Bahaya Beragama Tanpa Akhlak
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com) 13 January 2022 11:00
Watyutink.com - Beberapa hari yang lalu beredar video seseorang lelaki melempar dan menendang sesajen sambil meneriakkan takbir dan mengumpat bahwa sesajen itulah yang membuat murka Allah, karena dianggap syirik dan sesat. Video itu langsung viral dan mendapat respon dari masyarakat luas.

Beberapa tanggapan muncul di medsos baik dalam bentuk komentar, opini dan artikel yang sebagian besar mengecam tindakan pria tersebut. Tidak hanya masyarakat awam, bahkan para ulama dan kyai yang memahami ajaran Islam dan memiliki perangkat keilmuan agama mengecam tindakan tersebut. Akibatnya, kini pihak kepolisian memburu sang pelaku karena dianggap melanggar etika sosial dan menimbulkan keresahan.  

Penulis melihat, apa yang dilakukan oleh pria tersebut tidak saja mencerminkan kedangkalan pemahaman Islam, tetapi juga menunjukkan sikap beragama yang tanpa akhlak, arogan ddan nir-etika. Sikap ini sangat berbahaya, baik bagi kehidupan sosial maupun Islam itu sendiri.

Secara sosiologis-antropologis, sajen adalah simbol dari keyakinan yang sangat terkait dengan emosi, harga diri dan identitas suatu kelompok masyarakat (Wahyana Giri MC., 2010; 76, G.A.J. Hazeu, 1979). Pendeknya sesajen memiliki makna yang sakral bagi masyarakat yang meyakininya. Pemberian sesajen merupakan bentuk simbolik upaya mendekatkan diri kepada sesuatu yang dianggap sakral agar terbebas dari bencana dan bahaya kehidupan (Suwardi Endraswara, 2011; 17). Atas dasar inilah maka penistaan terhadap sesajen, akan dianggap sebagai penistaan masyarakat yang mempersembahkan sesaji. 

Tindakan seorang pria yang membuang dan menendang sesajen itu jelas-jelas menyinggung perasaan dan melukai hati masyarakat yang memiliki kepercayaan terhadap sesajen, sehingga berpotensi memancing reaksi balik dari mereka yang tersinggung dan merasa dilecehkan. Hal ini dapat menimbulkan rusaknya harmoni kehidupan dan terganggunya tatanan sosial. Kondisi seperti ini akan rentan memunculkan konflik sosial jika pihak-pihak yang merasa dilecehkan tidak dapat menahan diri atau instrumen hukum lemah dan aparatur negara tidak dapat bertindak secara tepat.

Dalam perspektif agama, tindakan tersebut jelas merugikan karena dapat menimbulkan citra buruk terhadap agama. Sikap pongah dan arogan yang dilakukan pria tersebut dengan menampilkan simbol Islam, akan minimbulkan kesan bahwa Islam adalah agama yang arogan,  yang lebih mementingkan konflik melalui tindakan biadab yang nir-akhlak.   

Padahal Islam secara tegas mengajarkan pemeluknya untuk menjunjung tinggi akhlak manusia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi: “innama bu’istu liutammima makarimal akhlak”  (Saya diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia). Bahkan dalam Al-Qur’an secara jelas disebutkan bahwa berdakwah harus dilakukan dengan cara yang penuh hikmah dan mengedapankan dialog yang berakhlak (QS. An-Nahl; 125). Teks-teks tentang akhlak ini sangat jelas dan terkenal di kalangan umat Islam.

Dari beberapa ayat dan hadits tentang akhlak ini jelas terlihat bahwa Islam dibangun dengan citra diri yang beradab, santun dan manusiawi. Artinya Islam melarang pemeluknya untuk bersikap arogan, keras dan biadab. Cara-cara seperti itu akan membuat manusia menjauh dan membenci Islam (QS. Ali Imran; 159),  karena dianggap sebagai biang kerusuhan dan pemicu konflik.

Sinyalemen yang disebutkan oleh Al-Qur’an ini sekarang terbukti. Karena kelakuan seseorang yang menggunakan simbol Islam untuk menista sesamanya, melempar dan menendang sajen, sekaramg citra Islam menjadi buruk, menakutkan dan biadab di mata orang-orang yang tidak memahami Islam secara mendalam. Kondisi ini menunjukkan bahwa beragama tanpa akhak, sebagaimana yang ditunjukkan oleh seseorang yang menista sajen, jelas-jelas membahayakan bagi Islam itu sendiri. Tindakan tersebut jelas dapat memancing tumbuhnya sikap benci pada Islam (Islam phobia). 

Menyadari bahayanya berdakwah tanpa akhlak, maka para ulama, habaib  dan kyai Nusantara lebih mengedepankan akhlak dan kearifan dalam berdakwah  Mereka menghindari sikap arogan dan keras terhadap tradisi yang dianggap menyimpang atau tidak sesuai dengan ajaran Islam. Mereka menjauhi cara-cara biadab, sebagaimana yang ditunjukkan oleh pria yang menista sesajen. Para ulama tidak memberangus tradisi lokal, tetapi justru menerima dan mengembangkannya untuk dijadian sebagai sarana dakwah, pendidikan dan penanaman nilai-nilai dan ajaran Islam. 

Ada beberapa sikap yang dilakukan para ulama Nusantara terhadap tradisi lokal yang ada di kalangan masyarakat. Pertama, menerima tradisi tersebut apa adanya. Ini berlaku untuk tradisi yang sesuai dengan ajaran Islam. Kedua, melakukan modifikasi yaitu mengubah beberapa format tradisi agar sesuai dengan ajaran Islam. Ketiga melakukan transformasi yaitu mempertahankan bentuk dan format dengan mengubah substansi dan nilai-nilai yang ada di dalamnya. 

Dengan cara ini Islam dapat diterima secara suka rela dan penuh suka cita oleh masyarakat Nusantara tanpa ada rasa tertekan dan terpaksa. Sikap ramah dan toleran terhadap tradisi lokal yang dilakukan oleh para ulama Nusantara membuat bangsa Nusantara tidak merasa terancam dan tersingkirkan oleh keberadaan Islam. Sebaliknya mereka justru merasa kedatangan Islam dapat menjadi teempat berlindung dan memandang Islam sebagai ajaran yang menarik untuk diikuti.  

Berdakwah secara arogan tidak saja membahayakan tataan sosial dan mengancam eksistensi agama, tetapi juga dapat memalingkan perhatian publik dan umat beragama dari persoalan-persoalan yang lebih penting dan mendasar. Sebagaimana yang terjadi dalam kasus sesajen yang terjadi akhir-akhir ini yang menyita perhatian dan perdebatan publik. Hampir seluruh perhatian publik tercurah untuk menanggapi kasus ini. Sementara persoalan yang lebih mendasar, seperti peningkatan kualitas pendidikan dan ekonomi umat. Maraknya korupsi dan eksploitasi alam, cengkeraman sistem oligarki hampir tidak pernah mendapat perhatian.

Bercermin dari peristiwa penistaan sesajen yang dilakukan atas nama agama dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa beragama yang mengabaikan akhlak tidak saja membahayakan kehidupan karena dapat merusak tatanan sosial, merendahkan martabat kemanusiaan dan mendegradasi agama tetapi juga dapat mengalihkan perhatian masyarakat terhadap isu-isu yang lebih strategis dan penting terkait dengan nasib umat. Dengan kata lain, beragama tanpa akhlak adalah cara terbaik untuk menghancurkan agama itu sendiri sekalipun hal itu dilakukan oleh orang yang mengaku paling benar dalam beragama dengan menggunakan simbol agama dan atas nama agama

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF