• Rabu, 10 Agustus 2022

Sekali lagi Ancaman Resesi, Nyata atau Hanya Ilusi?

- Senin, 4 November 2019 | 16:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Tentu saja pembenahan kelembagaan stabilitas ekonomi mikro juga menjadi penting.

Pembenahan entitas bisnis koperasi dan UMKM menjadi sangat signifikan mempengaruhi jalannya perekonomian nasional dan mencapai pertumbuhan serta target-target ekonomi bangsa seperti yang tercantum pada Trisakti dan Nawacita, sayangnya hal itu tidak terjadi.

Pembangunan infrastruktur yang tidak berskala prioritas menjadi masif karena keperluan politik dalam konteks keadilan ekonomi. Walaupun hal itu mengorbankan ongkos ekonomi yang tidak sedikit meskipun tidak layak.

Sebagai contoh, kasus pembangunan kereta cepat Jakarta – Bandung yang terkesan dipaksakan. Juga kasus pembangunan jalan Trans di luar Jawa yang belum memiliki leverage faktor ekonomi yang tinggi seperti di kawasan Timur Indonesia. Pembangunan infrastruktur di luar jawa yang memakan biaya besar itu menciptakan beban yang tertanam dalam konstruksi bahan bangunan, jalan dan jembatan serta bahan bangunan lainnya.

Ketiga, Indonesia secara umum melakukan pembangunan di desa, daerah tertinggal dan terluar dengan cukup baik. Sebelum pemerintahan Joko Widodo – Jusuf Kalla I, hampir 20 tahun Indonesia membangun bufferstock ekonomi di Kelurahan/Desa. Jadi kalau kemudian akan terjadi resesi ekonomi, maka paling mungkin hal itu akan terjadi pada sektor ekonomi tertentu di kelompok menengah atas. Terutama yang memiliki import content yang sangat tinggi untuk membentuk Harga Pokok Produksi/Penjualan dari barang impor tersebut.

Jadi sangat kecil kemungkinannya produksi nasional yang menggunakan local content akan terpengaruh oleh resesi sebagaimana dikhawatirkan oleh sebagian besar ekonom.

Keempat, Kinerja makro ekonomi Indonesia masih diyakini akan stabil. Walaupun tidak tumbuh secara cepat. Hal itu karena asumsi makro ekonomi Indonesia cukup moderat dalam pengertian ada sektor-sektor yang kemungkinan melambat dan memang tidak bisa dihindari, tetapi akan ada sektor sektor tertentu yang akan memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

Jadi yang harus dipersiapan pemerintah dalam kerangka resesi ekonomi yang akan terjadi adalah membangun fundamental perekonomian Indonesia pada sektor-sektor pertanian, perkebunan, perikanan dan kelautan untuk membangun ketahanan ekonomi nasional. Harus juga dibangun ketahanan energi nasional secara cepat dengan membangun infrastruktur di sektor hulu.

Dengan demikian Indonesia akan siap menghadapi resesi ekonomi yang akan menjadikan Indonesia sebagai negara yang mampu mengelola ekonomi nasional.

Kelima, membangun jaringan ekonomi dan bisnis baru atau perdagangan dengan negara-negara yang lebih luas di luar kerjasama perdagangan klasik yang selama ini dilakukan dengan AS dan Eropa. Harus dibangun kerjasama dan pasar baru yang lebih luas dengan ASEAN, Asia Afrika dan negara anggota KTT Non Blok.

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X