Cara Terbaik Menjaga Jokowi
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
07 October 2019 13:00
Watyutink.com - Kelompok fanatik anti Jokowi yang berniat menggagalkan pelantikan presiden, 20 Oktober 2019, mendapat respon balik dari fanatiker pendukung Jokowi. Mereka siap pasang badan menjaga dan menghadapi perusuh anti Jokowi. Sementara TNI Polri dan jajarannya sudah lebih dahulu menyatakan siap melibas siapa pun yang hendak menggagalkan hari pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih 2019-2024. 

Pernyataan yang lebih menekankan kesiapan fisik ini wajar bila dilakukan oleh institusi TNI dan Polri. Memang itulah tugas negara yang dibebankan pada mereka. Namun, agak aneh bila pernyataan yang serba fisik ini disuarakan juga oleh berbagai kelompok massa pendukung Jokowi-Ma’ruf. Kesannya sangat menyeramkan, walau mencitrakan sikap yang cukup heroik. Sementara publik awam menjadi bertanya-tanya; emangnya mau ada perang? 

Reaksi para fanatiker Jokowi ini terpompa adrenalin perlawanannya, dipicu oleh gaung suara perlawanan kelompok anti Jokowi di berbagai pemberitaan melalui sosial media. Ditambah lagi ulah politisi gaek Permadi SH, mantan politisi PDIP yang sekarang nyebrang ke kubu Gerindra, yang sejak dulu dikenal gemar bikin heboh dengan pernyataan dan ramalan politiknya yang aneh-aneh. Dalam kaitan pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 20 Oktober 2019, Permadi dengan lantang mengajak massa rakyat secara terbuka agar bergabung dengannya (people power) untuk menggagalkan jalannya pelantikan.

Sangat disesalkan bila para pendukung Jokowi terpancing masuk ke wilayah dilusional ala Permadi. Karena untuk masalah pengamanan dan keamanan negara sebaiknya serahkan saja kepada Polri dan TNI. Menghambat dan menghalangi jalannya pelantikan Presiden dan Wakil Presiden jelas bukan pilihan politik para mahasiswa yang secara massif turun ke jalan beberapa waktu yang lalu. Karena kita semua, termasuk para mahasiswa tahu bahwa Jokowi hanya bisa dilengserkan oleh kebijakan dan ulah politiknya sendiri. 

Ketika rakyat kecewa atas kebijakan politik-ekonomi Jokowi, barulah potensi besar untuk menghadirkan people power menjadi terbuka lebar. Tentunya seperti ketika masalah keadilan dan penegakan hukum dirasakan telah melukai perasaan rakyat. Seperti terjadi ketika pemerintah mensahkan RUU Revisi KPK dan hadirnya sejumlah RUU yang dirasakan para mahasiswa sangat menyakitkan hati dan pikiran mereka. 

Untuk sampai pada tahapan menggelembungnya barisan people power, tentunya beberapa kondisi lain harus pula hadir menunjang. Seperti krisis ekonomi yang sudah diambang pintu bisa menjadi faktor penunjang yang sangat potensial. Ditambah lagi suasana batin masyarakat pasca pemilihan para pimpinan di lembaga legeslatif (DPR, DPD, MPR) yang cukup menebar hawa tak nyaman. Setidaknya pertanyaan; mau dibawa ke mana negeri ini? Merupakan pertanyaan yang tak terucap tapi meroyan di batin dan pikiran masyarakat yang merindukan kualitas lembaga legislatif sebagaimana harapan dan impian.

Dalam keadaan yang sedemikian meningginya kegundahan, masyarakat dihadapkan pada penantian yang menegangkan akan bentuk dan personil Kabinet Kerja jilid dua yang tak lama pasca pelantikan Presiden dan wakil Presiden akan segera diumumkan. Agenda demi agenda kenegaraan, termasuk rencana pemindahan ibu kota yang menuai ketegangan dan kegamangan massal ini, sebenarnya merupakan hal yang sangat tepat dijadikan perhatian paling utama para pendukung berakal sehat maupun para fanatiker Jokowi. 

Maka cara terbaik menjaga Jokowi dapat dilakukan dengan memberinya ekstra kekuatan politik agar Jokowi lebih berkekuatan membebaskan diri dari tekanan para pimpinan partai kolalisi pendukungnya. Dalam kaitan ini para pendukung dan fanatiker Jokowi sebaiknya bersuara lantang untuk memperingatkan para pimpinan partai koalisi untuk menhormati hak prerogatif presiden. Tentunya dalam kaitan kebebasan Jokowi menyusun Kabinet Kerja jilid dua yang sesuai dengan harapan terbentuknya sebuah tim kerja yang merupakan dreams team pilhannya.

