• Selasa, 5 Juli 2022

Target Jadi Negara Maju, Ekonomi RI Tumbuh di Bawah 5 Persen

- Kamis, 5 Desember 2019 | 16:30 WIB
Sumber Foto : ekonomi.bisnis.com
Sumber Foto : ekonomi.bisnis.com

Watyutink.com –  Kabar tak sedap datang dari Moody's Investor Service (Moody's).  Lembaga keuangan internasional tersebut memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia selama 3 tahun akan terjerembab di bawah 5 persen.

Moody's memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hanya tumbuh 4,9 persen pada tahun ini, lebih rendah dari asumsi makro APBN 2019 sebesar 5,3 persen. Pertumbuhan ekonomi tahun depan lebih rendah lagi di 4,7 persen, lalu naik tipis ke 4,8 persen pada 2021.

Managing Director and Chief Credit Officer Michael Taylor mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung lebih lambat pada tahun depan, namun akan mulai bangkit pada 2021. Penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia dipengaruhi oleh perang dagang antara AS-China, serta AS dan mitra dagang lain.  Bagaimana Indonesia bisa lolos dari pengaruh ini?

Selain dengan China, Presiden AS Donald Trump juga menebar badai perang dengan Uni Eropa. Perang dagang tersebut menimbulkan sentimen negatif berupa ketidakpastian ekonomi global. Investasi pun ikut terpengaruh oleh kebijakan AS tersebut. Apakah kondisi ini yang menyebabkan Indonesia paceklik investasi asing?

Perang dagang menimbulkan ketidakpastian kebijakan perdagangan di masa depan. Dampak tersebut mulai terlihat sekarang, mempengaruhi keputusan dalam berinvestasi dan kepercayaan perusahaan terhadap kondisi ekonomi satu negara.

Dengan adanya perang dagang tersebut Moody's memperkirakan pertumbuhan ekonomi negara-negara anggota G20 akan bertengger di angka 2,6 persen pada 2019 dan 2020. Ekonomi negara maju itu baru membaik pada 2021 menjadi 2,8 persen. Padahal G20 menguasai 85 persen ekonomi global.

China sendiri akan mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Pada kuartal II 2019 hanya tumbuh 6,2 persen atau terendah sejak 27 tahun terakhir. China adalah tujuan ekspor terbesar kedua Indonesia setelah intraAsean. Apakah kondisi ini akan memukul Indonesia secara siginifikan?  Bagaimana dengan peluang pasar di luar China?

China diperkirakan hanya dapat mempertahankan  pertumbuhan ekonomi di angka 6,2 persen hingga akhir tahun. Pada tahun depan ekonomi China justru akan mengalami perlambatan pertumbuhan ke level 5,8 persen.

Kondisi tersebut merupakan buah dari  kebijakan rebalancing China dan penurunan permintaan global. Karena Negeri Tirai Bambu itu merupakan negara dengan ekonomi besar, maka berdampak kepada negara lain di kawasan.

Halaman:

Editor: Sarwani

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X