• Senin, 15 Agustus 2022

Di Pundakmu Ekonomi Bangsa Dipertaruhkan

- Senin, 28 Oktober 2019 | 16:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Diharapkan kegaduhan antara Kementerian Perdagangan dan Kementerian Pertanian terkait dengan kebijakan impor beras pada 2018 tidak terjadi. Lebih lanjut, gaduh juga tidak terjadi di area kebijakan lain. Hal ini sejalan dengan permintaan Presiden Jokowi di Rapat Perdana Kabinet Indonesia Maju.

Pergeseran Permintaan Pangan dari Karbohidrat ke Nonkarbohidrat

Pergeseran ini akan berdampak pada pergeseran sumber inflasi dari inflasi karbohidrat (beras)  ke inflasi protein (telor, daging ayam ,daging sapi, holtikultura). Pergeseran ini seiring dengan meningkatnya income masyarakat, terutama kelas menengah.

Contoh sederhananya, ketika  masih bersekolah/kuliah yang lebih dipentingkan adalah kenyang sebagai pilihan utama. Namun setelah memiliki berpenghasilan, pola konsumsi tersebut berubah menjadi konsumsi dengan menambah varian sumber protein. Pemerintah harus mengantisipasi pergeseran pola permintaan ini agar inflasi pangan di masa depan lebih terkendali.

Solusi untuk antisipasi pergeseran sumber inflasi tersebut adalah : data pangan yang akurat dan valid. Apabila data pangan akurat dan valid, maka kebijakan turunan lainnya seperti distribusi, keputusan impor/ekspor bisa lebih tepat.

Konsolidasi Lahan

Tantangan berikutnya adalah konsolidasi lahan. Sawah di Indonesia kebanyakan berupa petak kecil-kecil berukuran di bawah setengah hektar. Alhasil, masing-masing petak cenderung memiliki fungsi produksi yang berbeda-beda. Adanya perbedaan fungsi produksi yang berbeda, membuat setiap petak  kecil berbeda-beda dan bisa berada pada hasil yang tidak optimal.

Contoh sederhananya adalah  ada 5 petak sawah ukuran dibawah  0,5 ha. Masing-masing petak dikuasai oleh petani yang berbeda. Masing-masing petani memiliki intensi yang berbeda dalam merawat sawahnya (ada 5 fungsi produksi) . Oleh karena itu ada perbedaan hasil masing-masing petak sawah.

Apabila 5 petak sawah tersebut digabungkan jadi satu, dan diolah dalam 1 supervisi petani/kelompok tani, maka hanya akan ada 1 fungsi produksi dengan luas lahan  yang lebih luas. Alhasil, panen dari gabungan sawah tersebut bisa optimal. Konsolidasi lahan seperti ini memungkinkan mekanisasi pertanian lebih efektif. (msw)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 
-
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
 
 

Komposisi pemilihan menteri-menteri ekonomi pada kabinet kali ini tentu masih belum ideal. Kita masih melihat posisi strategis penopang industri seperti Kementerian Perindustrian dan Perdagangan masih diisi oleh orang partai.

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X