• Rabu, 30 November 2022

Tradisi Pingitan dalam Upacara Pernikahan Adat Jawa yang Mulai Digerus Zaman

- Minggu, 28 Agustus 2022 | 13:20 WIB
Ilustrasi Net
Ilustrasi Net

Oleh: Muhammad Syah Gelaring Borva
Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta

Tradisi jawa yang merupakan salah satu tradisi yang memiliki ciri khas dan keunikan, baik dalam tradisi keseharian, atau pun dalam upacara-upacara untuk memperingati hari besar. Kebudayaan yang ada di dalam lingkup suku Jawa banyak dan beragam jenisnya, namun saya sebagai penulis membatasi tulisan ini sampai pada tradisi pingitan dala upacara pernikahan adat Jawa.

Tradisi pingitan ini pada dasarnya diberikan kepada kedua mempelai dalam menjalani tradisi ini, namun titik berat tradisi pingitan jatuh pada mempelai wanita saja. Karena pada dasarnya pingitan adalah mempersiapkan mental dari setiap mempelai yang menjalaninya, dan lebih khusus untuk mempelai wanita, mendapatkan pantangan atau larangan untuk keluar rumah.

Selama di dalam pantangan tersebut mempelai wanita akan melakukan, mempelajari atau menyempurnakan semua hal yang berkaitan dengan kegiatan berumah tangga atau kewajibannya didalam rumah nanti seperti memasak, membersihkan rumah dan sebagainya. Dalam pingitan ini, kedua mempelai dilarang bertemu satu sama lain, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan.

Untuk waktu atau berapa lama proses pingitan ini? Pada awal mulanya berada pada kisaran 40 hari atau sebulan lamanya, yang dipakai untuk mempersiapkan banyak hal. Dan yang terpenting adalah kesiapan dari mempelai dalam hal mental. Pingitan hadir dalam upacara pernikahan adat Jawa sebagai media pendidikan dalam menghadapi kehidupan berumah tangga nantinya.

Pada saat ini tadisi budaya pingitan mulai tergerus zaman. Hal tersebut disebabkan mulai berubahnya pola pikir dan gaya hidup masyarakat era ini yang mulai mengesampingkan beberapa tradisi yang memiliki tujuan baik namun disalah artikan dengan membawa tagline modernisme dalam pendapatnya.

Penolakan Wanita Terhadap Tradisi Pingitan

Tradisi pingitan yang dititikberatkan pada wanita, mendapat penolakan secara khusus oleh para wanita, terutama para penganut paham feminisme atau pun Hak Asasi Manusi (HAM). Mereka menyebut bahwa tradisi ini mengabaikan hak-hak mereka sebagai wanita, dalam hal melakukan kegiatan keseharian yang diinginkannya, seperti berbelanja di mall, kumpul bersama teman sejawanya dan sebagainya. Dalam beberapa contoh nyata, hasil dari pengamatan serta wawancara singkat dengan keluarga saya khususnya ibu, nenek serta bibi saya, bisa diambil kesimpulan bahwa keberadaan pingitan sudah mulai ditinggalkan, karena beberapa alasan yang disebutkan di atas.

Dalam kondisi ini penulis akan mulai melihat dan menilai sejauh mana budaya pingitan ini sebagai sebuah simbol yang dilihat pada era ini sebagai sebuah bentuk pengekangan dalam kebebasan beraktivitas mendekati hari pernikahan. Walaupun tidak semua orang berpendapat sedemikian rupa, dan menganggap pingitan masih menjadi sesuatu hal yang dapat dilakukan. Karena pemaknaan pingitan yang berbeda-beda dari setiap individu, yang membuat hal tersebut menimbulkan gesekan-gesekan dalam pemaknaannya.

Halaman:

Editor: Ahmad Kanedi

Tags

Terkini

Daftar Lengkap Pemenang Piala Citra FFI 2022

Rabu, 23 November 2022 | 10:00 WIB

Badan Iklim PBB Publikasikan Rancangan Iklim COP27

Jumat, 18 November 2022 | 09:30 WIB

IKN Disiapkan Jadi Kota Netral Karbon pada 2045

Kamis, 10 November 2022 | 15:00 WIB
X