• Rabu, 10 Agustus 2022

Bulan Defisit, Ekonomi Mau Move on, Atau Terjerembab?

- Rabu, 16 Oktober 2019 | 09:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Watyutink.com - Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rilis nya pada (15/10) menyatakan dalam laporannya bahwa terdapat nilai ekspor yang mencapai 14,1 miliar dolar AS, sementara nilai impor tercatat 14,26 miliar dolar AS. Hal itu berarti pada ekspor terjadi penurunan  sebesar 5,74 persen secara year on year (YoY). Dijelaskan, penurunan ekspor tersebut terjadi akibat turunnya ekspor migas dan non migas. Sehingga, pada September 2019 neraca perdagangan kembali defisit 160 juta dolar AS.

September 2019 sepertinya bulan yang “bad news”. Lihat saja data perubahan secara sektoral dari ekspor September 2019 secara tahunan : Migas turun 37,13 persen menjadi 0,83 miliar dolar AS, Pertanian, naik 12,24 persen menjadi 0,36 miliar dolar AS, Pengolahan, turun 0,44 persen menjadi 10,85 miliar dolar AS, Pertambangan turun 14,82 persen menjadi 2,06 miliar dolar AS.

Sementara nilai impor pada September 2019 mencapai 14,26 miliar dolar AS, turun 2,41 persen secara YoY. Penurunan pada September 2019 memang diperkirakan dari memburuknya perekonomian dunia yang mengalami kontraksi serius akibat perang dagang China – Amerika Serikat dan China yang mengakibatkan perlemahan sektor perdagangan dunia.

Namun, meski mengalami defisit neraca perdagangan yang telah berlangsung selama 11 bulan, mengapa belum Nampak upaya serius dalam mengatasi dampak dari perlambatan ekonomi dunia? Akibatnya, neraca perdagangan masih terus defisit bahkan sampai menyentuh -8,7 miliar dolar AS pada 2018. Sementara CAD juga tercatat sebesa 31,05 miliar dolar AS, atau setara 2,98 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Itu juga merupakan yang paling parah sejak tahun 2014.

Kondisi defisit yang terjadi memang sudah diingatkan oleh berbagai pihak antara lain disebabkan oleh terlalu bergantungnya Indonesia pada penerimaan dari sektor komoditas (minyak sawit dan batubara). Akibat ketergantungan terhadap komoditas sumber daya alam tersebut, maka memang angka ekspor menjadi amat bergantung pada naik turunnya harga komoditas dunia. Repotnya, ketika kondisi perekonomian dunia dengan perdagangan yang melambat, maka Indonesia segera merasakan dampaknya.

Ketergantungan pada komoditas SDA yang tidak pernah diubah orientasinya, tentu saja akan menjadi masalah besar apabila semua basis komoditas atau SDA sudah habis atau tidak lagi mempunyai daya saing. Sementara negara lain seperti Vietnam telah lama menyadari untuk tidak bergantung pada komoditas atau hasil SDA. Vietnam kini mengandalkan 40 persen ekspornya dari produk-produk elektronik yang otomatis menjadi bumper ekonomi yang bermanfaat.

Apakah perekomomian Indonesia akan terus saja taken for granted kepada hasil SDA atau komoditas yang telah berlangsung sejak zaman kolonial? Atau, sudah adakah langkah-langkah yang akan dilakukan pada kabinet mendatang untuk kembali merevitalisasi industri yang terpuruk? Sebab, kalau dibiarkan, Indonesia bisa-bisa terjerambab-terjebak pada pertumbuhan ekonomi yang hanya 5 persen selamanya.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

OPINI PENALAR
-
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen
 
 

Tidak bisa tidak harus diakui bahwa memang pengaruh faktor luar atau perekonomian dunia yang sedang mengalami perlambatan memang berpengaruh ke ekonomi domestik.

Halaman:

Editor: Pril Huseno

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X