• Rabu, 10 Agustus 2022

Bank-Bank Dunia Collaps, Lampu Kuning Perbankan Domestik

- Kamis, 24 Oktober 2019 | 17:30 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Perihal perlambatan atau penurunan tingkat kredit oleh nasabah lebih banyak disebabkan oleh terjadinya perlambatan perekonmian. (pso)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 
-
Dosen Departemen Ilmu Ekonomi FEB Unpad, Peneliti Center for Economics and Development Studies
 
 

Sebenarnya “nyawa” perbankan ada di lending activity dan funding activity, atau aktiva dan pasiva bank. Memang kalau kita lihat aktiva perbankan dari sisi aset sepertinya masih menunjukkan hal yang positif, meskipun mengalami sedikit penurunan.

Begitupula dengan sisi kredit, karena aset perbankan ditopang sebagian besar oleh kredit. Dari data yang ada memang menunjukkan arah bisnis perbankan kita yang menurun. Data penurunan kinerja kredit yang hanya 9,94 persen pada akhir semester I 2019 dibandingkan data bulan Mei 2019 (11,05 persen) menunjukkan ada pertumbuhan meski masih menurun.

Perlambatan pertumbuhan kredit perbankan memang bisa jadi karena adanya impact dari perlambatan ekonomi global sehingga para pelaku ekonomi yang dibiayai oleh perbankan tidak bisa melakukan ekspansi. Kebanyakan masih wait and see menunggu situasi perekomian stabil kembali, sehingga belum berani melakukan ekspansi produksi.

Selama ekonomi global masih belum stabil, maka ke depan masih akan tetap berdampak negatif terhadap kondisi perbankan Indonesia terutama penyaluran kredit.

Di satu sisi memang pengaruh disrupsi teknologi membuat bank menghadapi kompetitor sejati yakni kemajuan teknologi itu sendiri. Artinya, perbankan tidak bisa mengelak untuk bersaing dengan teknologi.

Artinya tumbuhnya fintech yang memang lebih inklusif atau inklusivitasnya lebih baik dibanding perbankan, maka hal itu menjadi tantangan tersendiri. Masyarakat yang semula tidak bankable berubah menjadi “fintechable”.

Orang sekarang dapat dengan mudah mengakses kredit meski hanya untuk pinjaman skala mikro. Baik untuk tujuan permodalan maupun konsumsi. Terlebih lagi kemudian hal itu difasilitasi oleh fintech dengan model peer to peer lending.

Bahkan untuk tujuan transaksi sekarang masyarakat lebih memilih untuk menyimpan di fasilitas Gopay atau OVO misalnya. Apalagi bagi kaum milenial  yang sudah sangat dimanjakan oleh berbagai fasilitas layanan yang disediakan digital platform.

Sekarang sudah jamak bagi kaum milenial yang bergaji bulanan Rp5 juta misalnya, maka Rp2,5 juga langsung disimpan di OVO atau Gopay. Artinya yang dulu menyimpan di perbankan konvesional, sekarang beralih ke fasilitas digital platform. Karena fasilitas itu sangat memudahkan mereka bertransaksi apapun untuk kebutuhan sehari-hari.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X