Busana Jokowi di Pilpres 2019
Ade Irwansyah
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
21 July 2018 14:00
Hari-hari ini urusan busana mungkin belum jadi hal penting buat Presiden Joko Widodo alias Jokowi. Ia kini masih dipusingkan soal siapa yang bakal dipinangnya jadi cawapres: tokoh partai atau non-partai? Kalau tokoh partai, apa dari partai yang menaunginya atau mitra koalisi? Bila yang dipilih mendampinginya dari kalangan non-partai, siapa kira-kira yang bisa diterima partai sekaligus mampu mengerek banyak suara?

Pertanyaan-pertanyaan itu harus segera dijawab Jokowi. Tenggat pendaftaran capres-cawapres untuk Pilpres 2019 kurang dari sebulan lagi. Urusan gaya busana di pilpres nanti mungkin belum ia pikirkan.

Hanya saja, Jokowi sebaiknya tak menganggap enteng urusan busana. Sebab, ia justru dikenal publik lantaran pilihan gaya busana. Pada 2012, ketika kampanye untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta ia memperkenalkan gaya busana kemeja kotak-kotak. Kemeja itu melahirkan tren fesyen dan istilah "Kemeja Jokowi" sebagaimana ada istilah "Kaftan Syahrini" atau "Baju koko Ustaz Jeffry".

Kemeja kotak-kotak ini dianggap pas melambangkan masyarakat DKI Jakarta yang heterogen. Jokowi lantas memakai lagi kemeja jenis ini di Pilpres 2014. Pesannya sama, Indonesia negeri majemuk terdiri atas beragam suku dan agama. 

Saat terpilih jadi presiden, Jokowi menyimpan kemeja kotak-kotaknya, menggantinya dengan kemeja putih lengan panjang dipadu celana panjang hitam. Lengan kemeja digelung beberapa lipatan. Pesan yang hendak disampaikan: Pemerintahannya bersih dan ia hadir untuk kerja, kerja, kerja.

Sebagai presiden, ia tergolong jarang pakai jas dan dasi. Benar kata Qaris Tajudin, wartawan gaya hidup Tempo (Tempo, 25/8/2014), Jokowi dengan jas dan dasi ibarat upaya pencangkokan yang gagal. Ada jarak antara "yang dipakai" dan "yang memakai." Jokowi pun sadar akan hal itu. Jas dan dasi hanya untuk acara kenegaraan resmi. Sehari-hari ia tampak nyaman dengan kemeja putih.

Selama hampir lima tahun jadi presiden, Jokowi kerap menyampaikan komunikasi politik lewat busana. Berkali-kali busana yang dikenakannya viral, jadi perbincangan di medsos dan media massa. Kita saksikan, misalnya, Jokowi pakai jaket bomber, jaket ala Dilan hingga jaket Asian Games. 

Menurut Albert Mehrabian, psikolog Armenia keturunan Iran, tanda-tanda visual pegang peran penting dalam menyampaikan pesan. Penanda visual punya pengaruh lebih besar daripada penanda verbal. Jokowi tampaknya mengamini teori itu. 

Maka, penting menyarankannya soal pilihan busana di Pilpres 2019. Pilihan aman, ia kembali ke kemeja kotak-kotak. Atau kemeja putih dengan lengan digelung juga pilihan baik untuk menyampaikan pesan di periode kedua ia hendak melanjutkan semua pekerjaan. 

Jokowi sebaiknya tak tergoda berbusana megah seperti Prabowo dengan stelan putih dan peci hitam ala Bung Karno. Kata kunci yang harus ia pegang dalam berbusana: nyaman dan sederhana. 

Falsafah Jawa mengatakan, ajining diri soko lathi, ajining sariro soko busono. Harga diri seseorang dilihat dari perkataannya, pun penghormatan seseorang dilihat dari busananya. Jokowi pasti paham falsafah ini. Tinggal ia sekali lagi mempraktekkannya di Pilpres 2019.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja             Stop Bakar Uang, Ciptakan Profit             Potensi Korupsi di Sektor Migas             Revisi UU KPK Berpengaruh Langsung terhadap Perekonomian Indonesia             Benahi Governance DPR Untuk Hindari Konflik Kepentingan             Pebisnis Lebih Tahu Masalah Riil di Lapangan             Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri