• Selasa, 16 Agustus 2022

Atasi Defisit BPJS Kesehatan Orang Miskin Dilarang Sakit

- Kamis, 28 Februari 2019 | 19:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Ribut-ribut mengenai defisit Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS)  Kesehatan membuat Kementerian Keuangan memperketat pengawasan terhadap klaim rumah sakit. Dana sudah disiapkan senilai Rp14,7 triliun dari anggaran negara untuk membayar tagihan peserta  BPJS kategori penerima bantuan iuran (PBI) selama 2019, namun pemerintah tidak akan menggelontorkan begitu saja.

Sebagian memang sudah dicairkan untuk periode awal tahun pada Januari-Maret 2019 sebesar Rp6,3 triliun. Namun pencairan dana berikutnya masih harus menunggu  hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Dari hasil audit tersebut pemerintah akan mendapatkan kejelasan mengenai masalah yang menimpa BPJS Kesehatan, mulai dari klaim, penggunaan anggaran, kecurangan hingga  tarif. Dari hasil temuan tersebut dapat dibuat kebijakan yang lebih tepat sasaran dan membumi.

Pemerintah pernah menggunakan skema below the line, yakni menginjeksi dengan modal tambahan kepada BPJS Kesehatan. Namun karena bertentangan dengan aturan pembukuan, skema yang dijalankan pada periode 2015-2016 tersebut disetop.

Sejak itu pemerintah tidak lagi menginjeksi dana sebagai penyertaan modal. Sebagai gantinya, mulai periode 2017-2018 pemerintah membayar kekurangan kepada BPJS Kesehatan atau dikenal dengan sebutan above the line.

 Defisit BPJS Kesehatan kian kronis setiap tahun. Setelah defisit Rp3,3 triliun pada tahun pertama 2014, defisit merangkat naik mencapai Rp5,7 triliun pada 2015. Kurvanya terus naik ke posisi Rp9,7 triliun pada 2016 dan Rp9,75 triliun pada 2017. Pada 2018, defisit diperkirakan mencapai Rp16,5 triliun, yang belakangan dikoreksi menjadi  Rp10,98 triliun berdasar hitung-hitungan BPKP.

Akar masalah defisit sudah terang benderang diketahui, yakni  iuran peserta yang diterima BPJS Kesehatan lebih kecil dari klaim yang dibayarkan kepada peserta. Data resmi yang dilansir menyebutkan jumlah peserta BPJS Kesehatan mencapai 217,54 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 96,56 juta jiwa adalah peserta PBI alias masyarakat miskin yang tidak membayar iuran. Dengan berseloroh masyarakat mengatakan orang miskin dilarang sakit, agar BPJS tak defisit.

Di sisi lain, BPJS Kesehatan menggunakan laporan keuangan berimbang, yakni pos pengeluaran harus sama dengan pos pendapatan. Namun prinsip laporan keuangan tersebut  sekadar konsep, sementara masalah sebenarnya terletak di besaran iuran yang belum sesuai dengan hitungan aktuaria.

Dengan audit yang dilakukan BPKP diharapkan sumber defisit bisa ditemukan dan diselesaikan masalahnya. Namun apakah cukup dengan audit?  Di sisi lain, rumah sakit sangat menunggu kepastian pembayaran klaim agar mereka dapat memutar arus kas yang menjadi darah bagi mereka. Apakah pemerintah dapat memegang komitmennya untuk membayar sesuai siklus waktu pembayaran?  Apakah iuran peserta pekerja penerima upah (PPU) bisa dinaikkan agar ada subsidi silang untuk peserta PBI

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X