• Selasa, 16 Agustus 2022

Petroyuan, atau Tetap Petrodolar?

- Rabu, 27 Februari 2019 | 17:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Watyutink.com - Menarik mencermati tulisan Tri Winarno  dalam kolom harian Tempo (26/02/2019) yang berjudul “Petroyuan dan Senja Kala Dolar”. Tri Winarno menulis tentang Kontrak perdagangan berjangka minyak dalam mata uang Yuan China (Renminbi) di Shanghai International Energy Exchange (SINE) yang belum genap satu tahun diluncurkan. SINE memunculkan istilah Petroyuan sebagai icon baru, menyaingi istilah Petrodolar untuk penyebutan transaksi perdagangan minyak dunia oleh Arab Saudi yang menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS).

Kontrak berjangka minyak China dalam SINE dianggap fenomena mengejutkan, karena volume transaksinya mampu menyalip kontrak perdagangan berjangka minyak dalam dolar AS di Singapura dan Dubai. Diperkirakan, tidak lama lagi kontrak SINE akan melampaui volume penjualan Brent dan WTI.

Berlebihankah analisa dari penetrasi pasar kontrak dagang minyak China tersebut? Sebegitu mudahkah Petroyuan akan menggeser dominasi Petrodolar di lingkungan  bisnis dunia? Apalagi menggeser volume penjualan minyak jenis Brent dan WTI?

China, memang tengah berjuang memperkenalkan Yuan/Renminbi sebagai alat tukar transaksi perdagangan baru dunia, mengimbangi peran mata uang lainnya terutama dolar AS. Sejak era pembaharuan ekonomi, China dengan langkah agresifnya telah melakukan penetrasi ekonomi ke berbagai belahan dunia.

Penawaran investasi dan kredit melalui sindikasi bank China kepada negara-negara berkembang di Asia dan Afrika, serta pemberian bantuan proyek ke sejumlah negara termasuk Indonesia, masif dilakukan. Agresivitas China berbuah Zimbabwe di Afrika yang setuju menggunakan Yuan China sebagai alat tukar pembayaran. Sayangnya, hal itu dilakukan sebagai langkah melunasi utangnya kepada China. Selain itu, Mei 2018 lalu, 17 bank sentral dan 14 bankir Afrika Timur dan Afrika Selatan mempertimbangkan Yuan China sebagai cadangan devisa. Tak lain karena sebagian besar negara anggota Macroeconomic and Financial Management Institute of Eastern and Southern Africa (MEFMI) mengalami kesulitan eksternal karena perlambatan ekonomi. Sebagian besar negara tersebut memiliki pinjaman atau hibah dari China.

Dengan agresivitas ekonomi China tersebut di atas, cukup kuatkah landasan menjadikan Yuan China sebagai mata uang utama internasional? Sebab, setelah berhasil menjadi bintang dalam SINE yang mengancam Brent dan WTI, diperkirakan kontrak perdagangan internasional untuk komoditas ke China juga akan menggunakan Yuan. Ditambah, China kini telah menjadi pengimpor utama minyak dunia yang dalam transaksinya juga menggunakan Yuan.

Salah satu alasan China lainnya dalam upaya internasionalisasi Yuan adalah, sistem keuangan internasional yang terlalu berpusat pada dolar AS dinilai sudah tidak memadai lagi, terutama setelah defisit perdagangan melanda AS. Untuk itu diperlukan sistem keseimbangan baru dalam currency dunia yang memasukkan peran Yuan China sebagai alat tukar pembayaran. Apalagi China juga telah berhasil memasukkan Yuan ke dalam Special Drawing Right (SDR) IMF sebagai alternatif cadangan devisa internasional.  

Bagi Indonesia, tentu saja membutuhkan antisipasi dari dampak menguatnya pengaruh mata uang China di dunia. Upaya melepaskan diri dari ketergantungan terhadap dolar AS seharusnya bisa dilakukan dengan skema kerjasama local currency SWAP dengan China dan beberapa negara di kawasan Asia. Apakah upaya penguatan penggunaan mata uang lokal di kawasan berhasil melepaskan ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X