• Selasa, 5 Juli 2022

Mengejar Target Pertumbuhan, Bagai Mendorong Mobil Mogok?

- Jumat, 18 Oktober 2019 | 15:30 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Watyutink.com - Kondisi perekonomian global diprediksi akan mengalami krisis pada 2020 mendatang. Meski diperkirakan tidak berdampak signifikan ke dalam negeri, namun dengan kondisi industri nasional saat ini, kiranya cukup menjadi alarm bagi pemerintah untuk lebih mawas diri.

Dibangunnya infrastruktur di berbagai daerah yang masuk dalam lima sektor dengan kontribusi tertinggi bagi PDB dan pertumbuhan ekonomi, serta upaya menumbuhkan pemerataan pembangunan di seluruh negeri, memang mempunyai sedikit banyak dampak positif. Namun demikian, munculnya tren menurunnya konstribusi industri terhadap PDB dari tahun ke tahun dan realisasi investasi yang masih belum sejalan dengan penurunan angka pengangguran, masih menjadi pekerjaan rumah yang cukup menantang.  

Oleh karenanya ditilik dari kinerja pemerintah ke belakang, nampaknya akan sulit bagi Indonesia untuk mendapat lonjakan ekspor di tengah pelemahan daya saing industri tanpa ada perbaikan signifikan secara fundamental.
Menjadi pertanyaan, bisakah kabinet baru ke depan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih signifikan? Atau justru anjlok di bawah angka lima persen sebagaimana prediksi Bank Dunia?

Dari diskusi buku “Globalization, Productivity, and Production Network in ASEAN” karya Fithra Faisal, yang dilaksanakan Kamis (17/10/2019) oleh Next Policy di Jakarta, diperoleh gambaran perihal tantangan bagi ASEAN untuk mempertahankan dan memacu pertumbuhan ekonomi. Dengan lokus dan fokus pada Indonesia, buku tersebut memaparkan lebih dalam tantangan ekonomi global termasuk di dalamnya globalisasi, ledakan populasi dan bonus demografi, FDI, dan terutama mengenai inovasi dan teknologi.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa perkembangan industri 4.0 yang mengedepankan kolaborasi dan inovasi akan mempengaruhi produktivitas dan daya saing SDM Indonesia ke depan untuk memfokuskan diri dalam menghadapi tantangan yang tengah menjadi tren ekonomi global.

Namun di tengah tantangan yang demikian besar, Indonesia masih harus membenahi berbagai sektor strategis, diantaranya sektor pengelolaan SDM yang dirasakan amat kurang bagi kesiapan untuk memanfaatkan bonus demografi dan kebutuhan industri berteknologi tinggi.

Oleh karenanya, perlu untuk segera memetakan persoalan dasar dan strategi pencapaian keberhasilan bagi Indonesia, untuk dapat bertahan di era sulit pelemahan ekonomi global, sekaligus agar dapat keluar dari jebakan pertumbuhan ekonomi lima persen.

Apa saja prasyarat untuk dapat bertahan pada era sulit penurunan ekonomi global? Harus mulai dari mana pemetaan persoalan dasar yang harus dirampungkan? Sektor mana saja yang harus dikedepankan menjawab segala tantangan globalisasi dan bonus demografi mendatang?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X