• Rabu, 10 Agustus 2022

Sekali lagi Ancaman Resesi, Nyata atau Hanya Ilusi?

- Senin, 4 November 2019 | 16:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Jadi jika bicara resesi adalah keadaan dimana adanya kontraksi ekonomi selama dua semester berturut-turut dengan pertumbuhan negatif. Sebenarnya pada 2020 nanti perekonomian Indonesia masih akan tumbuh dan belum berkategori resesi.

Tetapi dalam konteks indeks industri atau kontribusi industri maka mungkin harus waspada karena kecenderungan pertumbuhannya terus turun. Kontribusi industri terhadap GDP terus turun dan pertumbuhannya selalu di bawah pertumbuhan ekonomi. Hal itu memang suatu hal yang perlu diwaspadai.

Tetapi dalam konteks resesi pada umumnya sebenarnya Indonesia belum masuk pada kategori resesi.

Perihal indikator mikro seperti gejala PHK dan daya beli yang masih melemah, sepertinya kita tidak punya masalah dari sisi demand. Karena dari sisi demand maka pengangguran kita adalah satu yang terendah. Begitu pula ihwal angka kemiskinan yang juga merupakan salah satu yang terendah dalam beberapa periode terakhir.

Hal yang menjadi masalah adalah dari sisi supply seperti industri, produksi dan ekspor. Karakter krisis ke depan lebih didominasi oleh supply side. Dari sisi demand tidak ada masalah, baik di Indonesia sendiri maupun di Amerika  Serikat sebagai sumber krisis ke depan. (pso)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
 
-
Ekonom Konstitusi
 
 

Pertama, secara umum gejala perlambatan ekonomi dunia telah terjadi sejak 2014. Bahwa benar ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Eropa mengalami kejenuhan.

Ditinjau secara kurva normal maka terlihat posisi negara-negara maju terutama AS dan Eropa sedang berada pada posisi puncak. Mereka butuh pengembangan ekonomi yang memungkinkan untuk tetap survive. Perlambatan ekonomi tersebut terjadi pada fase yang konsolidatif. Ekonomi di kedua kawasan itu sedang melakukan konsolidasi. Oleh karena itu kemudian ada kebijakan protektif pada beberapa sektor ekonominya.

Kedua, tumbuhnya China sebagai new developed country dan sebagian negara-negara ASEAN seperti Vietnam, Myanmar, Laos, dan Kamboja sebagai new emerging market, yang kemudian mengakibatkan terjadinya perang pada beberapa produk perdagangan antara AS dan China.

Hal yang kemudian menjadi masalah adalah Indonesia sudah kehilangan momentum sejak awal. Hal mana seharusnya sudah bisa membenahi fundamental ekonomi nasional dengan cara tidak membangun infrastruktur secara ekspansif pada periode pertama pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Kalau saja visi pada kabinet pertama adalah pengembangan SDM, pembangunan fundamental ekonomi Indonesia di sektor pertanian, perkebunan, kelautan dan perikanan, serta sektor energi dengan lebih baik, maka Indonesia akan lebih baik dalam pengelolaan ekonomi secara makro.

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X