• Selasa, 16 Agustus 2022

Mengejar Target Pertumbuhan, Bagai Mendorong Mobil Mogok?

- Jumat, 18 Oktober 2019 | 15:30 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)
OPINI PENALAR
-
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI
 
 

Globalization, Productivity and Production Network in ASEAN, sebenarnya adalah mencerminkan apa yang akan kita hadapi ke depan sebagai negara. Dan bagaimana sebenarnya tantangan bagi kabinet Jokowi 2.0 dalam menghadapi tantangan-tangangan tersebut.

Tantangan global bagi kabinet Jokowi 2.0 adalah pertama, bagaimana Indonesia bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah. Ini sebuah tantangan yang butuh effort dan kolaborasi yang luarbiasa. Tentunya bukan hanya pekerjaan pemerintah sendiri, dan merupakan tugas kita bersama.

Kalau bicara ihwal bagaimana keluar dari jebakan pendapatan menengah, adalah bicara tentang kontribusi dari inovasi dan juga produktivitas.

Berdasarkan perhitungan yang kami lakukan, untuk bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah, setidak-tidaknya harus tumbuh minimal 6,5 persen sampai tahun 2030. Artinya kalau kita bicara 5 persen jelas tidak cukup, dan butuh dorongan yang lebih. Dorongan bisa didapat dari pertama, Ekspor., dan kedua, Investasi.

Setidaknya sampai tahun 2024 untuk bisa mencapai pertumbuhan ekonomi 6,5 persen, minimal dibutuhkan investasi sebesar Rp35 ribu triliun, 10 persen diantaranya berasal dari pemerintah. Sisanya berasal dari swasta. Untuk bisa mencapai target 6,5 persen pada 2030 secara rata-rata ekspor kita harus tumbuh minimal 9,8 persen.
Hal di atas tentunya suatu hal yang agak sulit untuk dicapai. Kecuali, kalau pemerintahannya fokus.

Untuk bisa fokus, caranya adalah bagaimana kita bisa memfungsikan teknologi. Teknologi merupakan suatu hal yang bisa mencetuskan pertumbuhan ekonomi tinggi. Bagaimana kita bisa membangkitkan industri dan investasi di sektor SDM. Seperti dulu pada waktu pidato kemenangan Jokowi dimana disebutkan akan fokus pada infrastruktur dan SDM. Arahnya jelas, bagaimana kemudian kita bisa membuat SDM kita compatible dengan kebutuhan industri. Hal itulah yang kemudian kita bicarakan tentang labour of manting technology.

Tetapi ternyata tidak hanya itu. Kalau kita bicara compatibility, maka kita bicara bagaimana kemungkinan kurikulum dari kampus bisa terhubung dengan industri.

Celakanya, kalau kita lihat sekarang dari tujuh juta pengangguran, empat juga diantaranya berusia 15-24 tahun. Artinya, hal itu merupakan potensi yang luarbiasa dari bonus demografi yang kita miliki, sesuatu yang amat berharga dibanding negara seperi Jepang dan China yang sudah kehilangan generasi muda. Tapi Indonesia masih memiliki bonus demografi dari kaum muda usia produktif.

Maka keuntungan tersebut tentu saja harus dioptimalkan. Caranya, dengan memanfaatkan teknologi. Berikutnya yang tidak kalah penting adalah, ketika Indonesia mampu untuk meningkatkan produktivitas, maka kita akan mampu untuk berbicara pada penguatan ekspor.

Kemudian, bagaimana caranya agar Indonesia bisa meningkatkan ekspor? maka harus fokus ke infratruktur dan SDM yang bisa meningkatkan industrialisasi. Sejatinya, kalau kita bicara current account deficit, maka kita bicara bukannya menekan impor, karena 90 persen impor justru untuk mendukung kebutuhan industri.

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X