Cukai Rokok Selamatkan Perokok
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
17 September 2019 15:15
Watyutink.com - Mang Udin, panggilannya sehari-hari, bisa menghabiskan Rp100.000-an per hari untuk rokok. Petani di Bogor Barat ini melahap dua-tiga bungkus, tergantung banyak sedikitnya pekerjaan hari itu. Saat  pekerjaan sedang padat, tiga bungkus rokok ludes. Dia tidak sendiri. Anaknya juga perokok aktif, dapat jatah rokok darinya.

Dia sadar kalau uang sebanyak itu bisa berarti banyak jika dibelanjakan untuk kebutuhan rumah tangga. Beras, minyak, sayur, telur, ikan, dan lain-lain. Di luar itu, dia masih bisa menyekolahkan anaknya ke jenjang pendidikan lebih tinggi. “Tapi bagaimana ya, pusing kalau enggak merokok”

Jawaban klise dari perokok berat. Tidak ada ruang untuk beragumentasi, semua berdasarkan perasaan, kebiasaan, dan ego. Nyaris tidak ada celah untuk mengajaknya berpikir logis mengurangi konsumsi rokok, apalagi sampai berhenti merokok sama sekali.

Untuk kelompok die hard seperti Mang Udini ini, strategi untuk mengurangi konsumsi  rokok tidak lagi melalui edukasi tetapi dengan menaikkan harga rokok setinggi-tingginya. Melalui instrumen cukai, pemerintah dapat menetapkan berapa persen kenaikannya hingga mencapai level di mana masyarakat miskin tidak mampu lagi membelinya.

Hal ini yang dilakukan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati saat mengumumkan kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23 persen per 1 Januari 2020. Sedikitnya ada tiga alasan mengapa tarif cukai harus dinaikkan, salah satunya adalah mengurangi konsumsi rokok.

Satu penelitian yang digelar pada 2013 menyingkap temuan mengenai berapa harga rokok yang tidak ingin lagi dibeli oleh konsumen?  Rp50.000 per bungkus. Jawaban ini bukan tanpa dasar. Hasil diskusi kelompok Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI) dengan sejumlah perokok pada 2013 menyiimpulkan hal tersebut.

Dengan mempertimbangkan inflasi sekitar 3,5 persen per tahun, harga rokok saat ini yang tidak ingin lagi dibeli oleh perokok sekitar Rp61.500 per bungkus dengan isi 20 batang, atau Rp3.075 per batang. Untuk mencapai harga setinggi itu, pemerintah perlu menaikkan harga acuan rokok dan tarif cukai tiga kali lipat dari yang berlaku sekarang.  Sayangnya, Menkeu hanya berani menaikkan 23 persen.

Kenaikan tarif cukai rokok sebesar 23 persen dan kenaikan harga eceran tertinggi 35 persen hanya akan membuat harga tertinggi rokok sebesar Rp35.000 per bungkus, belum mencapai level dimana perokok masih belum menghentikan konsumsinya.

Selain menaikkan harga jual eceran dan cukai, pemerintah bisa menyusun strategi lain yakni dengan menyederhanakan tarif dan mempersempit disparitas harga patokan tertinggi dan terendah. Saat ini gapnya sangat lebar. Harga tertinggi ditetapkan Rp1,200 per batang, sementara untuk sigaret kretek tangan (SKT) Rp400 per batang. Dengan disparitas yang tinggi, perokok masih bisa beralih ke rokok yang lebih murah, sehingga kebijakan menaikkan cukai untuk mengendalikan konsumsi tembakau kurang efektif. Kisarannya harus dibuat sempit.

Indonesia tergolong negara yang menerapkan rezim cukai rokok relatif rendah. Data Kementerian Keuangan menyebutkan rata-rata cukai sebesar 35,1 persen. Jika dirinci masing-masing kategori untuk sigaret kretek mesin (SKM) sebesar 47 persen, sigaret putih mesin (SPM) 43,5 persen, sigaret kretek tangan (SKT) 28,4 persen.

Pasal 5 UU No 39/2007 menetapkan barang kena cukai berupa hasil tembakau dikenai cukai berdasarkan tarif paling tinggi untuk yang dibuat di Indonesia sebesar 275 persen dari harga jual pabrik; atau 57 persen dari harga jual eceran. Namun dalam praktiknya jauh panggang dari api.

Sebenarnya ada peran lain dari cukai yang tidak banyak diungkapkan, yakni menyelamatkan nyawa perokok. Kenaikan tarif cukai di beberapa negara mampu menekan jumlah kematian. Vietnam, misalnya, menaikkan tarif cukai dari 36 persen ke 72 persen dari harga rokok mampu menyelamatkan 5.921 nyawa setelah 20 tahun.

Selain itu, China menaikkan harga jual rokok 1 RMB atau dari 40 persen menjadi 51 persen dari harga ritel menyelamatkan 1 juta jiwa dari para perokok saat ini. AS menaikkan 10 persen cukai rokok mampu menyelamatkan 5.000 jiwa per tahun.

Masih ada negara lain seperti India, Albania, Federasi Rusia, Argentina, termasuk Indonesia yang jika menaikkan tarif cukai rokok menjadi 70 persen dari harga eceran maka dapat menyelamatkan 2,5 juta jiwa perokok saat ini.

Jika tidak ada kenaikan cukai yang drastis dan mengurangi disparitas antara harga patokan tertinggi dan terendah rokok, maka peluang untuk mengurangi konsumsi rokok hanya isapan jempol. Konsumsi tidak akan berkurang. Lalu bagaimana nasib masyarakat miskin seperti Mang Udin?

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

FOLLOW US

Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia             Ekonomi Digital Jadi Pelengkap Saja