• Rabu, 10 Agustus 2022

Believe or not, Kabinet Indonesia Maju Sebisanya?

- Rabu, 23 Oktober 2019 | 15:30 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Apa pendapat Anda? Watyutink?  

OPINI PENALAR
-
Ekonom Konstitusi
 
 

Susunan kabinet Indonesia Maju yang sudah diumumkan dan dilantik oleh Presiden Jokowi untuk masa jabatan 2019-2024 saya nyatakan pada tim ekonomi kabinet sekarang, cukup kompatibel, tidak cukup capable.

Karena, walapun secara politik pos perindustrian diisi oleh kader Golkar, tetapi tentu saja visi atau persepsi Airlangga Hartaro dan Agus Gumiwang Kartasasmita dalam menggarap bidang Perindustrian akan berbeda. Latar belakang keduanya juga berbeda. Apalagi Agus Gumiwang sebelumnya juga sebagai Menteri Sosial.

Tentu saja butuh waktu bagi keduanya untuk meramu kembali apa yang sudah diamanahkan dalam mandat visi presiden yang sudah diberikan. Terlebih, Persoalan manufaktur kita adalah bukti dari kegagalan Airlangga Hartarto  ketika menjabat pada Kabinet Kerja jilid 1.

Sementara Agus Gumiwang tidak paham industri hulu dan hilir serta apa yang harus dilakukan. Hal ini adalah persoalan konsolidasi awal yang menurut saya lemah.

Kedua, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto  tidak saya kenal secara pribadi, tapi menurut saya juga cukup lemah. Namun dalam perspektif kebaruan, kita harus lihat dulu kinerjanya. Saya terus terang tidak punya track recordnya. Tidak pernah berbicara soal ekonomi, perdagangan dan industri.

Saya melihat pada kabinet sekarang kepentingan oligarki partai politik (parpol) lebih dominan dibandingkan keahliannya. Kita memang tidak menolak orang-orang parpol karena presiden memang harus mengakomodasi sebagai bentuk dukungan dengan pamrih—inilah politik kita. Hak prerogatif dari presidential system tidak berjalan secara optimal. Jadi tetap ada nuansa transaksional di situ.

Tetapi, memilih right man on the right place itu penting dengan tagline sebagai Kabinet Indonesia Maju. Tanpa itu nonsense, terutama untuk membangun kembali industri kita dan meningkatkan nilai tambah dari hulu ke hilir yang bisa dilakukan secara maksimal, karena kompetensi dan kapasitas menteri-menterinya.

Apabila kemudian kita lihat pada posisi Menteri Keuangan tidak ada perubahan paradigma. Paradigma defisit, paradigma utang, paradigma asing, karena benar-benar sosok menteri yang textbook thingking. Tidak akan bisa melakukan kreasi.

Hal itu adalah bentuk inkapabilitasnya. Tetapi dalam kontek kompatibelnya hal itu menemukan arah yang benar karena ada menteri-menteri baru yang cukup banyak.

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X