• Selasa, 9 Agustus 2022

Mengejar Target Pertumbuhan, Bagai Mendorong Mobil Mogok?

- Jumat, 18 Oktober 2019 | 15:30 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Yang harus ditingkatkan adalah bagaimana Indonesia bisa meningkatkan kapasitas perekonomian kita untuk berproduksi, yang pada akhirnya menciptakan surplus yang bisa diekspor. Disitulah sebenarnya kunci utamanya.
Tetapi tentu saja tidak hanya itu. Ketika kita memiliki kemamuan untuk berproduksi, kita juga harus melihat marketnya seperti apa. Oleh karenanya pada buku saya juga berbicara mengenai penguatan ikatan kewilayahan dan global production network.

Saat ini Kementerian Perdagangan sudah menginisiasi RCEP (Regional Comprehensive Economic Partnership). Hal itu adalah suatu bentuk penguatan kewilayahan.

Sebelumnya kita sudah bergabung pada TPP, tapi kemudian Trump menarik diri dari TPP. Sebenarnya sekarang kalau bicara momentum maka saat ini adalah momentumnya Asia, bukan Barat.

Jadi, kalau saat ini kita bicara Eropa, maka relatively sudah agak gloomy, karena masa depan dunia sekarang ada di Asia. Maka, hal itu tentu saja harus diaktualisasi, caranya, harus lebih terukur. Untungnya, sekarang China sudah lebih konkrit untuk masuk ke RCEP. Sudah mau bergabung dalam kolaborasi dengan Jepang. Sebelumnya China dikenal tidak akan mau ikut dalam sebuah perkongsian dimana ada Jepang di situ.

Jepang membuat RCEP karena dia tidak mau bersaing langsung head to head dengan China di Asia Pacifik. Sekarang, China harus mau masuk ke ASEAN Plus, karena tidak ada piihan lain. Di ASEAN ada US – China Freeport, sehingga dia harus menurunkan egonya dan mendukung penguatan kewilayahan.

Dulu ketika kita survive pada krisis 2008 itu terjadi antara lain karena ikatan diantara negara-negara ASEAN jauh lebih kuat daripada sebelumnya, dengan adanya FTA dan beberapa kerjasama perdagangan. Sehingga Indonesia relatif lebih resilience.

Untuk lebih membangkitkan lagi resiliency di masa depan, maka kita harus berkongsi bersama-sama. Setidak-tidak nya dalam menghadapi tantangan-tantangan yang lebih berat pada 2020, dengan kabar akan adanya resesi dan krisis ekonomi global.

Meski masih perkiraan, tetapi kita harus tetap waspada. Maka salah satu yang bisa menguatkan kita adalah ikatan kewilayahan. Dan how to make it works? Bagaimana kemudian kita bisa me utilisasi ikatan kewilayahan ini? Kuncinya adalah, bagaimana kita bisa memanfaatkan global productivity network atau global value change. Intermediary products, atau intermediary inputs, yang mana pada akhirnya hal itu bisa menjadikan Asia basis produksi global.

Nah, Indonesia seharusnya menjadi fokus utama yang ada di situ. Tetapi sayangnya, kalau kita rangking dalam global production network ternyata Indonesia sudah tertinggal oleh Thailand, Malaysia, Filipina dan Vietnam. Jadi kita sudah kalah dalam rangking jejaring produksi global.

Wajar kalau pak Jokowi tempo hari kecewa karena ada 33 industri China yang relokasi ke Asia Tenggara dan kemudian 20 diantaranya memilih membuka base di Vietnam, dan sisanya ke Kamboja dan Thailand.

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X