'Green Job' di Masa Pandemi
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 06 May 2021 17:00
Watyutink.com - “Green job” atau pekerjaan ramah lingkungan, menurut Badan PBB untuk Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), adalah pekerjaan layak yang dapat meningkatkan efisiensi energi dan bahan baku, membatasi emisi gas rumah kaca dan mendukung adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Juga pekerjaan yang mengurangi limbah dan polusi, serta melindungi dan memulihkan ekosistem.

Beberapa jenis pekerja ramah lingkungan yang menonjol termasuk petani di perkotaan, teknisi kualitas air, pelaku usaha daur ulang, perekayasa dan ilmuwan lingkungan, mekanik kendaraan listrik, desainer produk ramah lingkungan, dan teknisi panel surya. 

Di awal tahun ini, ILO baru saja mengeluarkan sebuah laporan berjudul “Green Jobs and a Just Transition for Climate Action in Asia and the Pacific.” Intinya, Wilayah Asia-Pasifik dapat mempercepat transformasi ke masa depan yang rendah karbon, melalui penciptaan lapangan kerja yang terkait dengan energi bersih dan kegiatan mitigasi perubahan iklim - jika penduduk lokal, terutama generasi muda, diberikan keterampilan dan pelatihan yang tepat.

Menurut perhitungan ILO dalam laporan tersebut, pada tahun 2030 ada tambahan lebih dari 14 juta “green job” yang dapat diciptakan di wilayah Asia Pasifik. Ini memungkinkan jika ada peralihan ke sumber energi terbarukan, peningkatan standar efisiensi energi untuk gedung dan konstruksi,  serta penggunaan transportasi dengan energi terbarukan.

Namun, musibah pandemi yang melanda telah menjadikan dunia kerja porak poranda.  Virus Corona membuat lebih dari 1,6 miliar pekerja di sektor informal, yaitu setengah dari jumlah tenaga kerja global, terancam penghidupannya.

Data mutakhir ILO menunjukkan lebih dari 436 juta perusahaan di dunia menghadapi risiko tinggi atas disrupsi yang parah. Perusahaan-perusahaan ini beroperasi di sektor ekonomi yang paling terpukul, termasuk grosir dan eceran, manufaktur, akomodasi dan layanan makanan, maupun real estate.

Dalam kondisi prihatin seperti sekarang, pantaskah membicarakan green job?

Pada perayaan Hari Bumi minggu lalu, pesan para aktivis dan ilmuwan di seluruh dunia, seperti ditulis Harian New York Times, sangat jelas. “Ketika krisis kesehatan ini berlalu, para pemimpin dunia harus membangun kembali ekonomi global di jalur yang lebih sehat dan lebih berkelanjutan.”

Peluang untuk green job di Indonesia pada masa pandemi dapat ditinjau dari berbagai kebijakan pemerintah yang telah dikeluarkan untuk  menangani Covid-19, termasuk pandangan Presiden bahwa sejumlah kementerian memiliki program-program yang pelaksanaannya dapat dikaitkan dengan padat karya tunai.

Sebagai contoh, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat menganggarkan sepuluh triliun rupiah bagi program padat karya tunai di 34 provinsi, termasuk penataan kota tanpa kumuh, tempat pengelolaan sampah “reduce, reuse, recycle,” dan pengembangan infrastruktur sosial ekonomi wilayah.

Farida Zaituni, seorang profesional di sebuah Badan Usaha Milik Negara yang menangani pembiayaan infrastruktur mengatakan, green job yang penting di masa pandemi dan juga kedepannya adalah pengelolaan limbah, termasuk limbah medis, karena apapun jenis limbah, jika tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan petaka.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengalokasikan anggaran lebih dari satu triliun rupiah untuk mendukung program Bantuan Sosial atau Bantuan Pemerintah kepada masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan hutan, terutama kelompok tani hutan dan kelompok perhutanan sosial, serta petugas yang mengabdi di bidang lingkungan hidup dan kehutanan yang terkena dampak pandemi.

Covid-19 adalah tragedi umat manusia, dan tindakan darurat untuk mengendalikan virus dan membantu mereka yang menghadapi krisis ekonomi, sosial maupun kesehatan merupakan prioritas.  Namun demikian, masalah lingkungan, terutama perubahan iklim tetap harus ditangani karena kondisi bumi kini semakin parah.

Penanganan virus corona di seluruh dunia memberikan pelajaran berharga yang dapat diterapkan untuk menyikapi krisis iklim. Dalam mengatasi pandemi, dan perubahan iklim, yang tidak mengenal batas Negara, informasi ilmiah tidak boleh diabaikan dan keterlambatan dalam pengendaliannya akan menimbulkan nestapa tiada akhir.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF