• Rabu, 10 Agustus 2022

Krisis Ekonomi, Tak Harap Kembali

- Selasa, 10 September 2019 | 16:25 WIB
washingtonote
washingtonote

Watyutink.com -  Indonesia pernah dihajar habis-habisan oleh krisis moneter 1998 yang meluluhlantakkan bangunan ekonomi yang sudah dibangun selama puluhan tahun. Krisis yang memberikan pelajaran berharga bagaimana seharusnya Indonesia mengelola ekonominya.

Meski sudah babak belur dihajar krisis, tidak ada jaminan krisis tidak akan datang kembali. Ia bukan penyakit yang jika sudah dilakukan vaksinasi akan terhindar di kemudian hari. Jika lengah, tidak hati-hati mengelola ekonomi, dan tak pandai mengantisipasi gejolak ekonomi dunia, krisis akan datang kembali dalam skala yang sulit ditebak.

Jika pada 1998 Indonesia kehilangan separuhproduk domestik bruto dan banyak balita kekurangan gizi karena orang tua mereka kehilangan daya beli, maka krisis yang mungkin terjadi  di masa yang akan datang bisa menelan korban lebih banyak lagi. Namun bisa juga tidak terjadi, sepanjang pemerintah bisa mengantisipasinya dengan baik.

Tanda-tanda krisis sudah muncul. Keyakinan akan datangnya krisis sudah menjadi haqqul yakin para ekonom. Saat ini kondisi ekonomi global semakin memprihatinkan. Sejumlah negara mengalami perlambatan ekonomi. Kondisi ekonomi global yang semakin melemah meningkatkan risiko terjadinya resesi ekonomi global.

Dari sisi industri, harga komoditas dunia juga mengalami penurunan sehingga turut menekan sektor industri domestik yang berujung pada pelemahan kondisi ekonomi nasional. Current account balance yang masih defisit terlalu dalam turut meningkatkan risiko terjadinya resesi ekonomi di Indonesia.

Dalam mewaspadai resesi, apa saja aspek risiko ekonomi baik global maupun domestic yang perlu dicermati? Bagaimanakah sinergi kebijakan fiskal-moneter yang harus ditempuh pemerintah untuk mengantisipasi terjadinya resesi? Bagaimana meredam resesi melalui kebijakan-kebijakan di sektor industri?

Di sisi lain, Bank Dunia telah mengingatkan akan adanya perlambatan ekonomi global, ditambah perang dagang AS dan China yang semakin seru, pelemahan ekonomi Eropa dan China, bakal memicu arus keluar modal yang lebih besar dari Indonesia. Tidakkah ini dapat menyebabkan suku bunga acuan BI kembali meningkat dan rupiah terdepresiasi lebih dalam.

Capital outflow tersebut semakin berbahaya lantaran sampai saat ini Indonesia masih mengalami defisit neraca transaksi berjalan (CAD). Bank Dunia memproyeksi, CAD Indonesia pada akhir 2019 sebesar 33 miliar dolar AS, naik dari tahun sebelumnya yang sebesar 31 miliar dolar AS. Pertumbuhan FDI Indonesia juga lesu, diperkirakan hanya 22 miliar dolar AS. Di sisi lain, investasi RI di luar hanya 5 miliar dolar AS.

Dengan kondisi ini, Bank Dunia memperkirakan dibutuhkan sedikitnya 16 miliar dolar AS per tahun pembiayaan eksternal untuk menutup gap defisit tersebut. Pembiayaan eksternal yang dibutuhkan bisa lebih banyak jika capital outflow yang diprediksi benar-benar terjadi. Dengan situasi seperti ini apa yg mesti dilakukan pemerintah?

Halaman:

Editor: Sarwani

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X