Gurihnya Harga Daging Sapi
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
22 January 2021 15:05
Watyutink.com - Masyarakat baru menikmati kembalinya tempe dalam menu makan mereka, kini harus kehilangan daging sapi. Dalam beberapa hari terakhir pedagang daging sapi mogok berjualan. Mereka serentak berhenti menjajakan lantaran harganya melambung tinggi.

Kejadiannya sama dengan tempe. Baru-baru ini harga kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe dan tahu melonjak naik hingga 50 persen. Akibatnya, produsen harus menaikkan harga jual atau memperkecil ukuran. Keduanya memiliki risiko tidak dibeli konsumen. Akhirnya mereka memilih berhenti memproduksi.

Produsen tentu kehilangan penghasilan saat tak berproduksi. Tetapi keputusan ini masih lebih baik ketimbang memaksa tetap berproduksi, kerugiannya akan lebih besar. Modal untuk membuat tempe atau tahu menjadi tinggi, sementara permintaan berkurang drastis. Apalagi di tengah merosotnya daya beli masyarakat.

Pedagang daging sapi mengambil keputusan rasional yang sama dengan produsen tempe. Ketimbang merugi, lebih baik tidak berdagang, sampai harga daging sapi kembali ‘normal’ agar dapat meraup sedikit keuntungan yang tersisa antara harga jual dan harga beli dari distributor.

Mereka sudah lama menghadapi masalah rantai tata niaga panjang di komoditas tersebut. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab mengapa harga daging sapi cenderung tinggi dan jarang sekali turun.

Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi, Indonesia masih bergantung kepada negara lain. Australia tercatat sebagai pemasok terbesar. Sapi dari Negeri Kanguru ini didatangkan dalam keadaan hidup sebagai bakalan untuk digemukkan di Tanah Air. Di samping itu, ada juga dalam bentuk daging beku.

Sapi dari Australia ini tidak serta merta bisa dinikmati konsumen di Tanah Air. Rantai tata niaga panjang harus dilalui sebelum menjadi menu favorit di meja makan. Sapi impor masuk melalui feedloter, lalu ke Rumah Potong Hewan (RPH), ke ritel, baru masuk ke konsumen akhir.

Masalahnya, dari feedloter ke RPH ada perantara pemburu rente. Dari RPH ke ritel juga ada mediator, dan seterusnya. Akibatnya, harga menjadi tinggi di tingkat pedagang. Surplus yang seharusnya dinikmati penjual sudah banyak termakan oleh mereka. Pedagang tidak berani menaikkan harga lebih tinggi lagi karena akan kehilangan konsumen.

Berharap penurunan harga daging sapi dari peternak lokal juga tidak banyak membantu. Biaya produksi di peternakan rakyat tinggi karena skalanya kecil-kecil. Di samping itu, banyak perantara yang membuat harga akhir di tingkat konsumen semakin mahal.

Di luar soal rantai tata niaga panjang, Indonesia belum memiliki data akurat mengenai seberapa besar sebenarnya konsumsi daging sapi di Tanah Air.  Data antarkementerian berbeda. Kementerian Koordinator Perekonomian mencatat 2,61 kilogram per kapita per tahun, sementara Kementerian Pertanian menyebutkan hanya 1,75 kilogram per kapita per tahun.

Data konsumsi daging sapi mempunyai implikasi pada data kebutuhan daging sapi nasional. Jika dalam masalah data saja sudah berbeda, bagaimana menentukan kuota impor. Sapi yang didatangkan dari luar negeri bisa menjadi kurang dari kebutuhan sebenarnya sehingga memicu kelangkaan yang mendorong harga naik. Atau situasi ini sengaja dipelihara oleh oknum pejabat pemerintah?

Dilihat dari tingkat konsumsi, kebutuhan masyarakat akan daging sapi masih akan meningkat lagi. Indonesia menempati nomor buncit dalam urusan konsumsi daging sapi di tingkat global. Badan Pusat Statistik mencatat hanya 2,56 kilogram per kapita per tahun pada 2019. Negara jiran Malaysia mengkonsumsi 8,5 kilogram daging sapi per kapita per tahun, Vietnam 8,9 kilogram, dan Filipina 3 kilogram.

Negara-negara di Amerika Selatan tercatat sebagai pemakan daging terbanyak. Uruguay berada di urutan atas, disusul oleh Argentina, Paraguay dan Brasil. Masyakarat di dua negara pertama menghabiskan daging sapi lebih dari 40 kilogram per kapita per tahun.

Untuk mengejar tingkat konsumsi paling dekat, misalnya Filipina yang menghabiskan 3 kilogram per kapita per tahun, daging sapi yang dibutuhkan masyarakat Indonesia masih akan sangat banyak. Kebutuhan tinggi ini berpotensi dijadikan sasaran empuk oleh oligarki untuk menguasai tata niaga sapi, didukung oleh oknum pejabat pemerintah melalui regulasi pengaturan kuota impor.  

Indonesia sebenarnya bisa bebas dari fluktuasi harga daging sapi yang mencekik leher rakyat. Caranya, benahi sektor hulu peternakan sapi dengan memperbaiki bisnis peternak rakyat.  Pemerintah harus mendukung sepenuhnya peternak rakyat sehingga perlahan-lahan populasi sapi meningkat. Dengan begitu kemungkinan harga daging sapi bisa ditekan lebih rendah.

Pemerintah hanya perlu menunjukkan political will untuk membangun peternakan rakyat guna memenuhi kebutuhan protein masyarakat. Jika pada komoditas kedelai Presiden Joko Widodo memerintahkan para pembantunya agar menyiapkan 1 juta ha lahan untuk ditanami pohon kedelai supaya produksi lokal dapat memenuhi kebutuhan nasional, apakah kebijakan yang sama akan diberikan untuk daging sapi?  

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI