• Senin, 15 Agustus 2022

Sekali lagi Ancaman Resesi, Nyata atau Hanya Ilusi?

- Senin, 4 November 2019 | 16:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Apabila nanti pada 2020 dirasakan slowdown yang terlalu mengkhawatirkan maka pengeluaran pemerintah untuk hal-hal yang produktif harus ada. Kedua, bantuan/subsidi harus sudah diberikan atau ditingkatkan, terutama BLT. Ketiga, insentif-insentif yang diberikan ke perusahaan semisal insentif pajak dan lain-lain, agar perusahaan tidak merasa lebih terbebani. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 
-
Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI
 
 

Memang tantangan di tahun 2020 sepertinya cukup signifikan. Tantangan besarnya adalah dari sisi ketidakpastian global, tetapi kalau dilihat dalam jangka pendek perekonomian domestik sebenarnya cukup tahan terhadap guncangan global.

Setidak-tidaknya kalau dilihat berdasarkan simulasi bahwa adanya guncangan global mungkin akan bertahan sekitar dua sampai tiga bulan pada perekonomian Indonesia. Tetapi kalau guncangan berasal dari dalam negeri seperti Current Account Defisit dan industri yang turun maka akan hal itu akan menjadi signifikan karena hal itu akan bertahan selama enam sampai tujuh bulan.

Kaitan antara perekonomian global dengan perekonomian dalam negeri memang tidak terlalu signifikan. Antara lain kalau dilihat dari sisi perdagangan internasional tidaklah terlalu dominan karena masih banyak dipicu oleh konsumsi dalam negeri.

Akan tetapi memang jika dimasukkan juga faktor ekspektasi di sini, maka bisa jadi tekanan eksternal tersebut akan berdampak dominan. Setidaknya bisa merujuk pada beberapa Forecast World Bank bahwa pada 2020 kemungkinan akan adanya capital reversal atau capital outflow yang cukup signifikan.

Hal itulah yang perlu diperhatikan. Ketika terjadi resesi maka kecenderungan para investor akan lari ke negera-negara safe heaven seperti Jepang dan Amerika Serikat (AS). Meskipun AS menjadi kutub krisis berikutnya, tetapi para investor tetap akan masuk ke AS meski pilihan instrumen investasi saja yang berbeda, mungkin lebih ke jangka panjang.

Dalam konteks itu memang perlu juga kiranya melakukan langkah-langkah antisipasi seperti pertama, perlu upaya menarik investasi dalam jangka menengah dan panjang dalam konteks FDI yang bisa menetap di Indonesia. tetapi tentu saja membutuhkan ekosistem bisnis investasi yang nyaman. Beberapa diantaranya yang harus dilakukan di jangka pendek adalah deregulasi dan debiorkratisasi yang dilakukan secara konsisten.

Kedua, tata kelola terkait koordinasi pemerintah pusat dan daerah yang selama ini masih mengganjal.

Dengan langkah demikian maka hal-hal itulah yang menjadi kunci dalam kebijakan di jangka pendek yang pada akhirnya akan mengundang investasi.

Berbicara langkah jangka menengah dan panjang maka akan masuk ke masalah infrastruktur dan investasi SDM yang juga dapat memperkuat fundamental perekonomian dalam negeri yang mana hal itu juga akan bisa mengundang investasi.

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X