• Senin, 15 Agustus 2022

Di Pundakmu Ekonomi Bangsa Dipertaruhkan

- Senin, 28 Oktober 2019 | 16:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Idealnya posisi tersebut disi oleh profesional. Jika memang ingin dari partai, perlu dipilih dengan latar belakang dan keahlian yang mumpuni. Pemilihan Wamen yang idealnya dari kalangan profesional dan pejabat karir pun hanya sebagian yang dipenuhi.

Pada 2014, lima tahun lalu, tantangan ekonomi berkisar pada melambatnya pertumbuhan ekonomi akibat boom komoditas yang mulai menghilang. Dampaknya cukup terasa ketika Indonesia masih mengandalkan produk ekspor andalan komoditas alam seperti CPO dan batubara.

Lima tahun lalu juga tantangan lainnya adalah melemahnya nilai tukar akibat berbondong-bondongnya modal asing keluar (capital outflow) selepas berakhirnya Quantitive Easing oleh The Fed menjadi batu sandungan lain, meski dampak lanjutan berhasil diredam.

Serupa dengan periode pertama, pada periode kedua ini, Presiden dihadapkan dengan tantangan ekonomi yang tidak mudah. Perang dagang China dan Amerika Serikat masih belum usai. Kedua negara kini dihadapkan pada kondisi sama-sama mulai menanggung dampaknya. Alih-alih mendapatkan kesempatan dari diversi perdagangan, Indonesia malah menjadi korban perang dagang.

Dampak pelemahan perekonomian China terhadap industri kita saat ini adalah bagaimana China sebagai mitra dagang terbesar perlu kita cermati tantangan perdagangannya ke depan, setidaknya dalam lima tahun yang tentu akan berdampak pada industri dalam negeri.

Tidak ada yang mengira perang dagang dengan Amerika Serikat mampu menekan pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga China menjadi yang terendah selama 27 tahun. Perdagangan China sudah mengarah pada perlambatan.

Pada September, pertumbuhan ekspor China menurun 3,2 persen, sementara impornya menurun hingga 8,5 persen dibanding tahun lalu. Tentunya, penurunan pertumbuhan ekspor terbesar terjadi dengan Amerika Serikat dengan penurunan sebesar 7,8 persen, dan impor menurun hingga sebesar 31,2 persen.

Jika ditelusuri lebih lanjut, pelemahan indikator perdagangan ini disebabkan oleh pengenaan tarif yang tinggi oleh Amerika Serikat terhadap komoditas impor dari China. Kondisi ini memaksa industri domestik China untuk mengencangkan ikat pinggang. Beberapa diantaranya memilih untuk relokasi pabrik serta basis produksinya ke beberapa negara sekitar seperti India, Vietnam, Thailand, dan Malaysia demi tetap bisa masuk ke pasar Amerika Serikat.

China juga mengalami inflasi sebesar 3 persen, tertinggi selama 7 tahun terakhir. Harga pangan menjadi penyumbang terbesar dari inflasi. Meningkatnya harga pangan didominasi oleh krisis daging babi yang disebabkan oleh flu babi Afrika yang menjangkiti setengah dari populasi babi di China.  Selain pangan, kenaikan harga juga dialami oleh pakaian. Besarnya kenaikan harga tentu menekan permintaan domestik.

Melambatnya perekonomian China bisa menjadi pertanda yang tidak cukup menggembirakan bagi perdagangan Indonesia.

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X