• Senin, 15 Agustus 2022

Sekali lagi Ancaman Resesi, Nyata atau Hanya Ilusi?

- Senin, 4 November 2019 | 16:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Per definisi, kondisi resesi atau kemerosotan adalah kondisi ketika PDB menurun atau ketika pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun.

Resesi dapat mengakibatkan penurunan secara simultan pada seluruh aktivitas ekonomi seperti lapangan kerja, investasi, dan keuntungan perusahaan. Resesi sering diasosiasikan dengan turunnya harga-harga (deflasi), atau, kebalikannya, dimana harga-harga naik secara tajam (inflasi) dalam proses yang dikenal sebagai stagflasi.
Nah, dengan kondisi perekonomian satu dan dua tahun belakangan, betulkah Indonesia tidak siap jika belum menyusun langkah-langkah mitigasi resesi ekonomi?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

 

OPINI PENALAR
-
Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta
 
 

Sebelum masuk ke pembicaraan ihwal langkah-langkah mitigasi resesi perekonomian,  Maka persoalan kemungkinan resesi harus kita petakan dulu bahwa memang Amerika Serikat (AS) sudah mengalami penurunan ekonomi tapi belum menuju resesi. Memang mengalami perlambatan ekonomi, tetapi perlambatan nya tidak terlalu besar. Beda dengan Eropa yang mengalami penurunan ekonomi lebih parah dibanding AS. China sendiri juga mengalami perlambatan ekonomi, tetapi tidak separah Eropa.

AS dan China memang mengalami perlambatan ekonomi, tetapi bukan sebuah perlambatan ekonomi yang akan menuju kepada resesi.

Maka kesimpulan sementara pada tahun 2020 mungkin belum resesi, tetapi slow down perekonomian. Sehingga ke depan negara-negara seperti Indonesia juga akan mengalami perlambatan ekonomi, belum ke resesi atau slowdown.

Oleh karena itu terlihat pada APBN 2020 tidak secara drastis memitigasi kemungkinan terjadinya resesi ekonomi.

Dilain pihak, ternyata sekarang Bank Indonesia (BI) telah melakukan double ekspansive. Pertama, BI menurunkan sukubunga sampai 5 persen. kedua, BI juga telah melakukan pelonggaran macro prudential (LTV dan sebagainya.)

Hal itu berarti ada dua kebijakan yang cenderung mendorong pertumbuhan ekonomi tetapi melepaskan stabilitas inflasi. Memang tingkat inlasi Indonesia masih terbilnag rendah. Tetapi kebijakan itu sebenarnya agak keluar dari jalur tanggung jawab BI.  

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X