• Selasa, 9 Agustus 2022

Ekonomi Digital Makin Binal

- Rabu, 9 Oktober 2019 | 16:10 WIB

Watyutink.com - Indonesia bakal mencatat sejarah baru sebagai negara dengan ekonomi digital terbesar di AsiaTenggara dalam 5 tahun mendatang. Riset terbaru Google, Temasek dan Bain & Company menyebutkan potensi omzet ekonomi digital di Indonesia dari tahun ke tahun semakin besar.

Google memperkirakan ekonomi digital di Indonesia akan terus meningkat dari posisi 40 miliar dolar AS pada 2019 menjadi 133 miliar dolar AS pada 2025. Faktor yang mendorong pertumbuhan yang pesat tersebut adalah wilayah Nusantara yang luas dan jumlah penduduknya yang besar, menjadi keunggulan tersendiri dibandingkan dengan negara lain di Asean.

Ditambah lagi dengan pembangunan infrastruktur dan ekosistem ekonomi digital yang terus membaik membawa Indonesia ke posisi puncak di kawasan Asia Tenggara dengan rata-rata pertumbuhan omzet sebesar 49 persen per tahun.  

Namun apakah benar pembangunan infrastruktur dan ekosistem ekonomi digital telah mampu meningkatkan nilai? Jangan-jangan hanya cerita yang dilebih-lebihkan tentang inovasi teknologi. Jumlah penduduk Indonesia yang melimpah ruah digadang-gadang sebagai market yang sangat potensial. Tetapi apakah semua populasi membutuhkan produk yang dijual?

Di samping itu, penetrasi internet juga meningkat tajam dari 92 pengguna pada 2015 menjadi 153 juta pengguna pada tahuh ini. Kondisis tersebut menjadi salah satu faktor penting yang turut mendorong tumbuhnya ekonomi digital dengan cepat.

Indonesia dipandang memiliki kemiripan karakteristik dengan China yang kini menjadi raksasa dalam industri digital. Untuk bisa mengejar omzet yang lebih tinggi, Indonesia harus mengoptimalkan penggunaan layanan pembayaran digital. Dari 264 juta penduduk, hanya 42 juta yang memiliki rekening bank. Hal ini memberikan peluang besar bagi sistem pembayaran online. Apakah kesamaan karakter ini membuka peluang lebih lebar kepada China untuk membangun ekonomi digital di Tanah Air?

Riset tersebut juga menyebutkan penyumbang terbesar petumbuhan omzet ekonomi digital berasal dari empat subkategori  yakni  e-commerce, online travel, media online, dan transportasi online.  E-commerce mencatat pertumbuhan paling tinggi dari 12,2 miliar dolar AS pada tahun lalu menjadi 22 miliar dolar AS pada tahun ini. Posisi  kedua ditempati transportasi online yang naik dari 3,7 miliar dolar AS menjadi 6 miliar dolar AS pada periode yang sama.

Namun hasil riset tersebut seperti bertolak belakang dengan kondisi perusahaan yang masuk dalam kategori ekonomi digital. Dalam beberapa waktu terakhir saham Uber dan Lyft anjlok nilainya lantaran gagal memenuhi harapan investor.

Uber, sebagai pelopor ride-hailing yang diikuti oleh Gojek dan Grab, misalnya, mengalami penurunan nilai sebanyak 30 persen, lebih rendah dari harga perdananya. WeWork memangkas valuasi hingga Rp450 triliun atau 70 persen lebih rendah dari valuasi sebelumnya, sehinggga terpaksa menunda IPO.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X