• Jumat, 9 Desember 2022

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

- Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
Ilustrasi watyutink  (gie/watyutink.com)
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com)

Watyutink.com - Nampaknya, kegaduhan tiada henti melanda jagad publik di Indonesia. Hampir berbarengan dengan rilis ADB (Asian Development Bank) tentang ditemukannya 22 juta orang Indonesia yang kelaparan kronis selama 2016-2018, Bloomberg.com dan economist dari capital economics Ltd. Juga menyatakan kecurigaan dan kurang begitu percaya akan rilis BPS tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III/2019 sebesar 5,02 persen. Setelah sebelumnya merata 5,05 di triwulan II dan 5,07 di triwulan I/219.   

Dalam analisis economist, merujuk pada data ekonomi bulanan, pertumbuhan ekonomi Indonesia disebutkan sudah melambat drastis dalam setahun belakangan. Mereka juga bingung mengapa pertumbuhan ekonomi Indonesi bisa sangat stabil di kisaran 5 persen untuk jangka waktu panjang (Anthony Budiawan,14/11/2019).

Kecurigaan kepada data kinerja perekonomian Indonesia selama beberapa tahun, di samping karena memang terdapat beberapa data perlambatan yang cukup signifikan pada triwulan III/2019, juga bisa dilihat pada data PMTB yang turun drastis dari 2,24 persen (Tri III/20018) menjadi hanya 1,29 persen pada Tri III/2019. Menurut Anthony Budiawan, belanja pemerintah juga anjlok dari 0,48 (Tri III/2018) menjadi hanya 0,08 persen pada Tri III/2019 akibat merosotnya penerimaan pajak. Beberapa data lain seperti ekspor dan impor juga turun padahal impor merupakan 75 persen kebutuhan bahan baku dan penolong industri dalam negeri. 

Meski BPS dalam konferensi pers nya membantah membuat data asal jadi karena pembuatan data BPS dilakukan dengan standar yang ketat, juga diawasi oleh IMF, namun muncul pertanyaan penting, apakah BPS memang layak dicurigai oleh pengamat asing?

Data resmi pemerintah yang diwakili oleh BPS, apalagi terkait kinerja perekonomian, memang bukan perkara sepele. Data BPS juga dipelototi oleh para investor luar negeri dan lembaga donor atau pemberi utangan seperti Bank Dunia dan IMF. 

Keteledoran pengambilan data dan keliru mengambil kesimpulan, bisa menjadi malapetaka yang berakibat tidak dipercayanya lagi data resmi pemerintah. Apalagi jika misalnya ada rekayasa yang dibuat untuk kepentingan-kepentingan jangka pendek kekuasaan. Akan sangat mahal harganya. 

Oleh karenanya memang, meski ada standar penyimpangan untuk memberi batas toleransi kekeliruan, namun tidak bisa terlalu besar. Dengan demikian, metode pengambilan sampel menjadi sangat urgen disamping tingkat kedalaman dan keluasan wilayah pengambilan data. Beberapa pihak menyebut semestinya potensi ekonomi Indonesia bisa lebih besar dari yang tertera pada data BPS, namun BPS belum menemukan metode yang tepat untuk bisa mengambil sampel data.

Dari jaminan BPS akan reliabilitas data yang dirilis, semestinya publik cukup tenang dan percaya diri bahwa kondisi perekonomian dalam negeri masih aman-aman saja. Meski sampai sekarang, banyak pihak “pening” dan mengurut dada, mengapa meski pada Maret 2019 lalu  diumumkan tingkat kemiskinan menurun, tetapi bagai petir disiang bolong, ADB belum lama malah menerbitkan hasil survei tentang 22 juta orang Indonesia yang kelaparan itu. Opo tumon?


Apa pendapat Anda? Watyutink?

Halaman:

Editor: Oggy

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X