Dicari: Penutur Kisah Krisis Iklim
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
07 September 2019 10:00
Watyutink.com - “Restoring Indonesia’s Peatlands to Their Natural Soggy Glory” adalah sebuah artikel panjang yang ditulis Daniel Grossman, seorang jurnalis. Tulisan sebanyak 2100 kata itu sangat rinci dan penuh warna kehidupan karena ia terjun langsung ke lapangan dengan dukungan Rainforest Journalism Fund dan Pulitzer Center.

Grossman berkisah tentang lahan gambut Indonesia di masa lalu dan bagaimana pertanian ala Barat, yaitu sistem lahan kering, yang dipaksakan oleh para penjajah ternyata tidak tepat dan menyebabkan lahan gambut menjadi kering dan mudah terbakar. Kebakaran hutan dan lahan mengeluarkan gas karbon dioksida, pemicu pemanasan global, sehingga Indonesia terus menjadi sorotan dunia.

Diceritakannya bagaimana Abdul Manan, petani sagu di lahan gambut yang terletak di Desa Sungai Tohor Provinsi Riau, bekerja keras membuat satu ton mie sagu per bulan untuk mendapatkan penghasilan. Grossman juga menjelaskan pernyataan Presiden Jokowi ketika berkunjung ke Desa Sungai Tohor baru-baru ini bahwa konversi hutan menjadi perkebunan industri yang rawan kebakaran harus dihentikan. Sebagai gantinya, lahan diberikan kepada keluarga petani untuk menanam sagu.

Bertutur tentang berbagai kisah, sekarang dianggap sebagai bagian dari solusi krisis iklim. Fakta dan data saja, tulis Mauro Buonocore di situs web Climate Foresight, tidak cukup untuk membuat masyarakat sadar akan perubahan iklim.  Guna mendapatkan perhatian penuh dan membuat masyarakat paham, perlu penuturan kisah atau storytelling yang menggugah.

Buonocore mewawancarai  Profesor Dan Fagin dari New York University, peraih Hadiah Pultzer 2014 untuk bukunya “Toms River: A Story of Science and Salvation.” Buku nonfiksi ini berisi kisah nyata tentang bagaimana selama 60 tahun sebuah kota kecil dirusak oleh polusi industri sehingga banyak anak-anak terkena kanker.

Toms River merangkum pelaporan investigasi yang tajam, kisah detektif ilmiah yang menarik, penelitian sejarah yang mendalam, dan tokoh yang mengesankan ke dalam narasi besar yang membuat pembacanya bertanya: “Mungkinkah hal itu terjadi juga di kota saya?”.

Menurut Fagin, orang tidak akan ingat informasi dan data  yang tidak menarik karena tidak beresonansi secara emosional. Jika ingin masyarakat mengingat sesuatu, dan pada akhirnya menindaklanjutinya, isi informasi harus berbentuk cerita,  narasi dengan karakter dan drama yang terjalin dengan benang merahnya.

Ia menyarankan tiga pendekatan untuk bertutur tentang krisis iklim. Pertama adalah bercerita tentang solusi dan bagaimana cara bertahan dalam menghadapi perubahan iklim. Kedua, berbicara dari sisi pembangunan dan transisi ke arah ekonomi rendah karbon seperti melalui pekerjaan, inovasi dan teknologi canggih.  Ketiga adalah berbincang tentang pengendalian, yaitu menjadi peserta aktif dalam memperbaiki Planet Bumi.

Majalah ternama National Geographic saat ini sedang mencari jurnalis, fotografer, pembuat film, pembuat peta, visualisator data, dan penutur (storyteller). Mereka diharapkan dapat  menggambarkan kerugian yang akan terjadi jika hutan hujan tropis serta flora dan fauna yang menjadi penghuninya tidak dilindungi. Selain itu, yang juga dapat menyoroti solusi potensial guna menciptakan perbaikan nyata yang berkelanjutan.

Krisis iklim, kata Dan Fagin, bukanlah kisah bahagia, karena kenyataannya memang menyedihkan. Dalam hal ini, dua minggu lalu sebuah kisah duka dituturkan di hampir semua media masa nasional.

Asmara bin Rifai, seorang anggota Manggala Agni, Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, gugur dalam tugas di usia 39 tahun. Ia meninggalkan Rohmini isterinya serta Arta dan Azura, kedua anaknya.

Asmara gugur setelah tertimpa pohon yang tiba-tiba roboh saat hendak mengambil air untuk memadamkan api di Taman Hutan Raya Sultan Thaha Syaifuddin, Jambi. Pengorbanan Sang Pahlawan Langit Biru ini perlu dituturkan dengan bijak dan penuh hormat, diiringi doa dan ikhtiar agar tidak ada lagi korban yang jatuh.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Robin, S.Pi., M.Si.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sukabumi, Kandidat Doktor IPB, Tenaga Ahli Komisi IV DPR-RI

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik