• Rabu, 10 Agustus 2022

Kemiskinan Bertopeng Gemerlap Kota

- Kamis, 29 Agustus 2019 | 17:30 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Watyutink.com - Kemiskinan di Perkotaan, adalah kenyataan kelam dari gemerlapnya kota-kota besar. Gemerlap yang menyimpan sisi kusam, pada tembok rumah atau gubug yang kadang saling bersandar bahu atau bersanding tembok dinding si kaya dan si miskin.  

Dapat dilihat dari berbagai sudut Ibukota Jakarta atau kota-kota besar lain di Indonesia, dibelakang atau disamping megahnya bangunan bertingkat yang meninju langit, berserak di sekitarnya perkampungan kumuh kaum miskin kota.

Kaum miskin kota, biasanya tak punya pekerjaan tetap. Profesinya bisa pemulung, pedagang kaki lima, buruh atau kuli angkut, juru parkir, penarik becak, pekerja honorer pabrik, seniman jalanan, buruh bangunan, dan bermacam pekerjaan serabutan yang diupayakan untuk sekadar bertahan hidup sehari-hari.

Angka pengangguran yang ikut berkontribusi terhadap jumlah kaum miskin kota, ke depan tidak akan berkurang signifikan, tapi malah berisiko bertambah, dengan semakin rawannya persoalan di perdesaan terkait berkurangnya lahan untuk pertanian. Juga, akibat berkurangnya lapangan pekerjaan karena melambatnya pertumbuhan industri. Persoalan menyusutnya lahan pertanian, berakibat jumlah urbanisasi dan penduduk menetap di kota-kota akan semakin bertambah, seiring dengan persaingan yang semakin ketat dalam memperoleh akses pekerjaan.

Meski BPS menyebutkan jumlah penduduk miskin kota terus menurun dengan jumlah 9,99 juta orang pada Maret 2019 atau turun dari sebelumnya 10,13 juta orang pada September 2018, sementara itu daerah perdesaan turun sebanyak 393,4 ribu orang (dari 15,54 juta orang pada September 2018 menjadi 15,15 juta orang pada Maret 2019).

Namun, melambatnya kondisi perekonomian dan menyempitnya akses pekerjaan menyebabkan risiko kelompok warga hampir miskin dan rentan miskin menjadi berada di bawah garis kemiskinan menjadi tinggi.

Apa yang harus dipersiapkan menyangkut terjadinya lonjakan angka kaum miskin kota ke depan? Sudahkah program-program pengentasan kemiskinan seperti Bansos PKH, JKN, KIP dan lain-lain memberdayakan kaum miskin kota? Sejauh mana upaya kelompok-kelompok kritis pemerhati kemiskinan kota membantu mengatasi persoalan tersebut?

Persoalan kemiskinan perkotaan dan perdesaan, bukan lagi terfokus pada soal akses mendapatkan makanan, tapi juga pada pendekatan “kemiskinan kebutuhan manusia”, akses terhadap perawatan kesehatan dan air, energi, hambatan perdagangan, kualitas gender, akses terhadap pendidikan (Earth Institute,2004).

Karenanya, menyederhanakan definisi kemiskinan hanya persoalan garis kemiskinan pada pendapatan per kapita per bulan yang dikalikan anggota keluarga menjadi tidak lagi relevan, bahkan absurd, karena tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap kesempatan memperoleh sumber daya finansial dan sumber daya kebutuhan manusia yang lain.

Halaman:

Editor: Pril Huseno

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X