• Selasa, 16 Agustus 2022

Misi Dagang Tak Sentuh Musabab Defisit

- Senin, 25 Februari 2019 | 18:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Watyutink.com - Neraca perdagangan Indonesia terjerembab semakin dalam dengan defisit yang terus membesar. Alih-alih dolar AS bertambah, cadangan devisa terus tergerus untuk membiayai impor yang membengkak. Ibu Pertiwi pun menangis.

Tak ingin Ibu Pertiwi  terus menangis, Kementerian Perdagangan RI yang dipimpin oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyambangi India dalam satu misi perdagangan untuk melobi agar negara tersebut mau menurunkan tarif bea masuk sawit dan produk turunannya.

Misi dagang tersebut sebagai salah satu strategi Kemendag menggenjot ekspor agar di bulan-bulan mendatang Indonesia tidak lagi mencatat defisit. Bak anak sekolah, sang bapak tak mau melihat rapor anaknya merah lagi.

Alhasil, India membuka peluang menurunkan tarif bea masuk dari 50 persen menjadi 45 persen, sama dengan produk serupa dari Malaysia. Selain peluang penurunan bea masuk produk turunan minyak sawit, sejumlah produk lain berpotensi masuk ke pasar negeri Bollywood.

Meski India baru membuka peluang, hasil misi dagang bisa dibilang positif. Ada potensi untuk meningkatkan ekspor dan berharap tidak terjadi defisit neraca perdagangan di bulan-bulan mendatang. Apalagi pada tahun politik seperti sekarang, sedikit saja kinerja menurun bisa jadi bahan kampanye negatif yang empuk bagi pihak seberang.

defisit neraca perdagangan ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan RI mencapai 1,16 miliar dolar AS pada Januari 2019. Defisit ini lebih besar dibandingkan Desember 2018 yang mencapai 1,03 miliar dolar AS dan Januari 2018 sebesar 0,76 miliar dolar AS. Defisit pada Januari 2019 disumbang masing-masing oleh migas yang mencapai 451,8 juta dolar AS dan nonmigas 704,7 miliar dolar AS.

Indonesia  masih mengandalkan bahan bakar mineral dalam ekspornya  senilai 1,92 miliar dolar AS atau 15,2 persen dari total ekspor, disusul lemak dan minyak hewan/nabati sebesar sebanyak 1,58 miliar dolar AS atau 12,47 persen.

Untuk negara tujuan ekspor, China masih menempati urutan pertama dengan nilai 1,71 miliar dolar AS atau 13,52 persen, disusul Amerika Serikat 1,51 miliar dolar AS atau 11,97 persen, dan Jepang 1,2 miliar dolar AS atau 9,47 persen.  Sayangnya, pertumbuhan ekonomi China diperkirakan melambat, berpotensi menurunkan nilai ekspor Indonesia.

Defisit di awal 2019 menambah suram data neraca perdagangan Indonesia yang pada tahun lalu sudah dihantam selisih kekurangan ekspor dibandingkan impor senilai 8,57 miliar dolar AS. Angka ini merupakan rekor kinerja perdagangan terburuk sepanjang sejarah Tanah Air, lebih buruk dibandingkan dengan defisit yang terjadi pada 2013 sebesar  4 miliar dolar AS.

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X