• Rabu, 10 Agustus 2022

Dimana Ekonomi RI Tahun Depan?

- Senin, 19 Agustus 2019 | 12:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (kan/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (kan/watyutink.com)

Watyutink.com - Indonesia akan merayakan kemerdekaan ke-75 tahun depan, satu angka yang bagi sebagian masyarakat dinilai keramat dan sarat makna psikologis, apakah menjadi momentum bagi Indonesia untuk tumbuh pesat menjadi negara maju, sejajar dengan negara-negara besar lainnya, atau belum beranjak juga dari kelas menengah.

Kriteria negara maju tidak diukur oleh gegap gempita perayaan ulang tahun kemerdekaan. Parameternya konkrit seperti pendapatan per kapita, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB, kondisi neraca transaksi berjalan, cadangan devisa, tingkat kedalaman sektor keuangan, tingkat daya saing, indeks sumber daya manusia, dan seabrek ukuran lain.

Semua itu dicapai secara bertahap dari tahun ke tahun melalui pembangunan. Pembangunan didanai oleh APBN yang rancangannya disampaikan dalam sidang paripurna DPR. Seberapa kredibel RAPBN terlihat dari asumsi makro yang digunakan, apakah akan memberikan harapan ekonomi yang lebih baik atau penuh tantangan pada tahun depan?

Asumsi dasar ekonomi makro RAPBN 2020 telah ditetapkan meskipun masih dalam kisaran angka-angka. Potensi dampak perlambatan ekonomi dunia dan masih berlanjutnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China ke depan menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan asumsi tersebut. Apakah sudah tepat penetapan asumsi makro tersebut?

Pertumbuhan ekonomi dalam negeri yang diharapkan dapat terdongkrak karena momentum hari raya Idul Fitri juga tidak berjalan sesuai harapan, disamping kondisi defisit transaksi berjalan yang masih kembang kempis.

Rakyat tentunya berharap perekonomian Indonesia dapat jauh lebih baik, tetapi sampai batas mana harapan tersebut dapat terealisasi dengan asumsi ekonomi makro RAPBN 2020 yang ditawarkan? Bagaimanakah tantangan perekonomian Indonesia ke depan?

Dalam pidatonya, Presiden Jokowi hanya menyebut konsumsi dan investasi sebagai motor penggerak ekonomi, padahal pada banyak kesempatan presiden berkali-kali menekankan pada pentingnya investasi dan ekspor untuk mendorong pertumbuhan. Bagaimana perubahan orientasi dari outward ke inward ini bisa terjadi? Bagaimana tepatnya pemerintah ingin meningkatkan investasi sementara ekspor tidak nampak didukung lagi?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

OPINI PENALAR
-
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
 
 

Penyampaian pidato nota keuangan RAPBN 2020 sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat, baik para peneliti, akademisi, jurnalis, pemerhati ekonomi maupun pemerintah itu sendiri di pusat maupun di daerah. Yang paling utama adalah para pengusaha atau para investor. Dimana asumsi makro ini akan memberikan harapan dan prospek lebih baik atau tidak pada tahun depan. Atau justru lebih banyak memberikan tantangan bagi perekonomian ke depan.

Halaman:

Editor: Sarwani

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X