• Sabtu, 20 Agustus 2022

Sekali lagi Ancaman Resesi, Nyata atau Hanya Ilusi?

- Senin, 4 November 2019 | 16:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Watyutink.com - Ancaman resesi ekonomi bagi Indonesia, beberapa waktu terakhir menjadi topik menguat, setelah publik mengerti bahwa perekonomian dunia sedang mengalami perlambatan yang tidak main-main.

Angka capaian pertumbuhan ekonomi dunia 2019 yang direvisi menurun oleh Bank Dunia dan IMF, ditengarai sebagai akibat langsung dan tidak langsung dari perang dagang Amerika Serikat (AS) vs China yang belum juga usai. Akibatnya, transaksi perdagangan global juga ikutan anjlok, menyusul stagnasi perekonomian Uni Eropa yang dimulai dari kawasan Eropa Selatan - Yunani, Italia dan sekitarnya.

Harga-harga komoditas dunia yang selama ini menjadi andalan perdagangan domestik di Indonesia, ikut mengalami tren penurunan terutama minyak sawit dan batubara. Dimana pada akhirnya kemelut perdagangan dunia tersebut berimbas pada penerimaan negara.

Upaya menembus pasar baru bagi produk-produk Indonesia juga belum menampakkan hasil yang menggembirakan. Bahkan, beberapa industri China yang karena kesulitan menembus pasar AS, mencoba mencari pasar baru yang memungkinkan di kawasan Asia Tenggara. Malangnya, tak satupun dari 33 industri China tersebut yang “nyangkut” buka pabrik di Indonesia. Sebanyak 22 industri malah membuka pabrik di Vietnam dan sisanya “ngetem” di Kamboja, Thailand (Fithra Faisal,10/2019).

Padahal, investasi terutama FDI teramat penting bagi Indonesia yang sedang mengalami stagnasi pertumbuhan ekonomi. Sementara pihak menengarai Indonesia sebenarnya telah terjebak dalam golongan negara berpendapatan menengah, tidak bisa maju lagi, kecuali ada langkah-langkah luarbiasa.

Di lain hal, dengan kondisi produksi dan ekspor yang menurun, perekonomian Indonesia akan tetap kesulitan untuk lepas dari defisit neraca keuangan seperti neraca pembayaran, neraca dagang, dan neraca transaksi berjalan (CAD) yang bahkan pada akhir 2018 menjadi terbutuk dalam sejarah.  

Hal itulah yang kemudian, banyak pihak mengusulkan agar pemerintah segera menelurkan langkah-langkah memitigasi risiko-risiko yang bakal timbul apabila resesi benar-benar menimpa perekonomian Indonesia tahun depan.

Mitigasi dipandang amat perlu, seperti sinyalemen Awalil Rizky (2019) bahwa terdapat kaidah umum mitigasi resesi ekonomi yakni bagaimana meningkatkan daya beli masyarakat untuk mayoritas lapisan bawah dan tengah. Jika berbagai kebijakan ekonomi bermuara pada hal sebaliknya, seperti menaikkan harga yang diatur pemerintah, maka itu artinya asumsi yang dipakai adalah tidak akan ada resesi.

Menjadi pertanyaan, sebenarnya sudah adakah mitigasi resesi dalam kebijakan ekonomi tahun 2020? Sementara disinyalir, APBN 2020 disusun tidak berdasarkan asumsi resesi ekonomi. Apa perlu menunggu revisi APBN 2020 bila ancaman benar-benar terjadi?

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X