• Selasa, 9 Agustus 2022

Industri Tekstil Nasional, Hikayat Runtuhnya Industri Tertua

- Jumat, 1 November 2019 | 15:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Sepertinya diperlukan sekarang hanya pemihakan terhadap industri nasional agar tidak menjadi tikus yang mati di lumbung padi karena persoalan sumber daya alam Indonesia masih teramat banyak yang bisa dimanfaatkan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Apa pendapat Anda? Watyutink?

 

OPINI PENALAR
-
Ketua Umum Ikatan Ahli Tekstil Indonesia (IKATSI)
 
 

Hal jangka pendek yang menjadi penyebab dari merosotnya industri tekstil nasional saat ini adalah dampak dari trade war Amerika Serikat (AS) – China. Perang dagang tersebut menyebabkan produk tekstil China tidak bisa menembus pasar AS dan akhirnya mereka mencari pasar lain dengan membanjiri pasar Asia Tenggara, khususnya Indonesia.

Tetapi secara struktural hampir semua industri nasional memang sudah lemah pada 10 hingga 20 tahun terakhir. Jadi sejak reformasi sepertinya industrialisasi tidak jalan lagi. Hal itu antara lain karena kita sibuk berpolitik dan dana besar tersedot ke sana. Akibatnya nilai ekspor kita terus merosot, dan secara alamiah produksi minyak bumi kita juga memang terus merosot.

Khusus untuk industri tekstil, memang sejak reformasi tidak ada lagi investasi baru.  Pemerintah juga agak lalai dalam memperhatikan peningkatan kualitas SDM kita. Perguruan Tinggi negeri juga tidak lagi membuka prodi baru untuk teknologi tekstil.

Upaya restrukturisasi industri tekstil juga ternyata gagal. Pernah beberapa kali dilakukan upaya restrukturisasi industri tekstil. Pada 1990an dilakukan restrukturisasi awal industri teksil yang gagal. Setelah itu dilakukan lagi pada tahun 2000-2015 tapi tidak tepat sasaran.

Pengusaha tekstil meminjam uang dengan skema restrukturisasi tetapi ternyata mereka tidak gunakan dana itu untuk membeli mesin-mesin tekstil berteknologi baru. Ditemukan kemudian, beberapa pengusaha malah menggunakan dana itu untuk membeli tanah guna membangun properti. Contohnya grup Alam Sutera, itu semula dari grup industri tekstil tapi malah membangun properti.

Pihak bank juga tidak mengawasi  persis penggunaan dana tersebut. Bagi bank mungkin yang penting cicilan lancar dengan agunan pabrik-pabrik industri tekstil. Setelah reformasi memang bisinis properti sedang tumbuh. Dampaknya industri tekstil tidak bisa berkembang sebagimana yang diharapkan. Sekarang kita malah tertinggal jauh dari negara-negara tetangga yang dulu masih belum apa-apa dalam industri tektil.

Sebelum reformasi 1998, ekspor tekstil Indonesia sempat menyentuh 7,2 miliar dolar AS. Bangladesh, ketika itu eskpor tekstilnya masih sekitar 200-300 juta dolar AS. Tetapi sekarang Bangladesh sudah jauh menyalip dan kita tertinggal.

Halaman:

Editor: Pril Huseno

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X