• Selasa, 16 Agustus 2022

Mengulik Rehab-Rekon Pasca Bencana Lombok

- Senin, 25 Februari 2019 | 17:00 WIB
Sumber Foto : Antara - Watyutink.com
Sumber Foto : Antara - Watyutink.com

Watyutink.com - Gempa Lombok pada Agustus 2018 menyisakan duka panjang bagi para korban. Sampai saat ini--enam bulan kemudian—banyak korban gempa yang belum mendapatkan jatah bantuan hunian tetap (huntap). Padahal, musim telah memasuki penghujan dan masih banyak warga terdampak gempa belum menerima bantuan huntap.

Gempa dahsyat 6,5 skala richter merubuhkan sekitar 74.092 unit rumah penduduk yang tersebar di 7 kabupaten,153 kecamatan dan 466 desa. Sebanyak  564 jiwa meninggal dan ribuan lagi luka-luka. Belum lagi derita para kepala keluarga yang terpaksa kehilangan mata pencaharian. Praktis, keluarga pengungsi hanya menunggu bantuan makanan dari dermawan atau bekerja apa saja sekadar bertahan hidup.

Problem mendasar bagi setiap daerah bencana gempa bumi adalah penyediaan rumah penampungan atau hunian yang harus disiapkan bagi para korban bencana. Semasa gempa dan Tsunami Aceh, dibangun hunian sementara bagi beberapa keluarga yang ditampung dalam rumah-rumah darurat yang dibangun guna menampung para korban bencana. Tindakan pertolongan pertama selain makan minum dan pengobatan, adalah penyediaan rumah penampungan darurat bagi anak dan bayi, serta orang tua.

Ironisnya, pembangunan tempat hunian untuk menampung para korban berjalan amat lambat. Dari laporan di lapangan, sampai Januari 2019 lalu, dari kebutuhan 74 ribu lebih rumah yang rusak parah, baru 380 rumah (huntap) yang selesai dibangun. Rumah untuk sekitar 4,800 KK lainnya dalam proses konstruksi. Hal itu berarti amat jauh dari target rehab-rekon yang ditetapkan pemerintah pusat. Awalnya, direncanakan aksi rehab-rekon mulai dilaksanakan pada Oktober 2018, dan pada Maret 2019 seluruh rumah pengungsi ditargetkan sudah harus selesai dibangun.

Mengapa progres pembangunan rumah hunian tetap bagi para korban bencana Lombok amat lambat? Apanya yang menjadi masalah? Padahal, Lombok hanyalah satu tiga lokasi bencana dahsyat yang melanda tanah air berturut-turut, selain Gempa tsunami Palu-Donggala dan Tsunami Banten.

Akibat lambatnya bantuan pembangunan hunian tetap, warga korban bencana sempat melakukan aksi unjuk rasa kepada Pemda setempat. Rasanya hal itu dapat dimaklumi, karena bagaimanapun tersedianya tempat berteduh bagi pengungsi korban bencana adalah kebutuhan mendasar yang harus segera dipenuhi. Tidur di tenda-tenda pengungsian merupakan hal yang menyengsarakan.

Pemerintah pusat memang telah mengucurkan bantuan keuangan Rp3,515 triliun dari kebutuhan Rp8,6 triliun yang diperkirakan BNPB untuk total biaya rehab-rekon Lombok. Disebutkan, sebesar Rp3,184 triliun dana untuk membangun huntap telah dicairkan ke rekening pengungsi. Sisa anggaran masih terdapat senilai Rp331,373 miliar. Setiap KK mendapatkan Rp50 juta untuk pembangunan rumah. Namun, dana tersebut ternyata belum mampu mengejar target yang ditetapkan.

Apakah masalahnya pada target pembangunan hunian tetap serentak harus selesai pada Maret 2019? Sementara,di kawasan bencana lain seperti Sinabung-Sumut, pembangunan rumah hunian dikerjakan bertahap. Membangun huntara (hunian sementara) dulu agar pengungsi dapat ditampung, baru kemudian diselesaikan pembangunan huntap.

Berlebihankah menetapkan target 5 bulan untuk pembangunan 74 ribu lebih huntap pengungsi (Oktober 2018-Maret 2019)? Atau jangan-jangan, target yang mepet tersebut ada hubungannya dengan politik “make up” tertentu menjelang pemungutan suara April 2019 mendatang?

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X