Karena pada saat Jokowi mengumumkan anggota kabinet yang kredibelitasnya tidak meyakinkan atau bahkan dianggap sebagai pilihan ‘kartu mati’, bara dalam sekam akan berpotensi berubah menjadi kobaran api besar. Dikhawatirkan menyudahi perjalanan masa jabatannya yang kedua. Jokowi akan menghadapi berbagai gelombang besar politik maupun ekonomi yang akan ganas mengarah ke istana. Saat hal yang tidak kita inginkan terjadi, di saat itulah Reformasi jilid dua kemungkinan besar akan terjadi.

Oleh karenanya, pertaruhan yang besar bagi Jokowi dalam waktu dekat ini adalah menghadirkan sebuah dream team pilihannya yang akan menjadikan Kabinet Kerja jilid dua sebagai lokomotif pengusung harapan. Bukan sebaliknya, loko tua yang menuju jalan buntu dan kekalahan hakiki bangsa dan rakyat Indonesia. Loko tua ini digambarkan sebagai loko warisan Orde Baru dengan kualitas yang lebih buruk dari yang aslinya. Di mana hal ini akan terjadi dan terwujud bila para masinis, kondektur, dan tim kerja di dalam gerbong kereta yang di bawah kendalinya, semua berasal dari kereta Orde Baru maupun mereka yang bermental dan berpola pikir OrdeBaruis.

Mencegah tidak terjadinya hal inilah yang sebenarnya merupakan kerja yang lebih strategis, politis, dan ideologis yang seharusnya dijadikan pilihan kerja menjaga Jokowi ke depan. Termasuk menjaga agar Jokowi tidak ke luar dari rel Trisakti dan Nawacita yang penah dicanangkannya pada saat pertama kali dilantik sebagai Presiden RI di tahun 2014. Kerja besar ini lah langkah strategis yang harus menjadi pilihan para fanatiker dan pendukung Jokowi ketika niat dan tekad menjaga dan mengawal Jokowi dijadikan sebagai tekad dan sikap pilihan.

Gaya siaga ala militer dan berbagai bentuk pernyataan siaga dan siap tetap bersama Jokowi yang sarat akan citra heroik dan gagah-gagahan, rasanya bukan hal yang diperlukan untuk menjaga Jokowi ke depan. Karena musuh besar yang sangat potensial merobohkan kekuasaan Jokowi sebagai Presiden, adanya bukan di luar Jokowi, tapi ada dalam diri Jokowi sendiri. Karena dukungan dan kecintaan mayoritas rakyat kepadanya begitu besar. Mereka loyal, dan mencintai presiden pilihannya.   

Yang menjadi persoalan, apakah Jokowi mampu memelihara kepercayaan dan kecintaan tulus yang diberikan rakyat kepadanya? Dikhawatirkan, terlalu mencintai lingkaran dirinya dan membiarkan dirinya dijauhkan dari rakyat dan harapannya --oleh mereka yang berada dalam lingkaran satu kekuasaan, merupakan bencana yang sulit dibayangkan akibatnya. Yang pasti akan tragis, dramatis, dan tak berakhir indah!

Ayo jaga Jokowi agar benar-benar (genuine) menjadi presidennya rakyat (kecil) di Republik ini! Bukan presidennya para pemilik modal dan para penguasa dan elite partai dengan kekuatan hegemoninya! Inilah cara yang terbaik menjaga Jokowi! 

Ada satu petuah orang bijak yang sengaja saya share untuk Pak Jokowi saat menyusun Kabinet Kerja jilid dua..."Salah pilih bablas, dan kebablasan pasti salah pilih! Maka pilihlah yang seharusnya, bukan karena harus memilih yang tidak menjadi keharusan untuk dipilih!’’

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

YB. Suhartoko, Dr., SE., ME

Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan, Keuangan dan Perbankan Unika Atma Jaya Jakarta

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

FOLLOW US

Investor Tak Terpengaruh Prediksi Ekonomi RI             Moody’s Tak Tahu Jeroan Indonesia             Ada  Gap, Ada Ketimpangan             Prioritas Utama Tingkatkan Pertumbuhan             Dana Desa Berhadapan dengan Kejahatan Sistemik             Pembangunan Desa Tidak Bisa Berdiri Sendiri             Harus Disadari, Korupsi akan Mengikuti Kemana Uang Mengalir             Banyak Hal Harus Dibenahi dengan kebijakan Strategis dan Tepat             Pertumbuhan Konsumsi Berpotensi Tertahan             Amat Dibutuhkan, Kebijakan Pertanian yang Berpihak pada Petani!