• Selasa, 9 Agustus 2022

Menunggu Gebrakan 100 Hari kebijakan SDM dan Ketenagakerjaan RI

- Senin, 11 November 2019 | 16:30 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Watyutink.com - Tantangan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia ke depan, tidak terlepas dari bagaimana rencana-rencana strategis peningkatan kualitas SDM disusun. Hal itu semua tentu harus dimulai dari meninjau rekam jejak arah dan hasil yang telah ditelurkan (outcome) dari program kerja peningkatan kualitas SDM Indonesia terdidik, yang telah dipraktikkan dalam ajang pendidikan formal sejak Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA hingga Perguruan Tinggi.

Rekam jejak tersebut kemudian dapat dikomparasi--jika ingin melihat sejauh mana kualitas capaian kinerja SDM Indonesia--lewat berbagai studi banding dengan kinerja serupa dari kualitas pendidikan dengan Negara tetangga dan standar kinerja pendidikan dunia. 

Contoh yang paling banyak dikutip adalah standar penilaian mutu pendidikan melalui PISA. PISA merupakan sistem ujian yang diinisasi oleh Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD), untuk mengevaluasi sistem pendidikan dari 72 negara di seluruh dunia.

Setiap tiga tahun, siswa berusia 15 tahun dipilih secara acak, untuk mengikuti tes dari tiga kompetensi dasar yaitu membaca, matematika dan sains. PISA mengukur apa yang diketahui siswa dan apa yang dapat dia lakukan (aplikasi) dengan pengetahuannya. Tema survei digilir setiap 3 tahun. (Kemendikbud.go.id,2016).

Pada survei tahun 2015, standar PISA Indonesia naik signifikan 22,1 point sehingga berada pada peringkat ke empat dalam hal kenaikan pencapaian murid dibanding hasil survei sebelumnya pada tahun 2012, dari 72 negara yang mengikuti tes PISA.

Namun sungguhpun demikian, membaca capaian keunggulan SDM Indonesia tidak selalu dapat diukur hanya dengan perolehan angka survei. Yang jauh lebih penting justru bagaimana menghasilkan kualitas SDM Indonesia yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, nilai serapan SDM Indonesia ke dunia tenaga kerja (baca: industri) dan bagaimana kesiapan sistem pendidikan Indonesia di era teknologi 4.0 serta persaingan dengan SDM warga dunia, justru ketika Indonesia memasuki era bonus demografi. Hal mana ada 70 persen angkatan muda produktif berusia 15-64 tahun pada 2020 (dari 271 juta penduduk) sampai 2035 ketika populasi Indonesia berkisar 305 juta jiwa.

Siapkah kualitas SDM Indonesia memasuki itu semua? Bagaimana dengan realitas di lapangan saat ini? Bagaimana dengan sistem pendidikan (dan pengajaran) yang ada, haruskah dilakukan lagi perombakan besar-besaran kurikulum? Sebetulnya, adakah blueprint sistem pendidikan di Indonesia yang tinggal dijadikan pedoman?

Realitas kekinian dari kondisi SDM dan angkatan kerja Indonesia saat ini sudah bisa menunjukkan apa yang sebenarnya terjadi pada dunia pendidikan dan dunia ketenagakerjaan dalam negeri. Fenomena transportasi online, data BPS tentang serapan industri bagi tenaga kerja, belum matchnya  pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri, angka pengangguran yang meningkat dan sektor investasi mana yang justru sekarang booming.

Diskusi online Indef dengan awak media kemarin (10/11/2019) barangkali bisa menggambarkan dengan lebih tepat, situasi yang akan dihadapi Indonesia dan sistem pendidikan di Indonesia beserta output dan outcome yang menyertainya.

Halaman:

Editor: Pril Huseno

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X