• Selasa, 16 Agustus 2022

Target Jadi Negara Maju, Ekonomi RI Tumbuh di Bawah 5 Persen

- Kamis, 5 Desember 2019 | 16:30 WIB
Sumber Foto : ekonomi.bisnis.com
Sumber Foto : ekonomi.bisnis.com

China menyiasati kondisi ketidakpastian global dengan melakukan berbagai kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonominya. Langkah yang diambil antara lain mengurangi impor batu bara. Keputusan ini yang diperkirakan akan memukul Indonesia yang menjadikan negara tersebut sebagai pasar utama penjualan komoditas itu. Penurunan permintaan batu bara China akan menekan harga.

Lembaga lain seperti The Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) mempunyai perkiraan yang sama dengan Moody’s bahwa  laju ekonomi Indonesia akan melambat pada tahun depan menjadi 4,9 persen.

Namun ekonomi Indonesia diperkirakan masih akan tumbuh karena ditopang oleh kebijakan moneter akomodatif Bank Indonesia dan kebijakan fiskal ekspansif oleh pemerintah. Kekuatan ekonomi Indonesia juga ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan permintaan domestik yang stabil. Apakah kekuatan ini bisa menjadi penyelamat atau bahkan menjadi mesin pertumbuhan bagi ekonomi Indonesia?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

 

OPINI PENALAR
 
Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen
 
 

Masing-masing lembaga mempunyai kriteria dalam menghitung tingkat pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kami tidak mengetahui apa saja kriteria yang digunakan oleh Moody's Investor Service (Moody's). Apa yang  membuat asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia di bawah 5 persen.

Beberapa lembaga keuangan internasional seperti Bank Dunia masih konsisten dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,1 persen pada tahun ini, Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi ekonomi Indonesia masih akan tumbuh 5,2 persen, Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan sebesar 5,3 persen. Riset Samuel Aset Manajemen  memperkirakan pertumbuhan ekonomi tahun ini mencapai 5,09 persen.

Moodys terlalu pesimistis dalam melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia, tetapi juga mungkin mempunyai indikator yang berbeda dalam penilaian, lebih banyak menggunakan indikator defisit transaksi berjalan yang besar sehingga impor harus ditekan sedemikian rupa sehingga perlambatan pertumbuhan ekonomi menjadi sangat tajam. Yang disebutkan hanya angka.

Mengenai pengaruh perang dagang antara AS dan China yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagai indikator dalam memperkirakan pertumbuhan, semua lembaga keuangan seperti Bank Dunia, IMF dan ADB  juga memasukkan hal itu.

Memasukkan faktor perang dagang AS dan China dalam perhitungan pertumbuhan ekonomi sudah lazim dilakukan semua lembaga, tidak ada yang baru, kecuali Moodys memasukkan hal baru di dalam perhitungkan tingkat pertumbuhan.

Halaman:

Editor: Sarwani

Terkini

Siapkan Doping Ekonomi Hadapi Covid-19

Kamis, 26 Maret 2020 | 19:00 WIB

Ekonomi Tolak Merana Akibat Corona

Senin, 16 Maret 2020 | 19:00 WIB

Korupsi, Kesenjangan, Kemiskinan di Periode II Jokowi

Senin, 17 Februari 2020 | 14:30 WIB

Omnibus Law Dobrak Slow Investasi Migas?

Sabtu, 1 Februari 2020 | 17:30 WIB

Omnibus Law dan Nasib Pekerja

Rabu, 29 Januari 2020 | 19:45 WIB

Pengentasan Kemiskinan Loyo

Jumat, 17 Januari 2020 | 16:00 WIB

Omnibus Law Datang, UMKM Meradang?

Kamis, 16 Januari 2020 | 10:00 WIB

Kedaulatan Energi di Ujung Tanduk?

Jumat, 20 Desember 2019 | 19:00 WIB

Aturan E-Commerce Datang, UMKM Siap Meradang

Senin, 9 Desember 2019 | 15:45 WIB

Pertumbuhan Ekonomi Yes, Ketimpangan No

Senin, 2 Desember 2019 | 16:00 WIB

Upaya Berkelit dari Ketidakpastian Ekonomi Dunia, 2020

Kamis, 21 November 2019 | 18:15 WIB

Menunggu Hasil Jurus Baru ala Menteri Baru KKP

Rabu, 20 November 2019 | 10:00 WIB

Agar Data BPS Tetap Dipercaya!

Jumat, 15 November 2019 | 19:00 WIB
X