• Selasa, 9 Agustus 2022

Infrastruktur di Periode Kedua, Upaya Membangun Optimisme

- Jumat, 25 Oktober 2019 | 19:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Namun tentu saja hal ini belum akan mampu meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat. 

Oleh karena itu pada periode kedua disamping meneruskan pembangunan infrastruktur dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia maka diharapkan pemberantasan korupsi dan penertiban aparat pemerintahan dan birokrasi harus ditangani lebih serius lagi serta iklim usaha/sistem ekonomi harus dirubah secara mendasar. sebab bila tidak, maka pembangunan yang cepat tentu akan menimbulkan kebocoran/korupsi yang besar.

Era revolusi industri 4.0 atau Era Disruption penuh ketidakpastian kompleksitas ambiguitas di mana terjadi lompatan besar industri menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk hal ini perlu masyarakat diberikan pemahaman tentang Masyarakat 5.0 dengan alat-alat produksi seperti internet on thingsArtificial intelligent, big data dan robotik yang tentunya bertujuan harus mampu menyelesaikan masalah sosial yang kompleks dengan mengintegrasikan sistem dunia maya dan dunia nyata. Juga harus mampu mengembangkan pembangunan ekonomi yang didasari sosial kultural. 

Masalah ini hanya akan bisa di atasi apabila generasi muda sebagai pemilik masa depan bangsa mampu berpikiran kritis analitis dan kreatif, tentu saja dengan guru-gurunya yang mampu mengarahkan anak didik mencari solusi bersama dan memberikan nilai nilai baru dalam kehidupan. 

Pancasila sebagai jalan hidup bangsa adalah suatu sistem yang bertujuan mensejahterakan rakyatnya diawali dengan membangun petani sejahtera dengan landasan strategis Trisakti sesuai dengan ajaran Bung Karno yaitu pembangunan harus terpikul dan dipikul oleh kultur dan natural-nya bangsa. 

Dengan demikian seharusnya lah pemerintahan kabinet Jokowi Indonesia Maju untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui teknologi digital lebih fokus kepada tujuan wisata dunia dan pembangunan kedaulatan pangan, agar menjadi gudang pangan dunia dengan menyiapkan inovator-inovator terutama inovator incorporated yang akan mengimplementasikan di desa dan pinggiran kota, serta menyiapkan data data terpadu,  pemerintahan yang transparant, UMKM dan ekonomi kreatif serta merubah sistem ekonomi konglomerasi dengan pembentukan Undang-undang Anti Trust

Bila kita lihat komposisi kabinet Indonesia maju, maka mungkinkah cita-cita proklamasi sesuai dengan tujuan Pancasila sebagai the way of life dari bangsa Indonesia akan bisa terbangun? Inilah BIG QUESTION?

Kesemuanya hanya  sampai pada keinginan saja (Want to do not know how to make ), hanya omong kosong hanya, lips service bila Undang-undang Pokok Agraria No 56 tahun 1960 tidak berani di IMPLEMENTASIKAN.    
                     
Karena 10 tahun kedepan DUNIA akan sangat membutuhkan buah-buahan dan pangan.

Maka apa yang akan terjadi kita akan Loss atau jadi Winner

Untuk dipikirkan bersama. (pso)

Halaman:

Editor: Pril Huseno

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X