• Selasa, 16 Agustus 2022

Menunggu Suratan Takdir Kilang Minyak Baru

- Jumat, 8 Maret 2019 | 14:30 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Rusia dan Arab Saudi pasti tidak menyangka--sebagai dua negara besar--niatnya untuk berinvestasi guna ikut membantu percepatan pembangunan kilang di Indonesia menjadi “bablas” alias tidak terwujud. Yang menyesakkan, gagalnya investasi pembangunan kilang dua negara tersebut hanya gara-gara--katanya--terbentur pada masalah ketiadaan lahan. Menjadi alasan yang tidak dapat dimengerti, bahwa Indonesia yang “segede” ini bisa terkendala dalam pembangunan kilang, hanya karena masalah lahan.

Padahal, kesepakatan pembangunan kilang baru di Cilacap telah ditandatangani pada awal Maret 2017 antara investor minyak Saudi Aramco dan Pertamina. Kesepakatan senilai 6 miliar dolar AS tersebut disaksikan pula oleh Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Azis dan Presiden Jokowi.

Rusia lain lagi, kesepakatan antara investor Rusia Petrol Complex PTE Ltd, anak perusahaan minyak raksasa Rusia Rosneft Oil Company, juga gagal karena tidak tersedianya lahan untuk membangun kilang di wilayah Tuban, Jawa Timur.

Pembangunan kilang baru bagi Indonesia menjadi amat urgent untuk mengurangi kebutuhan impor minyak BBM yang sampai saat ini sudah sebesar 500 ribu barel per hari (bph). Sementara kebutuhan BBM per hari di Indonesia telah mencapai 1.2 juta bph. Kemampuan produksi BBM dalam negeri juga terus berkurang, hanya mampu 700 ribu bph.  

Mengapa jadi demikian sulitnya rencana pembangunan kilang yang digadang-gadang akan mampu mengurangi impor BBM sampai 300 ribu bph? Apa yang masih harus dibenahi menyangkut kemudah bagi investor minyak untuk membangun kilang yang amat dibutuhkan? Benarkah hambatan-hambatan yang muncul adalah karena banyak nya kepentingan yang bermain, yang bertujuan menggagalkan setiap upaya membangun kilang baru?

Pembangunan kilang terakhir di Indonesia, diketahui dibangun pada 1994 dengan dibangunnya kilang Balongan di Cirebon, Jawa Barat. Setelah itu, hingga 24 tahun kemudian tidak satupun kilang dapat dibangun oleh pemerintahan-pemerintahan yang silih berganti. Dan Indonesia masih tetap terus mengimpor BBM yang semakin hari semakin membesar kebutuhannya. Sementara, jumlah kendaraan bermotor pun tidak berkurang. Malah jumlah motor dan mobil baru setiap hari tercatat semakin bertambah. Belum lagi kebutuhan energi BBM untuk sektor kelistrikan dan industri. Mengurangi impor BBM dengan penyediaan kilang baru, juga sangat dibutuhkan guna menurunkan angka defisit neraca transaksi berjalan (CAD) yang sudah sangat mengkhawatirkan.

Presiden Jokowi sebenarnya sudah mencanangkan akan membangun paling tidak 6 kilang baru pada Rencana Induk Pembangunan Kilang Minyak 2015. Namun, apa hendak dikata, sampai hendak habis masa pemerintahannya pada 2019 ini, satupun kilang baru tidak terbangun.

Rasanya, dibutuhkan keberanian bersikap dari kepala negara untuk mengatasi berbagai hambatan—teknis atau non teknis--yang coba menghalangi pembangunan kilang baru. Kendala apapun dan dari pihak manapun yang mencoba terus menikmati rente ekonomi, semestinya dengan mudah bisa diatasi oleh keputusan orang nomor satu di Republik ini.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X