• Selasa, 16 Agustus 2022

Menelisik APBN 2020

- Selasa, 20 Agustus 2019 | 18:00 WIB
Ilustrasi kan watyutink
Ilustrasi kan watyutink

Watyutink.com - APBN 2020 telah dirilis oleh pemerintah. Harapan akan perbaikan perekonomian dalam negeri tentunya bergantung pada akurasi angka-angka anggaran pendapatan dan pengeluaran yang disajikan. Sebab, ketepatan pencapaian target anggaran yang diajukan pada saatnya nanti amat menentukan tingkat kredibilitas anggaran.

Namun tentunya, sebelum APBN 2020 disahkan oleh legislatif publik punya hak untuk menilai dan memberi masukan. Press Rilis Indef kemarin (19/8) mencatat anggaran negara 2020 disusun berlandaskan perkembangan perekonomian nasional yang sampai semester I/2019 kemarin masih berjuang untuk lepas dari defisit neraca pembayaran. Begitu pula dengan defisit neraca perdagangan dan current account deficit akibat melemahnya ekspor. Kondisi tersebut menjadikan kajian kritis terhadap APBN 2020 penting untuk diajukan.

Anggaran penerimaan negara pada 2020 mendatang dipatok pada angka Rp2.221,5 triliun. Terdiri dari penerimaan perpajakan Rp1.861,8 triliun, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) Rp359,3 triliun dan penerimaan hibah sebesar Rp 0,5 triliun.

Sementara segi pengeluaran ditargetkan pada angka Rp2.528,8 triliun. Terdiri dari belanja pemerintah pusat Rp1.670 triliun, serta transfer ke daerah dan dana desa sebesar Rp858,8 triliun.

Dari komposisi APBN 2020 terlihat bahwa anggaran negara masih menggunakan anggaran defisit sejak 2015. Defisit anggaran 2020 masih sebesar Rp307,2 triliun atau 1,76 persen terhadap PDB. Angka itu turun dibanding APBN 2019 yang defisitnya mencapai Rp310,8 triliun.

Namun, hal menarik adalah defisit keseimbangan primer APBN RI yang mengalami defisit sejak 2012. Defisit keseimbangan primer menunjukkan bahwa negara masih terus berutang untuk menutupi kewajiban pembayaran (bunga) utang. Dengan kondisi tersebut apakah pembiayaan pembangunan dan operasional negara masih bisa optimal? Bagaimana dengan sisi penerimaan negara yang 85 persen mengandalkan pemasukan pajak? Lalu, bagaimana dengan kualitas penerimaan negara pada APBN 2020? Bisakah target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen pada 2020 tercapai?

Kajian kualitas pendapatan negara menjadi amat penting. Angka penerimaan negara yang ditarget sebesar 13,72 persen PDB pada 2020 sepertinya menjadi tidak realistis mengingat kondisi perlambatan ekonomi global yang sedikit banyak berpengaruh pada perekonomian nasional. Namun, kondisi perekonomian global tentu saja tidak bisa terus menerus dijadikan alasan menurunnya perekonomian dalam negeri.

Angka tax ratio yang dipatok sebesar 10,57 persen - 11,18 persen dari PDB, harus mengupayakan membaiknya tingkat kepatuhan wajib pajak jika ingin mengupayakan peningkatan penerimaan. Tingkat kepatuhan Wajib Pajak diindikasikan menurun sejak adanya program tax amnesty pada 2016-2017. Apakah insentif-insentif pajak seperti tax holiday, investment allowance dan super deduction efektif untuk mendorong perekonomian?

Kajian pengeluaran, juga penting untuk menelisik apakah perencanaan belanja modal yang dapat mendorong pertumbuhan masih lebih besar dari anggaran belanja pegawai seperti terjadi selama ini. Begitu pula dengan fungsi ekonomi dan fungsi anggaran pendidikan serta pelayanan kesehatan yang merupakan fungsi mendasar fiskal.

Halaman:

Editor: Pril Huseno

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X