnis lainnya. Namun bagaimanapun, jika tren penurunan industri ritel masih saja terjadi, angka pekerja yang terkena PHK bisa jadi akan terus bertambah dan potensial menimbulkan masalah sosial tersendiri.    

Asbabun nuzul” dari terjadinya penurunan industri ritel, ditengarai sebagai respon masyarakat akibat adanya kebijakan kenaikan beberapa item “administered price” seperti kenaikan biaya-biaya pajak kendaraan bermotor/STNK, listrik, BBM yang mengalami kenaikan sampai beberapa kali pada periode tersebut (2016-2017). Ditambah, kebijakan yang berubah-ubah di bidang perpajakan dan keuangan yang menyebabkan konsumen memilih bersikap menunggu.

Kenaikan tarif dan harga tersebut disebut-sebut menyebabkan terjadinya penurunan daya beli masyarakat (4,95 persen di bawah pertumbuhan ekonomi nasional) yang hingga kini masih belum pulih. Apalagi, situasi deindustrialisasi dinilai ikut andil dalam penurunan daya beli konsumen.

Selain pukulan dari kenaikan administered price dan deindustrialisasi, kecenderungan konsumen yang sekarang lebih menyukai belanja online lewat e-commerce turut pula menurunkan minat konsumen berbelanja langsung di mall atau department store. Belum lagi, pola hidup yang lebih menyukai “leisure style”, menikmati hidup dengan makan-minum di resto dan kegiatan-kegiatan rekreasi, ikut merubah pola belanja konsumen.

Menjadi pertanyaan, apakah perubahan pola belanja dan gaya hidup konsumen serta makin merebaknya e-commerce, akan menjadi sebuah transformasi ekonomi yang memaksa industri ritel konvensional ber evolusi mengikuti tren yang tengah berlangsung? Akankah mall dan department store akan berubah menjadi gudang-gudang produk e-commerce saja? Ke arah manakah para pekerja ritel yang terkena PHK akan menyesuaikan diri? 

Apa pendapat Anda? Watyutink?

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X