• Selasa, 16 Agustus 2022

Waralaba Lokal Bak Ayam Sekarat di Lumbung Padi

- Selasa, 26 Februari 2019 | 19:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Sign board restoran waralaba asing berbentuk huruf M kecil begitu jelas tampak dari kejauhan, bersinar terang, mengkilap dan gagah bertengger di tepi jalan raya, menggoda selera mereka yang melintas di depannya.

Tidak jauh dari situ berdiri restoran waralaba lokal dengan papan nama yang sudah kusam, warna cat yang memudar, dan tampilan depan yang redup. Meja dan kursi ditata secara sederhana dengan penerangan secukupnya, dilayani oleh waiter berseragam lusuh.

Dua dunia yang sangat berbeda, seperti bumi dan langit. Seperti itulah wajah waralaba lokal berhadapan dengan waralaba asing, mereka tidak menjadi tuan di negerinya sendiri. Justru asing yang mengesankan sebagai juragan di tempat yang bukan tanah airnya. Waralaba asing terus menjamur, sementara waralaba lokal seperti ayam sekarat di lumbung padi.  Siapa yang salah?

Memang ada waralaba lokal yang sukses, tetapi skala usaha dan omsetnya masih jauh di belakang dibandingkan dengan waralaba asing. Apalagi jika dibandingkan secara keseluruhan semakin jauh tertinggal kondisinya.

Negara seperti tidak hadir dalam mengembangkan bisnis waralaba lokal, padahal ia bagian dari ekonomi kerakyatan yang mempunyai dampak cukup besar bagi perekonomian nasional, membuka lapangan pekerjaan dan menyerap produk lokal.

Waralaba asing masih tumbuh sekitar 5 persen per tahun, sementara waralaba lokal jalan di tempat. Padahal peluang tumbuhnya waralaba lokal cukup besar, sekitar 8-10 persen per tahun, namun realitanya banyak waralaba lokal yang gulung tikar karena ketatnya bersaing dengan kompetitor.

Waralaba lokal pernah mengalami kejayaan sekitar 20 tahun lalu. Pembukaan cabang baru merebak dimana-mana. Sayangnya, di tengah pertumbuhan tersebut masuk waralaba asing sehingga membenamkan pewaralaba lokal.

Asosiasi Franchise Indonesia (AFI) mencatat pertumbuhan waralaba lokal tidak menggembirakan dari sisi jumlah. Saat ini hanya sekitar 120-125 saja yang masih bertahan di tengah gempuran waralaba asing yang terus membesar dengan modal yang kuat.

Pemerintah seharusnya turun tangan membantu pengembangan waralaba lokal seperti dilakukan sejumlah negara. Malaysia, misalnya, sejak 2003 menyusun program untuk memajukan dan mendukung sekitar 500-an waralaba produk lokal. Bahkan Singapura menanggung 75 persen biaya konsultan untuk waralaba dan membiayai perjalanan keluar negeri untuk mengikuti pameran.

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X