• Selasa, 16 Agustus 2022

Industri Penerbangan Terjerat Dugaan Kartel, Siapa Diuntungkan?

- Rabu, 6 Maret 2019 | 14:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Watyutink.com - Kejadian apa saja yang berlangsung pada tahun politik dengan mudahnya dikaitkan dengan hal-hal yang berbau politis, tidak terkecuali kenaikan harga tiket pesawat yang terjadi sejak akhir tahun lalu hingga kini.

Sebagian orang berpendapat kenaikan harga tiket pesawat itu untuk menahan perjalanan para politisi ke daerah untuk berkampanye. Ada juga yang curiga kenaikan tersebut untuk mendapatkan dana lebih banyak untuk membiayai kampanye.

Seperti diketahui pemilik salah satu maskapai penerbangan merupakan politisi dari partai koalisi pendukung Capres-Cawapres Jokowi-KH Ma’ruf, sementara perusahaan yang lain adalah perusahaan negara yang ditugasi mencari keuntungan untuk menambal APBN, sekaligus sebagai  ‘agen pembangunan’.

Tentu praduga tanpa didukung oleh fakta, konfirmasi, dan data yang valid hanya akan menjadi berita bohong yang meresahkan. Telaah yang pas atas kenaikan harga tiket pesawat ini adalah dengan menganalisis struktur pasar, komponen biaya, perilaku para pemain di industri penerbangan, dan kebijakan pemerintah.

Ketua Indonesia National Air Carrier Association (INACA) dengan tegas mengakui ada kenaikan harga tiket pesawat rata-rata sebesar 40 persen sampai 120 persen sejak November 2018, menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.

Menurut Ketua INACA Akshara Danadiputra, kenaikan harga tiket pesawat itu berawal dari Garuda Indonesia yang ia pimpin, yang kemudian diikuti oleh maskapai penerbangan lain. Pimpinan Garuda Indonesia mengaku membutuhkan dana untuk menyehatkan keuangan perusahaan.

Garuda Indonesia diketahui mencatakan rugi bersih sebesar 114,08 juta dolar AS pada kuartal III 2018. Pada periode yang sama tahun sebelumnya kerugian yang diderita bahkan mencapai 222,03 juta dolar AS.

Sulitnya Garuda Indonesia meraup untung salah satunya disebabkan oleh depresiasi rupiah terhadap dolar AS pada tahun lalu yang berlanjut hingga saat ini. Rupiah sempat terpuruk ke titik terendah di posisi Rp15.200 per dolar AS pada 2018. Walhasil, biaya operasional untuk membeli avtur dan pembayaran utang pembelian pesawat membengkak.

Keterangan berbeda disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. Dia menyebutkan kenaikan harga tiket pesawat tersebut merupakan koreksi atas perang harga antarmaskapai penerbangan dalam beberapa tahun terakhir. Saat ini harga tiket bergerak kembali ke tingkat yang normal.

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X