Bali Butuh Turis, Bukan Pegawai Negeri
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid/ Watyutink.com 03 June 2021 20:10
Watyutink.com – Pandemi Covid-19 membuat ekonomi Indonesia tercekik, nyaris tak dapat bernapas. Baru pada kuartal kedua tahun ini tanda-tanda kebangkitan ekonomi mulai terlihat. Sayangnya tidak semua sektor pulih, terutama pariwisata. Daerah tujuan wisata masih seperti kota hantu; sunyi, sepi.

Sebut saja Bali. Kawasan wisata yang terletak di Indonesia bagian tengah itu tampak lengang, tidak seperti biasanya yang dipenuhi wisatawan domestik maupun mancanegara dengan segala hingar bingarnya.

Jajaran toko, kios, pusat jajanan oleh-oleh khas Bali di sepanjang jalan kawasan Kuta memilih tutup.  Banyak pusat ekonomi lumpuh terpukul oleh sepinya kunjungan wisatawan. Kondisi serupa terjadi nyaris di seluruh Bali seperti Denpasar, Ubud, dan Uluwatu.

Saat matahari berganti bulan, Pulau Dewata yang biasanya riuh oleh keramaian di kafe, restoran, karaoke, bar sama sekali tidak terlihat. Kerlap-kerlip lampu di seputaran kawasan Kuta yang terpancar dari toko padam.  Lalu lalang orang tak lagi tampak.

Tak ada dentuman musik dan percakapan dari cafe dan bar di sisi kiri dan kanan jalan. Sepanjang jalan nyaris gelap, hanya lampu jalan dan sinar rembulan yang masih memancarkan cahaya. Kendaraan bebas melaju, tak lagi terhalang lalu lalang wisatawan di sepanjang jalan.

Larangan terbang dan kunjungan lintas negara sangat berdampak bagi ekonomi Bali. Kunjungan turis anjlok hingga level terendah sepanjang sejarah, mengalahkan teror bom yang pernah terjadi sebelumnya.

Sepinya kunjungan wisatawan juga berimbas ke pementasan seni khas Bali seperti tari Kecak di beberapa tempat seperti di Uluwatu. Sebelum pandemi, pentas kebudayaan ini nyaris tak pernah sepi. Kini hanya dibuka di hari-hari tertentu. Bahkan saat awal pandemi merebak, tidak ada pertunjukan sama sekali selama tiga bulan.

Lesunya ekonomi Bali terkonfirmasi dari data yang dikumpulkan Bank Indonesia. Pada kuartal I 2021, Bali menempati posisi paling bawah dalam hal pertumbuhan ekonomi, terkontraksi hingga 9,85 persen. Angka tersebut paling rendah dibandingkan provinsi lain.

Perbedaan angkanya pun cukup jauh dibandingkan dengan provinsi lain yang sama-sama mengalami kontraksi ekonomi. Sebut saja Kalimantan Tengah sebagai provinsi kedua terparah, kontraksi ekonominya hanya 3,12 persen. Jakarta dengan tingkat penularan Covid-19 yang relatif tinggi hanya mengalami kontraksi 1,65 persen.

Pemulihan ekonomi Bali tergolong sangat lambat. Dari kontraksi 11,06 persen di kuartal II 2020, pada kuartal I 2021 kontraksinya masih sebesar 9,85 persen, tertinggal oleh ekonomi nasional yang mulai pulih dari terkontraksi 5,32 persen pada kuartal II 2020, membaik pada kuartal I 2021 dengan kontraksi 0,74 persen.

Pada periode 1 Januari-30 Mei 2020, kunjungan wisatawan asing yang datang ke Bali sebanyak 1,21 juta orang, anjlok menjadi 431 orang saja pada periode yang sama 2021. Kondisi ini langsung berimbas pada sektor industri turunan yang berkaitan erat dengan sektor pariwisata. Sektor transportasi, misalnya, terkontraksi 40,03 persen pada kuartal IV 2020. Kontraksi sektor transportasi Bali makin parah mencapai 85,98 persen pada kuartal I 2021.

Sektor lain yang juga terimbas cukup parah dari anjloknya kunjungan wisata di Bali adalah  pengadaan listrik. Pada kuartal IV 2020 terkontraksi sebesar 26,96 persen. Hingga kuartal I 2021 kondisinya belum membaik, masih terkontraksi 24,89 persen. Hotel-hotel mengurangi konsumsi listriknya secara besar-besaran.

Kondisi Bali sudah SOS, butuh pertolongan segera. Pemerintah lantas menyerukan perlunya kerja dari Bali (Work from Bali) untuk menghidupkan kembali ‘kota mati’ tersebut.  Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi meminta pegawai di tujuh kementerian di bawah koordinasinya melakukan kerja dari Bali.

Metode ini pernah sukses dijalankan. Pada2000, usai kejadian Bom Bali, pemerintah juga menerapkan kebijakan serupa dan berhasil menggairahkan ekonomi Bali. Di samping itu, kegiatan konferensi tingkat nasional dan internasional didorong untuk dilakukan di Bali, agar hotel-hotel terisi.

Namun pemerintah jangan terlalu pede kebijakan Work from Bali dapat memulihkan pariwisat Bali. Dampak perjalanan dinas ke daerah, jika tidak bisa dibilang kecil, tak signifikan untuk mengangkat ekonomi Pulau Dewata. Alih-alih memberikan dampak ekonomi, perjalanan dinas hanya menguntungkan pegawai pemerintah. Apalagi di tengah anggaran pemerintah yang cekak, kegiatan Work from Bali bisa jadi mubazir.

Subsidi kepada pekerja sektor pariwisata justru lebih efektif memulihkan ekonomi dan pariwisata Bali. Stimulus dalam bentuk tunai dapat disalurkan secara langsung ke pekerja dan perusahaan pariwisata yang terdampak, tidak perlu muter ke pegawai pemerintah dulu dengan bekerja di Bali.

Pilihan lain adalah dengan mendorong kunjungan wisatawan domestik sebagai obat mujarab untuk menutup kekosongan wisatawan asing. Strategi mendongkrak ekonomi dengan mendorong wisata lokal ini cukup populer diterapkan negara lain. Amerika, China dan beberapa negara lain menyeru kepada masyarakatnya untuk berwisata domestik.

Cara ini membutuhkan prasyarat, yakni adanya kepercayaan masyarakat bahwa perjalanan hingga ke tempat tujuan berjalan aman. Untuk itu, pemerintah harus menggenjot vaksinasi di daerah wisata. Penanggulangan pandemi di sebuah wilayah harus sudah baik, karena pergerakan ke tempat wisata memiliki risiko penyebaran virus corona.

Jadi tak perlu menggiring pegawai pemerintah bekerja di Bali yang malah bisa jadi tidak produktif, lebih banyak jalan-jalannya ketimbang bekerja. Anggaran yang ada bisa difokuskan untuk mempercepat vaksinasi dan kampanye kemajuan penanganan pandemi di daerah tujuan wisata yang membuat wisatawan merasa aman dan mau datang.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF